220000 Klasis Blora-Bojonegoro

Pembiakan dari , -
d/a. GKJ Cepu,
Jl. Diponegoro No.56A
Cepu - 58312
Telepon: 0296421417 Email: Klasis@
Gereja Dewasa: 9 Pepanthan: 25 Blok/Wilayah: 10/3
Pendeta L: 9  Pendeta P: 2  Jumlah Pendeta: 11
Vikaris: 0  Pendeta Emeritus: 3
KK: 780  Warga Dewasa: 2.288  Warga Anak: 760  Jumlah: 3.048


220100 GKJ Tuban

Tanggal Pendewasaan: 14 Agustus 1950
Alamat: Jl. Jend. Basuki Rahmad 203,
Tuban - 62313
Telepon: 0356324286 Email: gkjtuban@gmail.com
Pepanthan: 3 Blok/Wilayah: 5/0
Pep. Leran; Pep. Semanding; Pep. Rengal - Loko
Pendeta L: 2Pendeta P: 0 Jumlah: 2
Pdt. Jupiter Habibuw, B.Th.; Pdt. Lilik Kristiawan, S.Si.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
KK: 152 Warga Dewasa: 432 Warga Anak: 115 Jumlah: 547

Profil dan Sejarah

Cikal bakal jemaat GKJ Tuban berawal dari orang-orang yang terpanggil dalam pelayanan dalam bidang kesehatan di Tuban (diawali gadis Soentjani (Segaran-Mojowarno) th, 1925 yang menikah dengan Pemuda Darmowinoto (Guru rakyat dari Kediri)), disusul saudara-saudara dalam Kristus dari Jomban, Blora. Dalam pemeliharaan Rohani menginduk di GKJTU Bojonegoro (Pdt. Hansen , dilanjutkan Pdr. Paul Kroh, - Salatiga Zending). Dilanjutkan Pdt. Raden Soetjipto (GKJTU Bojonegoro).
Jaman Jepang, jemaat Kristen Tuban memisahkan diri dari GKJTU, mereka belajar mandiri dengan saling melayani satu dengan lainnya (yang akhirnya menjadi dasar ingin dilayani oleh GKJ). Dengan bertambahnya tahun dan pelayanan yang ada, jumlah orang Kristen di Tuban berkembang menjadi 50 jiwa (5 KK, 15 dewasa, anak-anak). Dan pada tahun 1950 (14 Agustus) jemaat Kristen Tuban menyatakan diri sebagai jemaat dewasa yang mandiri (dijadikan hari pendewasaan GKJ Tuban). Dan dalam Sinode Kesatuan, mereka dilayani kembali oleh GKJTU Bojonegoro. Namun setelah Sinode Kesatuan pecah lagi, jemaat mandiri Tuban mengambil keputusan bergabung dengan Gereja Kristen Jawa, Pdt. R. Soetjipto akhirnya menyerahkan keberadaan jemaat (kelompok) Kristen Tuban kepada GKJ (Kalsis Blora-Bojonegoro)

1 Juni 1953 Deputat Pemasyuran Injil Klasis Blora-Bojonegoro mengutus Guru Injil Soeratmin Tjipto Joewono (Kaliceret), untuk melayani jemaat GKJ Tuban yang baru mandiri.  Setelah diutus jemaat mengikuti kursus aplikasi di Akademi Theologi Jogjakarta, 17 Nopember 1959 Guru Injil Soeratmin Tjipta Joewana ditahbiskan sebagai Pendeta GKJ Tuban, didampingi 4 Majelis (bp. Wagino Martodarsono, bp. Joesoep Martodihardjo, bp. Toegirin Darmohoesodo, bp. Mirmanoe Darmoredjo) dengan jumlah jemaat tercatat sebanyak 96 jiwa.
Dalam perkembangannya, GKJ Tuban juga bergerak dalam bidang pendidikan dengan merintis dan mendirikansekolah Farming Menengah Atas Kristen (yang sekarang menjadi SMK Pelayaran Kristen Tuban).


jpg220200 GKJ Cepu

Tanggal Pendewasaan: 16 Juni 1954
Alamat: Jl. Diponegoro No.56A,
Cepu - 58312
Telepon: 0296421417 Email: gkj.cepu@yahoo.co.id
Pepanthan: 5 Blok/Wilayah: 0/0
Pep. Ngraho; Pep. Sambeng; Pep. Sorogo; Pep. Sambong; Pep. Gadu
Pendeta L: 1Pendeta P: 1 Jumlah: 2
Pdt. Drs. Sri Handoyo; Pdt. Tata Mira Dewi Istanti, S.Si.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 1
-; Pdt. Em. Kasehan Setyopranoto
KK: 251 Warga Dewasa: 404 Warga Anak: 233 Jumlah: 637

Profil dan Sejarah

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai para pahlawannya. Para pahlawan nasional dapat dikenal lewat sejarah nasional Indonesia, tanpa mempelajarinya dan memahami sejarah nasional akan sulit mengenal siapakah para pahlawan yang benar.
Demikian pula dalam ruang lingkup Gereja Kristen Jawa Cepu, agar warga Gereja Kristen Jawa dapat mengenal para pendahulu, pejuang, para "Pahlawan" Gereja Kristen Jawa Cepu, maka perlu sekali setiap warga GKJ Cepu, mempelajari, memahami sejarah Gereja Kristen Jawa Cepu.
Presiden Republik Indonesia pertama  yaitu Ir. Soekarno pernah berpesan kepada bangsa Indonesia demikian

"jangan sekali-kali meninggalkan sejarah".

II. ASAL MULA GEREJA KRISTEN JAWA CEPU
Tahun 1949
1. Adanya kelompok orang-orang Kristen di Cepu
Berdasarkan pengumpulan data dari para narasumber dan sekaligus sebagai pelaku-pelaku sejarah yaitu Bapak S. Hadiprayitno, Bapak Sisman Hadipranoto, Ibu Frans dan Ibu Wirjosutedjo (data 1949-1959) baik data tertulis maupun keterangan-keterangan secara lisan menyebutkan bahwa di Cepu tahun 1949 sudah banyak orang Kristen terdiri dari orang Jawa, orang luar Jawa, orang Cina dan orang Belanda, kebanyakan pegawai-pegawai BPM (Bataafshce Petroleum Maatshcappij). Mereka sebenarnya ingin sekali berkumpul bersama-sama memuji nama Tuhan, berdoa dan membaca firman Tuhan, tetapi belum ada gedung gereja.

2. Timbulnya kebaktian yang pertama
Pada suatu hari mereka berunding dan sepakat mengadakan kebaktian dan bertempat di rumah Ibu Frans, Jalan Stasiun Ngareng, sekarang gedung GKI. Diantaranya ada ibu-ibu bidan dan mantri-mantri rumah sakit bersalin. Kebaktian di sini berbeda dengan kebaktian sekarang, karena waktu itu mereka berkumpul bersama memuliakan nama Tuhan dan membaca Kitab Suci, berdoa dipimpin oleh salah satu di antara mereka yang dipandang mampu antara lain Bapak S. Hadiprayitno.

Pada suatu hari, ada seorang bidan Kristen di RS Cepu, bernama Djaitun meninggal dunia karena sakit. Dia asli dari Ngaringan Wirosari, tidak punya keluarga di Cepu. Di antara orang-orang Kristen di Cepu tidak ada yang bisa merawat jenasah dan upacara kematian. Bapak S. Hadiprayitno minta bantuan Gereja Kristen di Blora. Bapak Pendeta Tirto Soewarno dan Majelis Gereja Blora datang di Cepu.
Selesai upacara penguburan, Bapak Pendeta mengajak saudara-saudara seiman pergi ke RS Cepu lagi dan di situlah Bapak Pendeta mengatakan bahwa kebaktian hari Minggu harus berjalan. Bapak S. Hadiprayitno diminta yang melayani karena belum ada petugas khusus. Tugas dilaksanakan bergantian dengan Bapak Kasmin Darmosoewito. Sedang Bapak Pendeta Blora melayani kebaktian satu kali satu bulan, tempat kebaktian di rumah Ibu Frans.

3. Terbentuknya Sinode Kesatuan
Pada tahun 1949 terjadilah persatuan antara Gereja-gereja Kristen Jawa Tengah Selatan (GKJTS) dan Gereja-gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU), membentuk Sinode Kesatuan dengan nama Sinode Gereja-gereja Kristen Jawa dan memakai Tata Gereja Presbiterial.
Gereja-gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU), setelah menjadi satu Sinode, menganut Tata Gereja Presbiterial dan dibagi menjadi 3 klasis yaitu :

1. Klasis Semarang, meliputi wilayah Kabupaten Semarang, Kotapraja Salatiga, Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Kendal. Tegal masuk Klasis Banyumas

2. Klasis Purwodadi, meliputi Kabupaten Grobogan termasuk Kaliceret, Purwodadi, Tempurung

3. Klasis Blora, meliputi Kabupaten Blora, Rembang, Bojonegoro, Tuban, Lamongan Gereja yang sudah mandiri ialah Blora dan Bojonegoro (Sumber : Materi ceramah Ds. R. Wirjosoetedjo pada Sidang Klasis Blora-Bojonegoro, 10 Mei 1978 di Pulo)

4. Lahirnya Klasis Blora-Bojonegoro
Setelah Klasis Blora mengadakan rapat (sidang) pertama, nama Klasis Blora tidak dapat diterima karena ada 2 gereja mandiri yaitu Blora dan Bojonegoro, maka akhirnya disepakati nama klasis yang semula Klasis Blora sekarang namanya Klasis Blora-Bojonegoro. 


220300 GKJ Rembang

Tanggal Pendewasaan: 24 Oktober 1954
Alamat: Jl. M.H. Thamrin No.1,
Rembang - 59212
Telepon: 0295691452 Email: Gereja@
Pepanthan: 4 Blok/Wilayah: 0/0
Pep. Sudan; Pep. Kragan; Pep. Segoromulyo; Pep. Pamotan
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Yusup Pamudji, S.PAK.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 1
-; Pdt. Em. Djamhoeri Susetya Hadiwardoyo
KK: 151 Warga Dewasa: 314 Warga Anak: 105 Jumlah: 419


220400 GKJ Pulo Kedungtuban

Tanggal Pendewasaan: 09 Agustus 1959
Alamat: d/a. SMP Kristen 4,
Pulo Kedungtuban,
Blora - 58381
Telepon: 0296423559 Email: Gereja@
Pepanthan: 2 Blok/Wilayah: 1/0
Pep. Betekan; Pep. Kapuan
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Antonius Slamet Sukemi
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
KK: 62 Warga Dewasa: 143 Warga Anak: 60 Jumlah: 203


jpg220500 GKJ Randublatung

Tanggal Pendewasaan: 28 Februari 1961
Alamat: Gang Branjangan No.11,
Wulung, Randublatung,
Blora - 58382
Telepon: 0296810179 Email: Gereja@
Pepanthan: 2 Blok/Wilayah: 0/3
Pep. Mulyorejo; Pep. Menden
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Budi Setiawan, S.Si.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
KK: 46 Warga Dewasa: 103 Warga Anak: 25 Jumlah: 128

Profil dan Sejarah

GKJ Randublatung hingga Agustus 2010 belum berpendeta. Sejak Pendeta pertamanya Pdt. S. Adisoediro emiritus pada 18 November 1999. Adapun penyebabnya adalah karena belum siap secara finansial.

Sejak Tahun 2008 bermitra dengan GKJ Jakarta dalam upayanya memanggil seorang pendeta. Saat ini (2010) Pdt. Antonius Slamet Sukemi ditunjuk sebagai Pendeta Konsulen oleh Sidang Klasis Blora-Bojonegoro.


220600 GKJ Blora

Tanggal Pendewasaan: 19 Oktober 1963
Alamat: d/a. Bp. Djoko Suhardjo, S.Pd.,
Kepala SLTP Kristen I Blora,
Jl. Dr. Sutomo No.44D,
Blora - 58211
Telepon: 0296531387 Email: Gereja@
Pepanthan: 5 Blok/Wilayah: 0/0
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Kuncowinarto, S.PAK.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
KK:  Warga Dewasa: 588 Warga Anak: 127 Jumlah: 715

 


220700 GKJ Lasem

Tanggal Pendewasaan: 06 Nopember 1968
Alamat: Jl. Setasiun No.I/2,
Lasem, Kab. Rembang - 59271
Telepon: 0295531582 Email: Gereja@
Pepanthan: 2 Blok/Wilayah: 0/0
Pep. Sale; Pep. Gepuro
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Nindya Iswara, S.Th.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 1
-; Pdt.Em.Ag.Nindyapramana, Sm.Th.
KK: 60 Warga Dewasa: 173 Warga Anak: 45 Jumlah: 218


220800 GKJ Singgahan

Tanggal Pendewasaan: 06 September 1969
Alamat: Jl. Pasar Tunggulrejo No.19,
Desa Tunggulrejo RT.08 RW.03,
Kec. Singgahan,
Kab. Tuban - 62361
Telepon:  Email: Gereja@
Pepanthan: 1 Blok/Wilayah: 0/0
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Juli, S.PAK.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
KK: 28 Warga Dewasa: 56 Warga Anak: 30 Jumlah: 86


jpg220900 GKJ Japah

Tanggal Pendewasaan: Tahun 1971
Alamat: Jl. Japah-Todanan KM.1,
Kec. Japah,
Kab. Blora - 58257
Telepon:  Email: sem.gkjjapah@gmail.com
Pepanthan: 1 Blok/Wilayah: 4/0
Pep. Gabeng
Pendeta L: 0Pendeta P: 1 Jumlah: 1
Pdt. Sih Ell Mirmaningrum, S.Th.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
KK: 30 Warga Dewasa: 75 Warga Anak: 20 Jumlah: 95

Profil dan Sejarah

Periode 1 (tahun 45-sebelum tahun 65-an)
Dusun Gabeng, desa Pengkolrejo, itulah tempat pertama (+- tahun 1945) Injil disemai di daerah Japah oleh tentara Belanda. Pada waktu itu Belanda sudah kalah, tetapi karena terbeban untuk menabur Injil, maka beberapa "landa apikan" yang kembali dan memperkenalkan penduduk desa pada Injil Kristus (kembalinya beberapa tentara Belanda itu disebut dengan "landa mbalikan" itulah yang diingat oleh beberapa "jemaat sepuh" sebagai tonggak berdirinya jemaat Tuhan di Gabeng.)

Jemaat awal terdiri dari Bapak Sumijan (kakek Bapak Slamet), Bapak Kamin (orang tua Bapak Basmin), Bapak Tas (orang tua Mbah Jami), Bapak Jas (orang tua bu. Darmi), dan Bapak Wiryo.   Setelah Belanda menyemai benih Injil, benih Kekristenan itu kemudian dirawat oleh Mbah Dhe (Tionghoa yang berdagang di Japah dan juga menabur Injil di Japah), Bapak Joyo (pelayan GKJTU yang berasal dari Sambonganyar),  Mbah Suryo (awalnya pelayan GKJTU tapi akhirnya menjadi pendeta pertama GKJ Japah),  Bapak Timotius, dll  (para pelayan GKJTU).

Sementara itu di sekitar pasar Japah, Bapak Elkana / Mbah Dhe / Mbah Brengos / Cong Yu (pedagang Tionghoa yang juga ikut memelihara bertumbuhnya Injil di Gabeng)  pada tahun 60-an datang untuk berdagang di pasar Japah. Setiap sore hari Mbah Dhe (demikian jemaat awal menyebutnya) selalu mengumpulkan keluarganya untuk melaksanakan kebaktian keluarga, berdoa dan memuji Tuhan. Ini menyebabkan beberapa orang penasaran dan ingin mengenal rahasia sukacita mereka. Mereka yang tertarik dan kemudian menjadi pengikut Kristus yang pertama adalah Mbah Suro Surat (bapaknya Bu. Nyami-anaknya 7 orang, sampai kini anak-anak keluarga ini tetap menjadi pengkut Kristus) disusul kemudian Mbah Darmo (perhutani Ngrowo,  yang rumahnya kemudian dijadikan dipakai untuk ibadah), Mbah Suro Surat (Bogem, bapaknya Bapak Bambang), Mbah Surat (Bogem, bapaknya Bapak Naryo), Mbah Din (bapaknya Bapak Ngadi), Mbah Karmi (masih hidup tapi tidak ke gereja lagi), Mbah Setu Sapon (mati dengan tidak mempunyai keturunan), Mbah Setu (lurah, meninggal dan anak-anaknya tidak ada yang ke gereja), Mbah Sepon (japah), Mbah Sumo Tas (carik Thekel), Mbah Domo, mbah Joyo Sarmidi, Mbah Karbu (ngrowo), Mbah (depan gereja), Mbah (depan bu. Peno), Mbah (sampingnya Mbah Peno).

Periode 2 (tahun 65-74)
Berikutnya ketika tragedy 65 meledak dan ungkapan nek ora sem ya disem muncul.  Jemaat Tuhan di Gabeng dan di Japah meledak kehadirannya. Jemaat Tuhan di Gabeng kemudian membuka tempat ibadah di dukuh Pengkol sedangkan jemaat Tuhan di Japah yang tadinya beribadah di ruang dapurnya Mbah Dhe  kemudian beribadah di rumah Mbah Darmo (lokasi rumah Mbah Darmo ada di samping kanan gereja Japah sekarang).
Pada waktu itu karena banyaknya jemaat Japah maka Mbah Dhe berinisiatif memanggil pelayan yaitu Mbah Suryo. Beliau melayani jemaat Japah dengan taktik mendatangi orang-orang kunci (orang yang berpengaruh) diantaranya: mendatangi  lurah Japah (Bapak Setu). Pak lurah Japah punya pengaruh yang kemudian mempengaruhi lurah Tlogowungu, dst. (mendatangi  gank-gank / orang-orang kunci, yakni orang-orang yang berpengaruh, diantaranya: Mbah Suro Surat (bogem), Bapak Setu (lurah Japah), Bapak Kardi (lurah Tlogowungu). Kemudian Bapak Suro Surat memperkenalkan Injil kepada Bapak Naryo, Bapak Dar, Bapak Munasih.

Perkembangan selanjutnya jemaat mengalami kemunduran karena jauhnya jarak  yang harus ditempuh Bapak Suryo dalam pelayanannya. Gereja Gabeng mulai ditinggalkan, sampai Bapak Suryo mendengar kabar ada gereja (Gabeng) yang mau dijual. Yang kemudian didatangi, dirawat dengan telaten, sampai akhirnya Gabeng memilih untuk mengikuti Bapak Suryo menjadi GKJ. Dan karena Bapak Suryo juga melayani di Japah, maka gereja Gabeng dilayani bersama-sama dengan Japah (menjadi pepanthan Japah).

Periode 3 (tahun 74-92)
Pada tahun 74, Bapak Emanuel Mulyo menyelesaikan pendidikannya di Wirobrajan,  dan karena beliau diutus oleh Klasis Blora-Bojonegoro, maka beliau kemudian kembali ke Klasis Blora-Bojonegoro dan ditugaskan untuk melayani di Japah. Kebaktian Penahbisan Pendeta dilayani oleh Pdt. Djamhuri dari Rembang.
Pada tahun itu GKJ Japah mempunyai kelompok di Tlogowungu dengan jemaat diantaranya: Bapak Kadar (dari Ngapus), Bapak Rajikan (rip), Bapak Kardi (sakit), Bapak Sadikin (Bapak Carik) (rip), Bapak Waji (rip), Bapak Suki (rip), Bapak Kasmi (rip), Mbah Mijan (rip), Mbah No (rip), Mbah Karmi, Bapak Kayun (rip), Mbah Paini, Mbah Giyar, Mbah Ngapi, Mbah Karso (rip), Mbah Nah.

Pada tahun 80-89an terjadi 2 peristiwa besar, yaitu:

  • Tahun 86: ada beberapa KK pindahan dari Pulo Kedungtuban di daerah Banjarejo, menghendaki menjadi pos PI GKJ Japah diantaranya keluarga Bapak Giyarto, Bapak Mantri Suntik, Bapak Darto, bu. Sri. Namun kemudian ini tidak berlanjut sampai sekarang.
  • Tahun 89, kelompok Tlogowungu memisahkan diri dari GKJ Japah dan kemudian meminta dilyani oleh GIA Pucakwangi (dilayani oleh Bapak Yoyok selama 1 tahun. Kini, jemaat itu dilayani GKJTU.
    Pdt. Emanuel Mulyo melayani GKJ Japah sampai tutup usia pada 2 Februari 1992 sebelum emeritus, dikarenakan sakit.

Periode 4 (tahun 92-2004)
• Tahun 1992-2004 GKJ Japah mengalami kekosongan pelayan , pada waktu itu GKJ Japah dilayani oleh pendeta Konsulen yaitu:

o Tahun 1992àPdt. Emanuel Mulyo meninggal
o Tahun 1993-1995àPdt. Setyo dari GKJ Cepu
o Tahun 1996-2002àPdt. Kunco Winarto dari GKJ Blora
o Tahun 2002-2003àGKJ Japah punya Pdt sendiri yaitu Pdt. Yokanan Setiawan
o Tahun 2003-2004àPdt. Yusup Pamuji dari GKJ Rembang
o Tahun 2005-2006àPdt. Nindya Iswara dari GKJ Lasem
o Tahun 2007-2008àPdt. Yusup Pamuji
o Tahun 2009àPdt. Juli dari GKJ Singgahan
o Tahun 2010àPdt. Kunco Winarto

  • GKJ Japah juga menerima mahasiswa praktek (stage) dari beberapa fak. Teologi yang didukung sinode GKJ diantaranya Saudara Heri (yang sekarang melayani di GKJ Bekasi), stage pada tahun 1994, dan Saudara Digdo (sekarang pendeta GKJ Ngaringan), Stage tahun 1997.
  • Akhirnya, pada 6 November 2000 dimulailah Proses pemanggilan Pendeta atas diri Sdr. Yokanan Setiawan. Dan pada tanggal 1 Maret 2002 GKJ Japah memboyong Bapak Yokanan ke GKJ Japah. Dan pada 7 Maret 2002 GKJ Japah menahbiskan pendeta yang ke-3 dalam diri Bapak Yokanan Setiawan. Namun karena sesuatu hal pendeta tersebut kemudian pindah ke GKJ Kradenan, art. 12. Dengan demikian GKJ Japah kembali mengalami kekosongan.
  • Kemudian GKJ Japah mendapatkan pelayanan dari Bapak Hadi (dari GITJ Pati) yang kemudian berencana diproses menjadi pendeta, namun karena ada satu hal akhirnya proses tidak dilanjutkan.
  • Akhir tahun 2008 GKJ Japah mendapar tawaran untuk menerima Tenaga Karya Bakti dari Sinode GKJ, yang ditindaklanjuti dengan dikirimnya Tenaga Karya Bakti pada tanggal 18 Januari 2009 yang menjadi tenaga Karya bakti s/d 19 Januari 2010 dan kemudian diproses menjadi calon Pendeta. Sampai dengan sejarah ini ditulis Proses Pemanggilan Pendeta masih berlangsung dan sampai pada tahap pembimbingan.

Periode V (2009-sekarang)

Demikianlah perjalanan GKJ Japah. Menjadi awal periode V adalah tawaran Sinode GKJ untuk menerima Tenaga Karya Bakti, yang kemudian diterima dengan sukacita.

  • Tenaga Karya Bakti tersebut kemudian menjalani Karya Baktinya selama satu tahun 18 Januari 2009 s/d 18 Januari 2010. Dengan 4 kalli supervise yang dilakukan oleh Bapelsin GKJ.
  • Mendekati masa akhir Karya Bakti, GKJ Japah bersamaan dengan supervise ke-4 mohon untuk didampingi berkaitan dengan keinginan dan kebutuhan Jemaat untuk memiliki seorang pendeta.
  • Keinginan GKJ Japah itu disampaikan dalam Persidangan Klasis yang kemudian ditindaklanjuti oleh Bapelklas dengan Proses Pembimbingan (dimulai Mei 2010)
  • Kemudian setelah dinyatakan layak mengikuti ujian calon pendeta, GKJ Japah menyelenggarakan Sidang Istimewa Ujian Calon Pendeta pada tanggal 28 April 2011 atas diri Sih Ell Mirmaningrum.
  • Proses masih berlangsung...dan akan terus berlangsung.
  • Dalam semua perjalanan itu GKJ Japah tidak pernah dibiarkanNya berjalan sendiri. Banyak pihak bergandengan tangan menopang dan menolong. Itulah keyakinan kami.

o GKJ Eben-Haezer dan GKJ Pondok Gede adalah mitra dalam perjalanan Proses Pemanggilan Pendeta GKJ Japah
o GKJ Kabluk, GKJ Jatimulyo adalah kawan perjalanan dalam pelayanan kepada Kristus
o Gereja se-Klasis Blora Bojonegoro adalah saudara dalam hidup bersama
o Gereja se-Sinode, meski kita berjauhan namun kita satu keluarga besar, satu tubuh Kristus.
o Gereja se-Indonesia dan dunia, mari bersama membangun tubuh Kristus
o Tuhan Yesus memberkati kita.

Demikianlah sekelumit sejarah perkembangan GKJ Japah yang dapat penulis rangkum. Kiranya bermanfaat dan menjadikan nama Tuhan dimuliakan. Amin. 

 


kirim | cetak | pdf