100000 Klasis Yogyakarta Selatan

Pembiakan dari , -
d/a. GKJ Patalan,
Jl. Parangtritis KM.15,
Patalan, Jetis Bantul,
Yogyakarta - 55781
Telepon:  Email: Klasis@
Gereja Dewasa: 14 Pepanthan: 8 Blok/Wilayah: 5/26
Pendeta L: 17  Pendeta P: 3  Jumlah Pendeta: 20
Vikaris: 0  Pendeta Emeritus: 8
KK: 2.588  Warga Dewasa: 11.937  Warga Anak: 3.799  Jumlah: 15.736


jpg100100 GKJ Gondokusuman

Tanggal Pendewasaan: 23 Nopember 1913
Alamat: Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo No.40,
Yogyakarta - 55222
Telepon: 0274513570 Email: gkj.gondokusuman@yahoo.com
Pepanthan: 0 Blok/Wilayah: 0/0
Pendeta L: 4 Pendeta P: 3 Jumlah: 7
Pdt. Siswadi, S.Si.; Pdt. Kristi, S.Si.; Pdt. Seno Adhi Noegroho, S.Si.; Pdt. Yudo Aster Daniel, S.Si.; Pdt. Christian Muryati, S.Pd.K.; Pdt. Dorkas Natalina, SE.,M.Si.; Pdt. Fendi Susanto, S.Si
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 3
-; Pdt. Em. David Rubingan, M.Th.;
Pdt. Em. DR. RS. Humphrey Kariodimedjo, M.Th.;
Pdt. Em. Sardjoeki Kertatenaja, S.Th.
KK: Warga Dewasa: 5564 Warga Anak: 1808 Jumlah: 7372

Profil dan Sejarah

Banyak orang lebih mengenalnya sebagai GKJ Sawokembar karena ada pohon sawo kecik yang ditanam di halaman muka gedung gereja di Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo 40 (Kampung Klitren Lor). Gedung gereja ini adalah gedung gereja kedua, yang mulai ditempati beribadah pada 11 Desember 1930. Sebelumnya gedung gereja pertama berada di Jl. Gondokusuman (sekarang Jl. Jend. Sudirman) dan dikenal karena gambar ayam jantan di menaranya. Gedung gereja ini mewadahi jemaat Kristen di sekitar Gondokusuman yang adalah buah pelayanan zending dari Gereja Gereformeerd di Amsterdam. Jemaat yang bertumbuh pesat seiring dengan berkembangnya Rumah Sakit Petronella (sekarang RS Bethesda) dan sekolah-sekolah (sekarang BOPKRI dan Duta Wacana) dinyatakan dewasa pada Minggu, 23 November 1913, bersamaan dengan diteguhkannya empat orang tua-tua dan dua orang diaken.

Dalam pertumbuhannya, jemaat Gondokusuman menahbiskan Pendeta pertamanya pada 20 April 1926 dalam diri Ponidi Sopater. Pada masa-masa selanjutnya, terus memanggil pelayan berjabatan Pendeta sesuai kebutuhan sehingga sampai sekarang telah menahbiskan/meneguhkan 18(delapan belas) orang Pendeta Jemaat (yang beberapa diantaranya kemudian ditugaskan di LPK, STT Duta Wacana, atau STT Jakarta) dan mengutus 3(tiga) orang Pendeta Pelayanan Khusus di Rumah Sakit Bethesda. Ketika didewasakan tercatat warga gereja sejumlah 569 orang. Kini jumlah itu tercatat 7.334 orang. Dalam perjalanan kehidupan bergerejanya, GKJ Gondokusuman telah mendewasakan 8(delapan) pepanthannya, yaitu GKJ Wirobrajan, GKJ Ambarrukma, GKJ Jatimulyo, GKJ Samironobaru, GKJ Sarimulyo, GKJ Dayu, GKJ Brayat Kinasih dan GKJ Bambu Tegalrejo. Kini wilayah pelayanannya meliputi 18(delapan belas) wilayah tanpa pepanthan, yang dibagi dalam beberapa sektor sesuai jumlah Pendeta Jemaat Aktif yang melayani. Ibadah yang dahulu diawali dengan sekali setiap hari Minggunya, kini dilaksanakan enam kali: sekali pada hari Sabtu dan lima kali pada hari Minggu.

Di tengah pergumulan hidup bersama, GKJ Gondokusuman berusaha menjawab kebutuhan zaman dengan berbagai badan pelayanan. Dua yang masih ada hingga sekarang adalah Panti Asuhan Rekso Putro (bagian Putra dan Putri) di bawah koordinasi Badan Sosial Kristen (BSK) dan Panti Wreda di bawah koordinasi Diakonia. Selain itu dalam diri Yayasan Sawokembar, pelayanan melalui Sekolah Musik dan Pelayanan Advokasi masih berjalan.

Sebagai organisasi yang terus bertumbuh, GKJ Gondokusuman pun bertumbuh dalam iman dan pengetahuan. Menyongsong usia seabad pada tahun 2013 yang akan datang, GKJ Gondokusuman bervisi menjadi gereja yang bertumbuh dalam Kristus, untuk mewartakan dan mewujudkan damai sejahtera bagi warga gereja, dan masyarakat melalui semua aspek kehidupan untuk menghadapi perubahan zaman. Menerjemahkan visi itu, misi yang diemban adalah membangun kebersamaan dan menumbuhkembangkan solidaritas dalam masyarakat majemuk berdasarkan nilai-nilai kebenaran Alkitab untuk melaksanakan kesaksian dan pemeliharaan iman. Semua itu diwarnai dengan nilai-nilai kasih, kebersamaan, keadilan, dan integritas.

Berusaha terus menerjemahkan visi, misi dan nilai, bidang pelayanan pun terus diperbaiki dan diperbaharui. Menantikan hasil evaluasi kinerja, susunan bidang pelayanan saat ini adalah:

  • Bidang Ibadah (Komisi Kebaktian, Pendukung Kebaktian, Seni Budaya)
  • Bidang Kesaksian dan Pelayanan (Komisi Pekabaran Injil, Pendidikan, Pralenan, Diakonia, Sawokembar Emergency)
  • Bidang Pembinaan Warga Gereja (Komisi Anak, Remaja, Pemuda, Dewasa Muda, Dewasa, Adiyuswa, Pengaderan, Pengembangan Warga Jemaat)
  • Bidang Penatalayanan (Komisi Pembangunan, Pemeliharaan Inventaris Gereja)
  • Bidang Perencanaan dan Litbang
  • Bidang Pengawasan dan Pemeriksaan

Dengan terus menengadah ajaran Terang Dunia (Tumengeng Wulang Pranawaning Jagad - tulisan di bagian depan gedung gereja) dan menghayati kasih Tuhan yang disaksikan dalam Yohanes 3:16 (tulisan Jawa di atas mimbar), GKJ Gondokusuman melangkah dalam kemandirian dan kebersamaan - dengan Klasis Yogyakarta Selatan, Sinode GKJ, dan lingkup yang lebih luas. 


jpg100200 GKJ Patalan

Tanggal Pendewasaan: 15 Maret 1925
Alamat: Jl. Parangtritis KM.15,
Patalan, Jetis,
Bantul, Yogyakarta - 55781
Telepon: 0274368147
Email: gkjpatalan@yahoo.co.id
Pepanthan: 2 Blok/Wilayah: 0/0
Pep. Imogiri; Pep. Pundong
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Djoeniawan Santoso, M.Pd.K.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 1
-; Pdt. Djoeniawan Santoso, M.Pd.K.
Pdt. Em. Tri Utomo, BA.
KK: 269 Warga Dewasa: 599 Warga Anak: 186 Jumlah: 785

 

 

  


jpg100300 GKJ Mergangsan

Tanggal Pendewasaan: 15 Maret 1925
Alamat: Jl. Taman Siswa No.166,
Yogyakarta - 55151
Telepon: 0274375651 Email: warta.gkjm@yahoo.co.id
Pepanthan: 1 Blok/Wilayah: 0/4
Pep. Suryodiningratan
Pendeta L: 2Pendeta P: 0 Jumlah: 2
Pdt. Wibowo, S.Si.; Pdt. Hendro Kurniawan, S.Si.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 2
-; Pdt. Em.Bambang Sumbodo, S.Th.,M.Min.;
Pdt. Em. Christian Soetopo, DPS.
KK: 680 Warga Dewasa: 1916 Warga Anak: 412 Jumlah: 2328

Profil dan Sejarah

Kira-kira pada tahun 1895 di Kampung Tungkak. Letaknya  +  250 m dari Pasamuwan Tungkak sekarang terdapat tempat bekas Rumah Miskin yang didirikan oleh Pemerintah Kasultanan Yogyakarta dan diurus oleh Tn. Pieters. Pada mulanya Gereja Kristen Djawa (GKD) Mergangsan yang dahulu bernama Pasamuwan Tungkak, terdiri hanya tidak lebih dari 10 orang Kristen yang berasal dari pasien Poliklinik di Tungkak Lowano (Yogyakarta bagian selatan). Pada tahun 1901 Sri Sultan Hamengkoeboewono berkenan menyerahkan sebidang tanah untuk orang sakit sarat milik Kesultanan yang terletak di Kampung Tungkak kepada Zending. dr. Jan Gerrit Scheurer dan DS. Cornelius Zwaan atas nama Zending menerima pemberian Sultan Yogyakarta dengan senang hati. Verpleger Sambija ditempatkan di Rumah Sakit Tungkak.
Gedung Poliklinik tersebut disediakan oleh Pemerintah Yogyakarta, sedang pelaksanaan oleh Petronela Hospital (sekarang RS Bethesda). Kelompok orang-orang Kristen tersebut di bawah asuhan GKJ Gondokusuman, sedang Bp. M. Kalam Efrayim Guru Sekolah Rakyat Zending di Lowano (tahun 1902) ditugaskan untuk berkhotbah setiap mereka berjemaat pada setiap hari Minggu di ruang Poliklinik.
Jalannya perkembangan jemaat Tuhan disini makin lama makin bertambah kemajuannya hingga pada awal tahun 1925 jumlah anggota pasamuwan mencapai 50 orang terdiri dari 12 keluarga. Sejak pada waktu pasamuwan di sini mempunyai majelis gereja tepatnya pada tanggal 15 Maret 1925 yang dipimpin oleh DS. A. Pos. Setelah Tahun 1929 pasamuwan baru mulai memperhatikan tempat kebaktian dan merencanakan berdirinya gedung gereja lagi. Yang akhirnya karena berkat Tuhan yang diberikan kepada Pasamuwan Tungkak di dalam tahun yang berjalan itu Pasamuwan Tungkak dapat mendirikan gedung gereja di wilayah Mergangsan yang dibuka pada tanggal 16 juli 1930. Di atas mimbar bertuliskan ayat Kitab Suci ditulis dengan huruf Jawa yang diambil dari Injil Yokhanan 14 : 6 : " Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku ". Dalam Bahasa Jawa ; "  Aku iki dalane sarta  jatine kayekten  lan kauripan, ora ana wong siji-sijia kang bisa sowan marang Sang Rama menawa ora metu ing Aku ".
Bp. M. Kalam Efrayim pindah ke Pasamuwan Wates, Kulonprogo digantikan oleh Bp. Setodihardjo yang Guru Sekolah Zending pula, kemudian digantikan oleh seorang Guru Injil yaitu Bp. Darmomartana pada tahun 1930. Pada waktu itu orang-orang Kristen sudah begitu banyak, dan atas bantuan sana-sini dapat memiliki gedung Gereja beserta tanahnya terletak di kampung Mergangsan Kidul. Pasamuwan Tungkak digantikan dengan nama Gereja Kristen Jawa Mergangsan pada 28 Juli 1952, disesuaikan dengan letak Gedung Gereja yang di wilayah Kemantren (Kecamatan) Mergangsan.
Setelah Bapak Guru Injil wafat, maka tidak lama kemudian memanggil Pendeta pertama, yaitu Bp. Sangidja Dwidjaasmara. Setelah Bp. Pdt. Sangidja Dwidjaasmara pindah ke Purwokerto, lebih kurang empat tahun kemudian memanggil Bp. M. Prawirohatmodjo menjadi Pendeta yang kedua.
Sedang setelah Pendeta M. Prawirohatmodjo emiritus tahun 1980, dipanggillah Bp. Bambang Sumbodo, Sth menjadi Pendeta yang ketiga sampai sekarang. Dalam kurun waktu + 82 tahun (1925 - 2007) anggota GKJ Mergangsan semula 50 orang, sekarang (akhir tahun 2006) menjadi 2.273 orang. Hingga tiap tahun pukul ratanya 2.273 : 82 = 27 orang. Belum termasuk Pepanthan Kotagede yang sekarang menjadi GKJ Kotagede.
Pada tahun 2007, GKJ Mergangsan saat ini masih dalam proses Pemanggilan Calon Pendeta yang ke IV. Mohon dukungan doa dari semua warga jemaat, kiranya dapat berjalan dengan lancar. Sampai di usianya yang ke-82 tahun ini (1925 - 2007), masih banyak hal yang perlu kita renungkan, sejauh manakah pelayanan kita untuk kemuliaan Tuhan bagi jemaatnya di GKJ Mergangsan ini. Sudahkah kita berikan yang terbaik kepada Yesus Kristus Tuhan kita?
Demikianlah karya besar Raja Gereja atas diri GKJ Mergangsan yang telah berfirman : "Memang biji (sesawi) itu paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, biji sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabangnya." (Matius 13 : 32). 


jpg100400 GKJ Gunturgeni

Tanggal Pendewasaan: Tahun 1932
Alamat: DK VII Gunturgeni RT.01,
Kel. Poncosari, Kec. Srandakan,
Bantul, Yogyakarta - 55762
Telepon:  Email: gkjgunturgeni@yahoo.co.id
Pepanthan: 0 Blok/Wilayah: 0/0
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Semuel Adhi Nugroho, S.Si.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
KK: 47 Warga Dewasa: 82 Warga Anak: 23 Jumlah: 105

Profil dan Sejarah

Gunturgeni adalah suatu pedukuhan yang terdapat di Kelurahan Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, DIY. Sekitar tahun 1930 mulai adanya persekutuan orang Kristen buah dari pekabaran Injil Rumah Sakit Bantu (Hulphospitaal) yang didirikan oleh RS Bethesda (Petronella Hospitaal) di Sanden-Bantul dan Galur-Kulonprogo. Kehadiran Guru Injil Elyada yang melakukan Pekabaran Injil di Rumah Sakit Bethesda, diusia lanjut beliau menetap di Tegalayang Srandakan dan rumah tinggalnya dipergunakan untuk ibadah warga Gunturgeni sebelum dan sesudah mempunyai gedung gereja.
- Tahun 1932 dimulai kebaktian di Gereja Gunturgeni yang dipimpin oleh Ds. D.B.J. Allaart dengan dihadiri kurang lebih 30 orang. Setelah mengalami masa sulit akibat penjajahan Jepang tahun 1942 sampai dengan pemerintahan RI pasca kemerdekaan 1945, Gunturgeni tetap bertahan serta mulai berkembang. Pekabaran Injil dilakukan oleh Bp. Patah Hardjosoewito yang diangkat menjadi Colporteur melayani dengan membagikan majalah "Mardi Rahardja" dan Almanak Dinding terbitan Taman Pustaka Kristen Yogyakarta terutama diberikan kepada para lurah dan camat di daerah Srandakan, Sanden, Brosot dan sekitarnya. Guru Injilnya Bp. Sriboedyosoetjondro hingga akhirnya dalam Sidang Klasis di Wonosari tanggal 8 November 1944 diputuskan jemaat Gunturgeni dilayani oleh GKJ Patalan pada masa Ds. R.S.P. Poerbowijoga. Pada tahun 1948 jemaat Gunturgeni dilepas dari GKJ Patalan untuk mandiri, ditambahkan juga jemaat Galur menjadi pepanthannya dan dilayani oleh Bp. Sapardja Hardjosoewito sebagai Guru Injil. Pada masa Bp. S. Hardjosoewito ini mulailah dibentuk Majelis Gereja.
- Pendeta yang pertama di GKJ Gunturgeni adalah Ds. Sapardja Hardjosoewito, beliau melayani jemaat Gunturgeni dan Galur selama 4 tahun (1949-1953) karena dipanggil menjadi pendeta GKJ Kalipenten. Dalam Daftar GKJ di Sinode Persatuan tahun 1949, GKJ Gunturgeni sudah disebut sebagai gereja dewasa dilayani oleh Pendeta Harjosoewito.
- Guru Injil selanjutnya Bp. Soeharto Hardjosoewito (1953-1956) adalah putera pertama Bp. Patah Hardjosoewito (Colporteur). Dilanjutkan oleh adiknya yaitu Bp. Samono Hardjosoewito (1957-1958) putera kelima Bp. Patah Hardjosoewito. Sedangkan Bp. Sarjono menjadi guru Injil paling lama yakni selama 22 tahun (1955-1977) hingga akhirnya diteguhkan menjadi Pendeta GKJ Gunturgeni-Galur tahun 1978, pada waktu itu di Klasis Kulonprogo. Beliau melayani selama 12 tahun sampai emiritus tanggal 15 April 1990.
- Setelah Klasis Yogyakarta mengalami perkembangan menjadi 22 gereja dewasa sehingga berbiak menjadi 2 Klasis yakni Klasis Yogyakarta Timur dan Barat, GKJ Gunturgeni berada di Klasis Yogyakarta Barat selama kurang lebih 5 tahun. Karena Klasis Yogyakarta Barat berkembang hingga menumbuhkan Klasis baru yaitu Kulonprogo, maka GKJ Gunturgeni yang wilayahnya dekat Kulonprogo dimasukkan di Klasis Kulonprogo dan berklasis selama 15 tahun.  Tahun 1988 karena wilayah Bantul telah bertumbuh Klasis Yogyakarta Selatan maka GKJ Gunturgeni berproses untuk pindah ke Klasis Yogyakarta Selatan. GKJ Gunturgeni berpisah dengan Pepanthan Galur, masuk ke Klasis Yogyakarta Selatan mulai 4 Juli 1990 dan diterima dalam Sidang VI Klasis Yogyakarta Selatan di GKJ Madukismo tanggal 31 Oktober 1991, tertuang dalam Artikel 17 tentang Kedewasaan GKJ Gunturgeni. Sedangkan Pepanthan Galur diserahkan ke GKJ Wates mulai 11 Agustus 1990. Keadaan warga GKJ Gunturgeni saat itu sebanyak 117 jiwa yang terdiri dari 95 warga dewasa (L=48; P=47) dan 22 warga anak (L=6; P=16). Konsulen yang melayani selama di Klasis Yogyakarta Selatan adalah Pdt. Joko Surodo, Pdt. Hagussumarmanadi, Pdt. Triyono, dan Pdt. Harjono.
- Pada tanggal 5 Nopember 2013 GKJ Gunturgeni mengadakan Peneguhan Pendeta Semuel Adhi Nugroho, S.Si, yang alih tempat pelayanan dari GKJ Cilacap Utara ke GKJ Gunturgeni.


jpg100500 GKJ Bantul

Tanggal Pendewasaan: 01 Januari 1966
Alamat: d/a. SMP BOPKRI Bantul,
Bantul, Yogyakarta
Telepon: 0274367033
Email: gkjbantul@yahoo.co.id
Pepanthan: 1 Blok/Wilayah: 0/4
Pep. Siyangan
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Triyono, S.Th.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
KK: 335 Warga Dewasa: 564 Warga Anak: 229 Jumlah: 793

 

 

 

 

  


jpg100600 GKJ Kotagede

Tanggal Pendewasaan: 14 Juni 1967
Alamat: Jl. Depokan II/184,
Kotagede,
Yogyakarta - 55172
Telepon: 0274375010 Email: gkj.kotagede@yahoo.com
Pepanthan: 0 Blok/Wilayah: 0/0
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Budi Raharjo, M.Th.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 1
-; Pdt. Em. Purwanta Rahmad, S.Th.
KK: 335 Warga Dewasa: 916 Warga Anak: 338 Jumlah: 1254

 

 

 

 

 


JPG

100700 GKJ Sumberagung

Tanggal Pendewasaan: Sabtu, Januari 01, 1972
Alamat: Sawo, Sumberagung,
Jetis, Bantul, Yogyakarta - 55781

Telepon: - Email: gkj_sumberagung@yahoo.id
Pepanthan: 1 Blok/Wilayah: 5/0
Pep. Kalibeso

Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Saryanto, S.Th.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
-; -
KK: 109 Warga Dewasa: 250 Warga Anak: 59 Jumlah: 309

 

Profil dan Sejarah

A. Awal Berdirinya GKJ Sumberagung

GKJ Sumberagung mula-mula adalah pepanthan GKJ Patalan, akibat adanya perang transportasi menjadi sulit, sementara itu anggota warga GKJ Patalan yang ada di wilayah bagian utara (Sawo, Paten dan Beji) mengeluh karena kalau mau ke gereja jaraknya terlalu jauh yaitu berjarak sekitar 5 Km, karena sulitnya transportasi itu warga yang ada di wilayah bagian utara terpaksa berjalan kaki untuk pergi ketempat ibadah, sehingga tiba di tempat ibadah sering terlambat dan merasa kelelahan. Hal ini diperparah jika kondisi dalam keadaan hujan keadaan menjadi semakin memprihatinkan.
Dengan alasan tersebut maka ada gagasan agar didirikan pepanthan di wilayah utara, dan ternyata gagasan tersebut disetujui oleh sidang majelis. Oleh sebab itu pada tahun 1963 didirikan GKJ Patalan pepanthan Beji karena letaknya di dusun Beji, Sumberagung, Jetis, Bantul (yang dikemudian hari menjadi GKJ Sumberagung) yang pada saat itu tempat Ibadah masih menggunakan rumah dari salah seorang warga yaitu rumah Bp. Rekso Hadiatmodjo. Dalam pada itu Pdt. Samono HS. Gembala GKJ Patalan pindah ke Magelang, dan kemudian di isi oleh Pendeta Konsulen dari GKJ Sawo Kembar (Gondokusuman) yaitu Pdt. Poerbowiyogo. Setelah Pdt. Samono HS. ke Magelang gereja pepanthan Beji ternyata mengalami perkembangan yang pesat, yang dulunya hanya ada kelompok Sawo, Paten dan Beji akhirnya bertambah lagi dengan masuknya warga dari kelompok Kadibeso, Kowang, Sawahan dan disusul yang lainnya. Akibat pesatnya perkembangan tersebut Pdt. Konsulen Bp. Poerbowiyogo kewalahan melayani, dan akhirnya diusulkan agar Pepanthan Beji dan Miri (Pepanthan Miri leih dulu ada) didewasakan. Oleh sebab itu dari pihak majelis segera mengambil langkah-langkah untuk mempersiapkan pendewasaan antara lain dengan jalan:

  1. Memberikan pengertian-pengertian kepada anggota warga gereja tentang arti pendewasaan.
  2. Majelis Wilayah agar segera mempersiapkan administrasi gereja.
  3. Meningkatkan persembahan baik melalui kebaktian maupun melalui persekutuan-persekutuan yang lain.
  4. Menyiapkan calon personil dalam organisasi gereja.
  5. Mendekati  pemerintah setempat untuk minta gambaran bagaimana bisa memperoleh bantuan tanah untuk membangun gedung gereja.

Keinginan untuk mendewasakan Pepanthan Beji dan Miri segera disampaikan dalam Sidang Klasis sampai berkali-kali. Dan baru pada tahun 1972 terjadi perbincangan yang serius sampai akhirnya pada tanggal 1 Januari 1973 Pepanthan Beji didewasakan, dengan pesan-pesan supaya diperjuangkan sungguh-sungguh agar terus berkembang, dan ditetapkan juga Pendeta Konsulennya yaitu Pdt. Santosa dari GKJ Gondokusuman.
Sementara itu di wilayah Canden yang dulu ikut kebaktian di Patalan banyak yang pindah kebaktiannya di Pepanthan Beji. Dikemudian hari wilayah Canden ternyata juga mengalami perkembangan yang pesat, untuk itu di wilayah Candenpun kemudian didirikan Pepanthan. Yaitu pada tanggal 26 Agustus 1973 dan kemudian didewasakan pada 1 Januari 1977.
Tahun 1979 Majelis GKJ Sumberagung mengusulkan permohonan ke Kabupaten Bantul agar GKJ Sumberagung diberi bantuan tanah untuk membangun gedung gereja karena selama ini masih menumpang di rumah Bp. Rekso Hadiatmodjo di Beji. Permohonan tersebut baru dikabulkan pada tahun 1981 oleh pemerintah Kabupaten Bantul melalui pemerintah setempat (Sumberagung) memberi sebidang tanah yang terletak di dusun Sawo, Sumberagung, Jetis, Bantul untuk mendirikan gedung gereja. Maka setelah itu segera dimulai pelaksanaan pembangunan gedung GKJ Sumberagung walaupun pada saat itu hanya memiliki uang pembangunan sebanyak Rp 60.000,- Karena kemauan yang keras dari warga dan limpahan berkat Tuhan akhirnya selesai juga pembangunan GKJ Sumberagung meskipun pada saat itu kondisinya belum sempurna (tembok belum dilepo, lantai belum diperkeras dan belum dipasangi eternit), tetapi sedikit demi sedikit terus dibenahi sehingga gedung gereja menjadi semakin baik.
Pdt. Santosa yang saat itu sebagai Pendeta konsulen mengusulkan agar GKJ Canden dan GKJ Sumberagung memiliki Pendeta tetap. Namun rupa-rupanya GKJ Sumberagung sendiri belum mampu untuk memanggil Pendeta sendiri, demikian juga GKJ Canden juga belum mampu. Oleh sebab itu GKJ Sumberagung dan GKJ Canden sepakat untuk memanggil satu Pendeta untuk dua gereja. Tahun 1985 GKJ Canden dan GKJ Sumberagung memanggil Pendeta tetap yaitu Bp. Pdt. Haryono Siswosudarmo, S.Th. Dan dibawah asuhan beliau sedikit demi sedikit jemaat GKJ Sumberagung berkembang sehingga jika sedang perjamuan Kudus gedung sudah tidak mampu menampung lagi, maka jemaat GKJ Sumberagung mempunyai gagasan untuk membuka Pepanthan baru, dan kemudian dibukalah GKJ Sumberagung Pepanthan Kadibeso pada Tahun 1985 namun sementara masih menempati rumah dari seorang warga yaitu rumah Bp. Madyo Sudarmo.
Tahun 1997 Bp. Pdt. Haryono Siswosudarmo meninggal dunia sehingga GKJ Sumberagung kembali tidak memiliki seorang gembala tetap. Oleh sebab itu Sidang Klasis menunjuk Bp. Pdt. Bambang Sumbodo, S.Th. sebagai Pendeta Konsulen di GKJ Sumberagung. Sementara itu mulai bulan Januari 2005 Wilayah 1 yang terdiri dari kelompok Nogosari dan Kebonagung diadakan kebaktian sendiri, dengan alasan bahwa warga di kelompok Kebonagung banyak yang berusia lanjut sehingga jika mau mengikuti kebaktian mengalami kerepotan karena jarak ke gedung gereja cukup jauh dan tidak ada transportasi.

B. Gempa dan Akibatnya

Hari Sabtu tanggal 27 Mei 2006 jam 06.00 terjadilah gempa bumi dasyat yang menghancurkan sebagian wilayah Bantul dan GKJ Sumberagung juga menjadi korban bencana tersebut, keadaan gedung gereja rusak parah sehingga tidak memungkinkan lagi untuk dipakai kebaktian. 2 Minggu kebaktian ditiadakan karena tidak ada tempat untuk berkumpul selain itu keadaan jemaat juga masih mengalami trauma. Tak lama ada bantuan terpal dan kemudian dibuatlah rumah-rumahan untuk dipakai tempat ibadah, sementara itu mahasiswa Fakultas Tehnik UKDW memberi bantuan rumah bambu yang beratapkan terpal yang lebih kokoh untuk tempat kebaktian.
Jemaat mulai memikirkan untuk segera membenahi gedung gereja karena tidak mungkin berlama-lama beribadah dibawah atap terpal sebab usia terpal tidak akan lama. Maka dengan dana yang ada mulailah merenovasi gedung gereja dan setelah berjalan beberapa minggu atas usaha dari Bp. Pdt. Bambang Sumbodo datanglah donatur dari Yayasan Hasyim Joyokusumo yang menyanggupi untuk merenovasi gedung gereja sampai selesai dan majelis diminta untuk menghitung berapa biaya yang dibutuhkan, setelah dihitung ternyata menghabiskan biaya Rp 282.000.000,- Mulai bulan Maret 2007 atap terpal mulai sobek sehingga jika hujan bocor. Oleh sebab itu meskipun renovasi gereja belum selesai kebaktian sudah pindah kedalam gedung gereja yang masih direhab tersebut. Sedangkan untuk Pepanthan Kadibeso setelah gempa juga berpindah tempat yang semula dari rumah Bp. Madyo Sudarmo pindah di rumah Bp. Sukardi di dusun Kembang. Pasca gempa GKJ Sumberagung menerima bantuan uang dari berbagai donatur yang terkumpul lumayan banyak yaitu sekitar Rp 50.000.000,- maka ketika tanah disamping bapak Sukardi dijual langsung dibayar oleh gereja seharga Rp 18.000.000,- dengan luas tanah 180 m2 sebagai persiapan pembangunan gedung gereja Pepanthan Kadibeso.
Bulan April 2007 Sidang Klasis Yogyakarta Selatan memberhentikan Bp. Pdt. Bambang Sumbodo, S.Th. sebagai pendeta konsulen di GKJ Sumberagung karena sudah habis masa bhaktinya dan kemudian Sidang Klasis Yogyakarta Selatan menetapkan Bp. Pdt. Budi Raharjo, S.Th. dari GKJ Kotagede sebagai pengganti Bp. Pdt. Bambang Sumbodo, S.Th. hingga sekarang.

Sumber: Rekso Hadiatmodjo (alm)

 


jpg100800 GKJ Canden

Tanggal Pendewasaan: Tahun 1977
Alamat: Sraten, Canden,
Jetis, Bantul,
Yogyakarta - 55781
Telepon:  Email: Gereja@
Pepanthan: 0 Blok/Wilayah: 0/0
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Setiyono, S.Th.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
KK:  Warga Dewasa: 256 Warga Anak: 88 Jumlah: 344

 

 

 

 

  


jpg100900 GKJ Madukismo

Tanggal Pendewasaan: 31 Oktober 1982
Alamat: Komplek Timur Pabrik Gula Madukismo,
Jogonalan Lor Tirtonirmolo Kasihan Bantul,
Yogyakarta - 55181
Telepon: 0274389331 Email: gkjmadukismo@yahoo.com
Pepanthan: 2 Blok/Wilayah: 0/6
Pep. Karangjati; Pep. Kasongan
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Saryanto, S.PK.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 1
-; Pdt. Em. Hagussumarmanadi, S.Th.
KK: 135 Warga Dewasa: 331 Warga Anak: 115 Jumlah: 446

Profil dan Sejarah

Rikala tahun 1966 wonten penggalihan saking sawetawis keluarga Kristen ing sak kiwo tengenipun Pabrik Gendis Madukismo, badhe ngawontenaken pengetan Natal sesarengan, kados keluarga Bapak Paikun (GKJ Mergangsan), Bapak Sumardi (GKJ Wirobrajan), Bapak Sugiman (GKJ Bantul), Bapak Purwo Admodjo (GKJ Wirobrajan), Bapak Soemantri Wardoyo (GKJ Bantul), Bapak Gatot Suparlan (GKJ Mergangsan), Bapak Sudoto (GKJ Bantul), Bapak Suyadi Yohanes (GKJ Bantul), Bapak E. Sutarman (GKJ Bantul), Bapak Pracoyo (GKJ Wirobrajan) lan Sdr. Suharto DS (GKJ Wirobrajan).

Wonten ing adicara menika lajeng tuwuh pengajeng-ajeng sami sareng-sareng kepingin ngawontenaken pangibadah salebeting satunggal Panthan Gereja Kristen Jawi. Perkawis menika dados cikal bakal madegipun Kebaktian Minggu ingkang sepisan wonten dalemipun Bapak Sumardi, inggih wonten ing dalem kontrakan kagunganipun Bapak Broto Wiratmojo (sapunika dalemipun Bapak Sumanto, Padokan Kidul).

Wondene ingkang paring piladosan ngasta kotbah, kanthi cara gentosan inggih menika saking GKJ Mergangsan, GKJ Wirobrajan saha GKJ Bantul. Tahun 1967 kanthi panyuwunan dhateng PG Madukismo papan pangibadah ngampil Aula Gedung Madu Baru kanthi Pendeta Konsulen saking GKJ Bantul, inggih punika Bapak Harjo Suwarno.

Wiwit tahun 1967 lumantar Direktur PG Madukismo inggih Bapak Ir. Nuryono (tokoh Marhaenis/PNI) paring bantuan awujud siti (lahan bangunan), sarana angkutan/truk, material arupi kajeng jati kanggi mbangun papan pangibadah, ingkang kawiwitan rikala tahun 1968 wontening Komplek PG Madukismo, lan dipun pandhegani dening Bapak Ir. Suroso. Ing tahun 1968 menika ugi dipun putusaken Panthan Madukismo dados panthanipun GKJ Bantul kanthi pertimbangan amargi sacara geografis Madukismo kalebet wilayah Bantul.

Tahun 1970 pembangunan papan pangibadah Panthan Madukismo rampung, dene wragadipun kanthi cara gotong-royong antawisipun saking pisungsung warga GKJ Wirobrajan, GKJ Mergangsan lan GKJ Bantul, ugi pikantuk bantuan pihak njawi kadosta saking Bapak Radius Prawiro (Rp 100.000,-), kajawi bantuan uba rampe sanes kados dene kursi 100 biji lan mimbar. Rikala semanten GKJ Bantul nimbali Bapa Pendeta Widjojo Hadipranata ingkang estu-estu ndadosaken warga Madukismo tansaya giat ing piladosan dhumateng Gusti. Pramila jemaat panthan Madukismo tansaya ngrembaka ngantos langkung 100 jiwa kanthi tokoh-tokoh sepuh pitados ing Gusti Yesus kadosta keluarga Bapak Broto Wiratmojo lan sanesipun, ananging wonten ugi warga ingkang rumiyin sampun baptis lajeng ical.

Tahun 1982 Panthan Madukismo dados gereja dewasa kanthi jemaat antawis 120 warga, kanthi nggadahi 3 panthan, wondene pendeta konsulen Bapak Sulmarso Darmanto, BA.Tahun 1985 GKJ Madukismo nimbali Bapak Hagussumarmanadi supados dados Pendeta GKJ Madukismo lan dipuntahbisaken tanggal 9 April 1985 ngantos dumugi samenika. Wonten ing perkembanganipun, samenika GKJ Madukismo nggadahi Jemaat antawis 437 warga, 6 wilayah saha 22 Pradataning Pasamuwan.


jpg101000 GKJ Jodhog

Tanggal Pendewasaan: 07 April 1996
Alamat: Noyopaten, Gilangharjo,
Pandak, Bantul,
Yogyakarta - 55761
Telepon: 02746462240 Email: gkjjodhog@ymail.com
Pepanthan: 0 Blok/Wilayah: 0/4
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Harjono, S.Th.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
KK: 80 Warga Dewasa: 171 Warga Anak: 68 Jumlah: 239

Profil dan Sejarah

GKJ Jodhog dulu pepanthan dari GKJ Bantul, kemudian GKJ Jodhog menjadi Gereja Dewasa sejak 7 April 1996, setelah itu punya 2 program besar yaitu membangun gedung Gereja dan pemanggilan Pendeta. Cukup berat rasanya tetapi semua bisa berhasil dan tepatnya pada tanggal 10 April 2003 GKJ Jodhog dapat menahbiskan Pendeta dalam diri Pdt. Harjono, S.Th. dari GKJ Rewulu dan sampai sekarang sudah dapat melayani dengan baik. 


101100 GKJ Sidomulyo

Tanggal Pendewasaan: 02 Oktober 1997
Alamat: Jl. Parangtritis KM.21,
Tegal, Belan, Sidomulyo,
Bambanglipuro, Bantul,
Yogyakarta - 55764
Telepon: 02747158043 Email: Gereja@
Pepanthan: 1 Blok/Wilayah: 0/0
Pep. Parangtritis
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Korvinus Wahyu Nugroho, S.Th.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
KK: 162 Warga Dewasa: 305 Warga Anak: 177 Jumlah: 482


jpg101200 GKJ Brayat Kinasih

Tanggal Pendewasaan: 21 April 2001
Alamat: Jl. Timoho UH II/399,
Miliran, Muja-muju,
Umbulharjo, Yogyakarta - 55165
Telepon: 0274550414 Email: gkjbrayatkinasih@gmail.com
Pepanthan: 0 Blok/Wilayah: 0/5
Pendeta L: 0Pendeta P: 0 Jumlah: 0
Pdt. Sundoyo, S.Si.,MBA.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
KK: 215 Warga Dewasa: 429 Warga Anak: 125 Jumlah: 554

Profil dan Sejarah

I. Pendahuluan

Dalam menyusun sejarah Pepanthan Miliran ini, mempergunakan bahan-bahan dari :
a. Catatan-catatan mengenai sejarah Pepanthan Miliran dari Bp. Samidjo dan Bp. Djumadi.
b. Keterangan-keterangan mengenai sejarah Pepanthan Miliran dari nara sumber warga gereja Pepanthan Miliran/warga gereja GKJ Sawokembar Gondokusuman :
• Bp. Sutrisna Martoatmodjo
• Bp. Alex Sukono
• Ibu Mulyadi
• Ibu Krijo Hatmodjo
• Bp. Sigit Wijayanto
• Bp. G. Noto Sudarmo
• Ibu Irmadi
• Bp. Sastra Suwignja
• Bp. Subardi
• Bp. Shena Dwidjosiswaja.

Keputusan Rapat Majelis GKJ Sawokembar Gondokusuman.-KEADAAN PADA TAHUN 1967- Para warga jemaat GKJ Sawokembar Gondokusuman yang bertempat tinggal di Miliran juga pergi kebaktian hari Minggu ke gereja Sawokembar Gondokusuman sebagian berjalan kaki, sebagian lainnya naik sepeda. Bagi yang telah berkeluarga berboncengan naik sepeda. Kendaraan umum pada waktu itu kebanyakan becak dan andong. Jika menggunakan kendaraan umum tidak mampu, karena dipandang mahal. Pada waktu itu jarak antara tempat tinggal mereka dengan gereja Sawokembar Gondokusuman dirasakan cukup jauh. Faktor jarak dan taraf penghidupan warga yang masih sangat berkekurangan pada waktu itu memang menjadi kendala bagi warga dalam kehidupan bergereja. Memperhatikan keadaan semacam itu dua orang warga jemaat di Miliran, yaitu Bapak Samidjo dan Bapak Djumadi mempunyai prakarsa untuk menyelenggarakan kumpulan (kebaktian) di Miliran. Prakarsa itu disetujui oleh para warga di Miliran dan didukung oleh Bapak Sastra Suwignja sebagai Tua-tua Wilayah Miliran.
Atas dasar prakarsa itu, maka pada tahun 1967 diselenggarakan kebaktian pertama bertempat di rumah Bapak Tjermo Disono / Dalang Miliran. Kebaktian pertama itu seharusnya dilayani oleh Bapak Pendeta Sukardan, tetapi karena beliau tidak hadir, maka kebaktian itu dilayani oleh Tua-tua Wilayah yaitu Bapak Sastra Suwignja. Warga yang hadir pada saat itu sebanyak 15 orang. Disamping kebaktian itu, persekutuan-persekutuan doa dan pendalaman Alkitab dilakukan dengan tertip dan teratur. Pada tahun 1969 kontrak rumah yang dipergunakan untuk SD BOPKRI yang juga untuk tempat kebaktian warga jemaat kelompok Miliran itu habis sehingga harus berpindah ke rumah kontrakan baru, yaitu di rumah milik Bapak Hadipranoto, dengan kondisi rumah berdinding bambu yang berlubang-lubang. Di tempat ini pulahlah kegiatan-kegiatan kerohanian warga jemaat di Miliran dilanjutkan. Kegiatan Warga Jemaat Kelompok Miliran ini merupakan embrio atau cikal bakal berdirinya Pepanthan Miliran.

II. BERDIRINYA PEPANTHAN MILIRAN SAMPAI DENGAN MENJELANG DIDEWASAKANNYA.

Berdasarkan keputusan Rapat Majelis GKJ Sawokembar Gondokusuman pada hari Selasa, tanggal 11 Maret 1968 ditetapkan 2 (dua) tempat kebaktian baru di luar GKJ Sawokembar Gondokusuman yaitu :
di Student Centre (Wisma Immanuel Samirono Baru) dan di Miliran. Pembukaan kebaktian baru di Miliran pada hari Minggu tanggal 6 April 1969 ini merupakan kebaktian yang pertama di Miliran dengan mengambil tempat di rumah sederhana berdinding bambu yang berlubang-lubang milik Bapak Hadipranoto yang disewa untuk SD BOPKRI. Seharusnya kebaktian itu diselenggarakan di rumah Bapak Djumadi, tetapi dalam pelaksanaannya rumah Bapak Djumadi dijadikan “Konsisturi” karena letak rumah Bapak Djumadi itu berhadap-hadapan dengan rumah Bapak Hadipranoto. Setiap kebaktian di rumah itu warga jemaat yang hadir lebih kurang 9 – 12 orang.
Hari Minggu tanggal 6 April 1969 itulah sebagai tonggak sejarah berdirinya Pepanthan Miliran. Pada tahun 1973 SD BOPKRI di Miliran berhasil membangun gedung sendiri. Pepanthan Miliran diijinkan oleh Yayasan BOPKRI Pusat, untuk mempergunakan gedung SD BOPKRI tersebut, sebagai tempat kebaktian hari Minggu bagi warga jemaat Pepanthan Miliran. Pada waktu itu oleh SD BOPKRI memang telah dipersiapkan untuk ruang pertemuan terdiri atas dua local. Tempat itulah yang dipergunakan sebagai tempat kebaktian hari Minggu. Kebaktian pertama yang diselenggarakan di SD BOPKRI itu ialah pada hari Minggu 18 Maret 1973 dilayani oleh Bapak Pendeta Sardjuki Kartatenaja, S.Th. dan dihadiri oleh sebanyak 24 orang warga jemaat.

III. PERKEMBANGAN PEPANTHAN MILIRAN

Pepanthan Miliran dapat berkembang setelah menempati gedung SD BOPKRI itu. Kegiatan Sekolah Minggu, kegiatan studi Alkitab untuk para remaja, kegiatan PA, katekisasi bagi para warga, dan kebaktian hari Minggu berjalan secara teratur dan banyak kemajuannya. Perkembangan itu makin bertambah-tambah karena ada beberapa hal yang mendukungnya, ialah:
1. Didirikannya SMP BOPKRI XII di Miliran
2. Ditugaskannya Bapak W. Irmadi, Guru Inil / Pembantu Pendeta, oleh Majelis GKJ Sawokembar Gondokusuman untuk mengajar katekisasi bagi warga Pepanthan Miliran.
3. Ditugaskannya Bapak Pendeta Sukardan oleh Majelis GKJ Sawokembar Gondokusuman untuk melayani Pepanthan Miliran.

Pada waktu itu warga dewasa/peserta Perjamuan Kudus telah mencapai 80-90 orang.
Keberadaan warga jemaat Pepanthan Miliran ini ternyata dapat diterima baik oleh masyarakat sekitar lingkungan Pepanthan Miliran itu, sehingga orang Kristen di Miliran dapat menunjukan perannya sebagai “garam” yang tidak hambar, menjadi “terang “ yang diperlukan banyak orang. Perayaan Natal yang diselenggarakan oleh warga jemaat Pepanthan Miliran, sekaligus dipergunakan sebagai sarana PI. Demikian pula dana yang dapat dikumpulkan, sebagian justru dipergunakan untuk membiayai kegiatan PI itu, tidak sekedar dipergunakan sendiri untuk perayaan.

IV. MEMBANGUN GEDUNG GEREJA.

Mulai tahun 1971-1978 banyak warga pendatang baru di Miliran, di antaranya keluarga Bapak Ir. Mulyadi dan keluarga Bapak Alex Sukono. Kebetulan kedua keluarga itu memiliki kemampuan serta menaruh perhatian besar terhadap tugas-tugas pelayanan gerejawi. Maka pertama-tama diusahakannya untuk memperoleh sebidang tanah yang diperlukan bagi pembangunan gedung gereja. Berkat kerjasama mereka dan dukungan seluruh warga Pepanthan Miliran, maka Tuhan mengabulkan untuk membeli tanah seluas 500m2. Lokasi tanah itu berada di tengah sawah, karena memang semula berwujud tanah pesawahan. Pekerjaan pembenahan lokasi ini dimulai 24 Juni 1981. Jalan menuju lokasi kurang lebih sepanjang 500m masih berwujud pematang/jalan setapak yang berdampingan dengan parit saluran irigasi. Parit inilah yang memperlancar jalan setapak, setelah dibangun kembali mempergunakan pipa buis beton, sehingga dari pematang sawah yang disatukan dengan pipa saluran air itu berhasil disulap menjadi jalan yang dapat dilewati kendaraan. Lahan diurug dan dipersiapkan, maka peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja dapat dilangsungkan pada hari Minggu, 15 September 1985 dalam suatu upacara yang dipimpin oleh Bapak Pendeta Wijoto Hardjotaruno. Memang pekerjaan ini memakan waktu lama, dilaksanakan tahap demi tahap sesuai dengan kemampuan pendanaannya. Sejak dari upacara peletakan batu pertama hingga berdirinya gedung gereja memakan waktu satu setengah tahun. Dari hasil kerja keras jemaat Pepanthan Miliran ini, pada hari Jumat 17 April 1987 bertepatan dengan hari Paskah, secara resmi tempat kebaktian dipindahkan dari SD BOPKRI Miliran ke gedung gereja, walaupun gereja yang dibangun sampai pada saat itu keadaannya belum sempurna. Dari hari ke hari, pembangunan terus disempurnakan, dilengkapi dengan halaman/area parkir yang diperkeras dengan vaving.

Pada mulanya tempat dudukpun seadanya, kemudian berangsur-angsur dapat diganti dengan kursi-kursi besi sederhana, akhirnya dipergunakan bangku-bangku dari kayu seperti yang ada sekarang. Perhatian Pemerintah kepada Pepanthan Miliran sangat baik, yaitu dengan diberikan ijin membangun gedung gereja. Bahkan Pemerintah Kota menggunakan bangunan gereja itu sebulan sekali untuk pembinaan PNS (Pegawai Negeri Sipil) Kristiani. Hampir tidak terduga, pada tahun 1996 dapat membeli lahan tambahan di sebelah kanan gedung gereja, seluas 500 m2, sehingga dengan lahan tambahan ini dapat dipersiapkan untuk membangun konsisturi dan rumah pastori. Bukan karena semata-mata sempitnya lahan, akan tetapi sejak awalnya bangunan gereja telah dirancang dengan menempatkan ruang konsisturi di depan pintu gereja. Penempatan ruang konsisturi di depan pintu gereja ini adalah ide dan pemikiran dari Bapak Sutrisna Martoatmodjo. Pada saat warga jemaat berdatangan akan memasuki gereja tempat kebaktian, Bapak/Ibu anggota Majelis menyambutnya dengan berjabat tangan, seolah-olah sebagai pelayan penerima tamu. Pada saat kebaktian selesai, Bapak Pendeta dan segenap anggota Majelis kembali berderet di depan pintu gereja, bersalaman dengan seluruh warga jemaat yang akan meninggalkan gereja. Dengan demikian suasana kebaktian hari Minggu dapat dirasakan ada jalinan suasana yang penuh kasih. Pada akhir tahun 2000, justru pada saat-saat warga Pepanthan Miliran sedang giat-giatnya mempersiapkan diri membangun Pepanthan Miliran menjadi gereja dewasa, datang lagi berkat Tuhan dengan kemampuan membeli tanah seluas 165 m2 terletak di sebelah kiri gedung gereja di sudut belakang. Dengan letaknya yang tidak terlalu dekat dengan gereja itulah, sangat tepat digunakan untuk rumah Pendeta yang lebih tenang. Maka rancangan semula penempatan rumah Pendeta diubah. Lahan 500 m2 di sebelah kanan gereja, akan dipergunakan untuk bangunan konsisturi, kantor gereja, ruangan pertemuan dan perpustakaan, termasuk area parkir, karena direncanakan gedung itu bertingkat untuk menghemat lahan. Sedangkan gedung gereja sendiri masih dapat dibangun ulang dikembangkan sehingga mempunyai daya tampung yang lebih besar daripada yang sekarang ditambah dengan kemungkinan membangun balkon.

V. KEINGINAN WARGA JEMAAT

Proses Pendewasaan Pepanthan Miliran, memang dirasakan terlalu lama oleh warga dan yang sering menanyakan soal ini. Maka tumbuhlah prakarsa anggota Majelis dan warga Pepanthan Miliran untuk membentuk Panitia Persiapan Pendewasaan Pepanthan Miliran. Adapun pembentukan panitia dengan niat untuk secepatnya dan mendewasakan Pepanthan Miliran ini disertai dengan beberapa pertimbangan sebagai berikut:
1. Proses persiapan pendewasaan Gereja Pepanthan Miliran telah sedemikian lama. Kajian yang dilakukan oleh Tim Studi Kemandirian telah pula berulang kali juga mulai rapat-rapat dan sosialisasi kepada segenap warga jemaat dalam berbagai forum dan kesempatan. Maka akhirnya tumbuh kebulatan tekad bagi Jemaat Pepanthan Miliran untuk membuktikan keberaniannya bertanggung jawab mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, ke dalam maupun ke luar sebagai gereja dewasa.
2. Jemaat Warga Pepanthan Miliran pada saat ini telah mencapai 337 orang, termasuk di dalamnya 264 orang warga sidhi (warga Perjamuan Kudus).
3. Pepanthan Miliran sudah memiliki gedung gereja yang cukup memadai.
4. Dari aspek ekonomi/ keuangan, bersumber dari persembahan warga jemaat dan dana-dana yang dapat dihimpun sebagai dana kemandirian dan pembangunan, Pepanthan Miliran optimis akan dapat memenuhi kebutuhan minimal sebagai jemaat yang mandiri.
5. Selama ini Pepanthan Miliran telah berkemampuan melaksanakan Tri Tugas Gereja, yaitu tugas persekutuan, tugas kesaksian, dan tugas pelayanan. Dengan demikian dari aspek rohani, tugas-tugas itu sudah dapat diselenggarakan dengan teratur, kontinyu bagi segenap warga, dari anak/remaja, kaum muda, kaum bapak dan ibu serta orang tua-tua.
6. Dari aspek organisasi dan administrasi, Pepanthan Miliran telah melaksanakan system manajemen yang tertip, terbuka dan efisien dalam dukungan pelayanan.

Pembentukan Panitia Persiapan Pendewasaan Pepanthan Miliran itu dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 21 Januari 2000, dan memperoleh restu dari gereja induk, Majelis GKJ Sowokembar Gondokusuman. Panitia bekerja keras untuk melakukan kegiatan-kegiatan kearah pendewasaan baik yang menyangkut bidang kerohanian, prasarana fisik, organisasi, administrasi, maupun bidang keuangan. Dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut, Panitia ini melibatkan semua Komisi dan semua pengurus wilayah/kelompok yang ada. Tiap Komisi dan dan pengurus wilayah/kelompok menyusun programnya dan melaksanakan kegiatan masing-masing dalam rangka persiapan pendewasaan Pepanthan Miliran tersebut kepada Klasis Yogyakarta Selatan. Atas dasar usul itu, Tim Visitasi Klasis Yogyakarta Selatan pada hari Rabu tanggal 21 Juni 2000 telah mengadakan kunjungan untuk penelitian (visitasi) ke Pepanthan Miliran. Dalam sidangnya pada hari Senin tanggal 26 Maret 2001 Klasis Yogyakarta Selatan memutuskan bahwa Pepanthan Miliran layak untuk didewasakan. Pendewasaan Pepanthan Miliran menjadi GKJ Brayat Kinasih dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 21 April 2001. 


jpg101300 GKJ Bambu Tegalrejo

Tanggal Pendewasaan: 07 Juni 2008
Alamat: Demakan Baru TR.III/779A,
Tegalrejo, Yogyakarta - 55244
Telepon: 0274620173 Email: gkj_bambu@yahoo.com
Pepanthan: 0 Blok/Wilayah: 0/3
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Agus Prasetyo, S.Pd.K.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
KK: 62 Warga Dewasa: 147 Warga Anak: 41 Jumlah: 188

 

 

 

 

 

 


jpg101400 GKJ Wonocatur

Tanggal Pendewasaan: 15 Juli 2008
Alamat: Jl. Cendrawasih No.486,
RT.11 RW.26, Wonocatur,
Banguntapan, Bantul,
Yogyakarta - 55198
Telepon: 0274444544 Email: Gereja@
Pepanthan: 0 Blok/Wilayah: 0/0
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Setyo Wahono, S.Th.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
KK: 188 Warga Dewasa: 410 Warga Anak: 133 Jumlah: 543

 

 

 

 

 


 

101400 GKJ Pundong

Tanggal Pendewasaan: 30 Desember 2016
Alamat: -
Telepon: - Email: -
Pepanthan: - Blok/Wilayah: -

Pendeta L: - Pendeta P: - Jumlah: -
Vikaris: - Pendeta Emeritus: -
KK: - Warga Dewasa: - Warga Anak: - Jumlah: -

Profil dan Sejarah

 

 

 


kirim | cetak | pdf