030000 Klasis Banyumas Utara

Pembiakan dari , -
Jl. Mardikenya No.2,
Purwokerto - 53116
Telepon:  Email: Klasis@
Gereja Dewasa: 11 Pepanthan: 15 Blok/Wilayah: 44/15
Pendeta L: 13  Pendeta P: 1  Jumlah Pendeta: 14
Vikaris: 0  Pendeta Emeritus: 5
KK: 1.632  Warga Dewasa: 4.377  Warga Anak: 1.525  Jumlah: 5.902

 


jpg030100 GKJ Banyumas

Tanggal Pendewasaan: 10/10/1858
Alamat: Jl. Onderan No.202,
RT 05 RW 01, Desa Kedunguter,
Kec. Banyumas,
Kab. Banyumas - 53192
Telepon:  Email: gkj.banyumas@yahoo.com
Pepanthan: 0 Blok/Wilayah: 6/0
-
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Gati Seputro, S.Th.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
-; -
KK: 88 Warga Dewasa: 180 Warga Anak: 50 Jumlah: 230 

Profil dan Sejarah

GKJ Banyumas lahir sejak 10 Oktober 1858, tanggal lahir itu diambil dari peristiwa baptisan pertama kali kekristenan Banyumas di Semarang oleh Pendeta utusan NZG Ds. A. Hoezoo.

 


jpg030200 GKJ Purbalingga

Tanggal Pendewasaan: 05/05/1866
Alamat: Jl. Jend. Sudirman No.180,
Purbalingga - 53317
Telepon: 0281891313 Email: gkjpbg@gmail.com
Pepanthan: 2 Blok/Wilayah: 11/0
Pep. Purwosari; Pep. Muntang

Pendeta L: 2Pendeta P: 0 Jumlah: 2
Pdt. Rudiarto Budi Prasetyo, S.Th.; Pdt. Slamet Waluyo, S.Si.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
-; -
KK: 185 Warga Dewasa: 797 Warga Anak: 303 Jumlah: 1100

 

 

 

 


jpg030300 GKJ Sokaraja

Tanggal Pendewasaan: 08 Juni 1938
Alamat: Jl. Budi Utomo 46/V,
Sokaraja,
Purwokerto - 53181
Telepon:  Email: gkjsokaraja@yahoo.com
Pepanthan: 0 Blok/Wilayah: 0/4

Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Iwan Setiawan, S.Si.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 1
-; Pdt. Em. Legiman Winotoprayogo, Sm.Th.
KK: 111 Warga Dewasa: 250 Warga Anak: 79 Jumlah: 329

Profil Dan Sejarah

Jemaat GKJ Sokaraja berawal dari adanya sejumlah kecil warga Kristen GKJ maupun GKI di Sokaraja sekitar tahun 1937 ibadah hari Minggunya masih mempergunakan salah satu ruang Sekolah Tiong Hoa yang sekarang menjadi Sekolah Kristen Sokaraja (milik Yayasan Penyelenggara Perguruan dan Pelayanan Kristen Purwokerto). Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya warga jemaat maka tempat kebaktian warga GKJ Sokaraja berpindah di salah satu gedung milik Yayasan yang lebih luas (masih di dalam kompleks Sekolah Kristen Sokaraja) hingga sekarang ini. Sedangkan warga GKI sudah memiliki tempat maupun gedung yang baru. Saat ini jumlah seluruh warga jemaat telah mencapai sekitar 330 jiwa. Digembalakan oleh 11 orang majelis, satu Pendeta aktif (Pdt. Iwan Setiawan, S.Si.) dan satu Pendeta Emeritus (Pdt. Em. Legiman WP., Sm.Th.). GKJ Sokaraja belum lama menetapkan hari jadinya yaitu tanggal 08 Juni 1938.

 


jpg

030400 GKJ Purwokerto

Tanggal Pendewasaan: 03 Februari 1929
Alamat: Jl. Bhayangkara No.5,
RT.09 RW.06, Kranji,
Purwokerto - 53116
Telepon: 0281637888 Email: gkj_pwt@yahoo.com
Pepanthan: 5 Blok/Wilayah: 10/0
Pep. Mersi; Pep. Kradenan; Pep. Jatilawang; Pep. Karanggintung; Pep. Gumelar
Pendeta L: 2Pendeta P: 1 Jumlah: 3
Pdt. Maria Puspitasari, S.Si.; Pdt. Daniel Agus Haryanto, S.Th.,M.Min.; Pdt. Yusup Marwanto, S.Si.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
KK: 449 Warga Dewasa: 1146 Warga Anak: 374 Jumlah: 1520

 

 

 

 


jpg030500 GKJ Klampok

Tanggal Pendewasaan: 13 Desember 1936
Alamat: d/a Pdt. David Widi Prasetyo,
Jl. Raya Klampok No.44,
Purwareja, Klampok,
Banjarnegara - 53474
Telepon: 0286479245 Email: gkj.klampok@yahoo.com
Pepanthan: 2 Blok/Wilayah: 0/8
Pep. Blarak; Pep. Derik
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Andreas Tri Febriantoro, S.Si.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 1
-; Pdt. Em. David Widi Prasetya, Sm.Th.
KK:  Warga Dewasa: 362 Warga Anak: 133 Jumlah: 495

 

 

 


jpg

030600 GKJ Pengalusan

Tanggal Pendewasaan: 01 Januari 1948
Alamat: Jl. Katelklawu, RT.05 RW.03,
Desa Pengalusan, Kec. Mrebet,
Kab. Purbalingga,
Banyumas
Telepon:  Email: gkjpengalusan@yahoo.co.id
Pepanthan: 0 Blok/Wilayah: 2/0
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Bagus Imam Tjahjono, S.Th.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
KK: 155 Warga Dewasa: 205 Warga Anak: 114 Jumlah: 319

 

 

 


jpg030700 GKJ Getsemane

Tanggal Pendewasaan: 02 Juli 1959
Alamat: Pastori Kertayasa,
RT.05 RW.IV,
Kec. Mandiraja,
Kab. Banjarnegara - 53473
Telepon:  Email: wagimin_gkj.getsemane@yahoo.com
Pepanthan: 1 Blok/Wilayah: 0/3
-
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Drs. Wagimin
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
-; -
KK: 148 Warga Dewasa: 320 Warga Anak: 98 Jumlah: 418

 

 

 

 


JPG030800 GKJ Banjarnegara
Tanggal Pendewasaan: 29 Mei 1969
Alamat: Jl. Jend. Sudirman No.13,
Banjarnegara - 53415
Telepon: 0286591286 Email: gkjbanjarnegara@gmail.com
Pepanthan: 1 Blok/Wilayah: 10/0
Pep. Plipiran
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Yakobus Dwi Martyanto Saputro, S.Si.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 1
-; Pdt. Em. Riantoro, S.Th.
KK: 99 Warga Dewasa: 338 Warga Anak: 132 Jumlah: 470

Profil dan Sejarah

Pada tahun 1927 ada seorang tenaga medis beserta dengan istrinya datang ke kota Banjarnegara untuk melaksanakan tugas sebagai tenaga medis untuk Rumah Sakit Banjarnegara yang bernama Bp. Sadiyo. Beliau adalah seorang Kristen yang menjadi titik awal berdirinya Gereja Banjarnegara. Baliau bersama dengan istri bertekat untuk mengumpulkan orang-orang Kristen yang ada di kota ini untuk mengajak dan melakukan persekutuan doa. Kegiatan persekutuan doa yang dirintis oleh beliau ini pada akhirnya dapat berjalan secara rutin dan terus-menerus.

Pada tahun 1935 melalui kegiatan yang berlangsung secara terus menerus dan sudah lama berjalan tersebut Gereja Kristen Jawa Wonosobo mengatahui adalanya gelagat persekutuan yang didalam Kristus. Sehingga Gereja Wonosobo mengirimkan Bp. Sugondodari yang adalah seorang Pembantu Pendeta di GKJ Wonosobo untuk memelihara Iman kepercayaan orang-orang Kristen yang sudah berkumpul itu dengan cara melayani setiap kegiatan-kegiatan persekutuan doa yang dilakukan oleh mereka.

Selang beberapa tahun lamanya kegiatan itu terus berjalan, akhirnya pada tahun 1943 ada beberapa saudara seiman yang datang lagi ke wilayah Banjarnegara. Saudara seiman yang hadir pada saat itu antara lain adalah Bp. Sarjohadi, Bp. Suradi, Bp. Pardede, Bp. Kumadi, Bp. Sarmin dan Ibu Masilah. Mereka semua juga bertugas sebagai tenaga medis di Rumah Sakit Banjanegara. Kehadiran mereka ditengah-tengah orang-orang Kristen yang ada di Kota Banjarnegara ini agaknya sangat berpengaruh dan banyak memberi semangat bagi saudara seiman yang ada pada saat itu.

Kegiatan persekutuan doa yang hingga pada saat itu masih berjalan dan semakin bertambah banyak jumlah persertanya, membuat Bp. Pdt. Yusuf Marmoyuwono dari GKJ Purbalingga merasa terketuk hatinya untuk mau ikut bersama-sama membangun dan melayani persekutuan orang-orang Kristen di kota Banjarnegara saat itu. Kehadiran beliau yang pada tahun 1951 di Kota Banjarnegara ini tak lain adalah juga untuk berperan serta dalam memelihara kehidupan iman orang-orang percaya yang ada pada saat itu.

Setelah masa pelayanan yang dilakukan oleh Bp. Pdt. Yusuf Marmoyuwono dari GKJ Purbalingga, pada tahun 1955 kegiatan Persekutuan yang masih saja terus berjalan tersebut, akhirnya dilanjutkan oleh Bp. Pdt. Samta Broto Suwignyo dari GKJ Wonosobo dan Guru Injil Bp. Abraham. Dalam hal ini, kegiatan persekutuan di kota Banjarnegara dapat terlayani dan berjalan dengan baik. Yang pada akhirnya menumbuhkan kegiatan-kegiatan kebaktian setiap Minggu yang dilaksanakan di rumah kediaman Bp. Sadiyo dan yang dilayani secara rutin oleh Bp. Abraham sebagai Guru Injil.

Waktupun terus berjalan, sehingga pada tahun 1956 ada beberapa saudara seiman lagi yang datang ke Banjarnegara yang juga bertugas sebagai tenaga medis di Rumah Sakit Banjarnegara yaitu Bp. Gidion, Bp. Sumadi Hadi Prayitno dan Bp. Supono. Beliau-beliau ini bertempat tinggal indekost di rumah Bp. Sadiyo. Melalui kedatangan beliau-beliau ternyata menambah sukacita baru bagi persekutuan orang-orang Kristen yang sudah ada pada saat itu dan memberi dampak positif bagi kegiatan pelayanan pemeliharaan iman melalui kebaktian dan juga persekutuan-persekutuan.

Waktu yang terus berjalan, dan jumlah orang percaya yang ada di kota Banjarnegara saat itu semakin bertambah banyak. Hingga pada akhirnya Bp. Sadiyo menyediakan diri untuk menghibahkan tanah pribadi miliknya guna pembangunan sebuah rumah ibadah. Alhasil dengan adanya panitia pembangunan yang melibatkan 10 orang Kristen yang ada saat itu, pada tahun 1957 sebuah rumah ibadah berukuran 7 X 14 M yang terletak di Jl. Jendral Sudirman No. 13 Banjarnegara berhasil dibangun. Beranjak dari situlah ibadah-ibadah dan persekutuan-persektuan yang awalnya dilakukan dirumah kediaman warga, kini mulai dialihkan dirumah ibadah tersebut. Pelayan yang saat ini melayani adalah Bp. Iklas Sutrimo. Beliau adalah sebagai Pembantu Pendeta dari Wonosobo yang juga menetap di Banjarnegara dari tahun 1957 - 1959.

Pertumbuhan persekutan orang Kristen di kota Banjarnegara yang semakin bertumbuh, ternyata dibarengi dengan kebutuhan tenaga pelayanan untuk melayani kegiatan ibadah dan pembinaan iman. Hingga pada akhirnya ditahun 1960 harapan tersebut dapat terwujud dengan kehadiran Bp. Martosuwito. Beliau adalah pembantu Pendeta dari GKJ Wonosobo yang pada saat itu melanjutkan pelayanan orang-orang Kristen di Banjarnegara pada saat itu sampai tahun 1963.

Hal ini agaknya juga memberikan suatu titik awal terjadinya Pengabaran Injil di Kota Banjarnegara. Pekabaran Injil yang terjadi saat itu berawal dari tindakan pelayanan Sekolah Minggu yang dipelopori oleh Bp. Gidion. Beliau menyediakan diri dalam hal tempat kediaman serta tenaganya untuk melayani kegiatan Sekolah Minggu di daerah Madukara. Kegiatan pelayanan sekolah minggu yang dilakukan oleh Bp. Gidion dan juga pelayanan persekutuan bidston yang dilakukan oleh Guru Injil Bp. Abraham ini, ternyata membuahkan hasil yang sangat besar. Hal tersebut terbukti dari banyaknya masyarakat pribumi (Wilayah Madukara) yang tertarik oleh adanya persekutuan-persekutuan didalam Kristus, sehingga banyak bermunculan masyarakat yang juga ingin bergabung dalam lingkup iman Kekristenan pada saat itu. Benih atau hasil pekabaran Injil yang dilakukan pada waktu itu adalah keluarga Bp. Badar Adisusanto di daerah Madukara, mereka menjadi percaya dan menerima Injil mulai 1 Agustus 1963.

Kegiatan pelayanan Ibadah dan Pengabaran Injil yang terjadi di Banjarnegara setelah pelayanan yang dilakukan oleh Bp. Martosuwito yang saat itu sudah terbentuk susunan kemajelisan di bawah naungan Gereja Kristen Jawa Wonosobo Klasis Kedu, yang selanjutnya majelis mengundang Bp. Sudharsono Partoyoga yang adalah seorang Pembantu Pendeta dari GKJ Wonosobo untuk menjadi pelayan pemeliharaan iman di Banjarnegara. Akhirnya di tahun 1963 beliau hadir dan menetap di Banjarnegara untuk melayani orang-orang percaya yang ada di Banjarnegara saat itu. Setelah melayani dan menjadi pamomong pemeliharaan iman selama kurang lebih hampir tiga tahun lamanya, pada tahun 1966 Bp. Sudharsono Partoyogapun ditetapkan dan ditahbiskan sebagai Pendeta Jemaat di Banjarnegara yang pada saat itu Banjarnegara masih menginduk ke GKJ Wonosobo. Perkembangan pemeliharaan iman dan pekabaran Injil di Banjarnegara akhirnya mencapai puncaknya ketika jemaat itu didewasakan atas dasar keputusan sidang Klasis Kedu yang Kedua Artikel 11 Nomor 1, pada tanggal 15 November 1968. Ibadah kebaktian pendewasaannya dilakukan pada tanggal 29 Mei 1969. Dua tahun kemudian tepatnya pada tanggal 2 Juli 1971 Bp. Pdt. Sudharsono Partoyoga beralih tugas pelayanannya ke GKJ Temanggung Pepanthan Ngadirejo.

Pada tahun 1971 sampai tahun 1973 adalah masa kekosongan dimana GKJ Banjarnegara tidak memiliki tenaga Pendeta. Hingga pada akhirnya majelis bertekad mengundang Bp. Riantoro untuk menjadi calon pendeta di GKJ Banjarnegara saat itu. Pada tanggal 1 Agustus 1973 dan beliau sudah hadir ditengah-tengah jemaat GKJ Banjarnegara sebagai calon pendeta tunggal. Mulai saat itulah beliau melayani di Banjarnegara sebagai calon pendeta GKJ Banjarnegara. Selama kurang lebih 7(tujuh) tahun beliau melayani di GKJ Banjarnegara, akhirnya pada tanggal 9 Juli 1980 beliau ditahbiskan sebagai Pendeta Jemaat di GKJ Banjarnegara. Kegiatan pemeliharaan iman dari tahun 1971 sampai sekarang di GKJ Banjarnegara dan wilayah pelayanannya dilakukan secara insidentil. Kegiatan Pengabaran Injil dilakukan secara perseorangan dan secara lembaga yang diprakarsai oleh Gereja. Jangkauan Pengabaran Injil yang pernah terjangkau adalah sampai daerah Karangkobar dan dari situ membuahkan hasil adanya beberapa jiwa yang mau menerima Injil. Mereka yang berasal dari daerah Karangkobar, rela menempuh perjalanan yang cukup jauh dari Karangkobar ke Banjarnegara untuk mengikuti kegiatan ibadah di Gereja GKJ Banjarnegara.

Pekabaran Injil yang terjadi pada masa pelayanan Bp. Pdt. Riantoro dilakukan melalui bantuan sosial, melalui perkunjungan, melalui dukungan doa bagi mereka yang sakit, melalui bantuan bencana, melalui kegiatan pemuda, melalui pendidikan dan juga melalui siaran Kristen di radio. Pada tahun 2006 Bp. Pdt. Riantoro memasuki masa Emeritus. Segala kegiatan pelayanan, pembinaan iman dan pemeliharaan iman dilaksanakan oleh Majelis Gereja.

Hingga pada akhirnya Bp. Pdt. Riantoro menginjak masa Emeritus dan meninggalkan kota Banjarnegara untuk melayani keluarga di Jakarta, maka majelis mulai bangkit dan berjalan sendiri dengan dibantu oleh pendeta konsulen serta klasis dan gereja-gereja tetangga. Dan atas berkat kasih Tuhan pada tanggal 2 Juni 2015 GKJ Banjarnegara menahbiskan Sdr. Yakobus Dwi Martyanto Saputro, S.Si. lulusan dari Fakultas Teologi UKSW Salatiga untuk menjadi Pendeta di GKJ Banjarnegara.

 


jpg030900 GKJ Arcawinangun

Tanggal Pendewasaan: 01 Januari 1978
Alamat: Jl. Gereja No.351,
Arcawinangun,
Purwokerto - 53113
Telepon: 0281638764 Email: Gereja@
Pepanthan: 1 Blok/Wilayah: 0/0
-
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Sukarmo, M.Th.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 1
-; Pdt. Em. Sudjatmoko, S.Th.
KK: 204 Warga Dewasa: 396 Warga Anak: 131 Jumlah: 527

 

 

 

 


jpg031000 GKJ Purwokerto Barat

Tanggal Pendewasaan: 31 Oktober 1993
Alamat: d/a Pastori GKJ Purwokerto Barat,
Jl. K.S. Tubun No.13, Rejasari,
Purwokerto,
Purwokerto Barat - 53134
Telepon: 0281640302 Email: gkjpurwokertobarat@yahoo.co.id
Pepanthan: 1 Blok/Wilayah: 5/0
Pep. Kaliputih
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Elya Budirahardjo, S.Si.,MA.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 1
-; Pdt. Em. Aming Prayitno, B.Th.
KK: 79 Warga Dewasa: 168 Warga Anak: 43 Jumlah: 211

 

 

 


jpg

031100 GKJ Penaruban

Tanggal Pendewasaan: 25 Nopember 1995
Alamat: Jl. Mustari,
RT.01 RW.08, Desa Penaruban,
Kec. Kaligondang,
Purbalingga - 53391
Telepon: 0281895633 Email: gkjpenaruban@yahoo.com
Pepanthan: 1 Blok/Wilayah: 0/0
Pep. Kejobong
Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Pdt. Tri Agus Fajar Winantiyo, S.Si.
Vikaris: 0 Pendeta Emeritus: 0
-; -
KK: 114 Warga Dewasa: 215 Warga Anak: 68 Jumlah: 283

Profil dan Sejarah

Pada dasarnya perjalanan sejarah gereja bukanlah ditentukan oleh perkembangan kehidupan manusia, dalam arti nama-nama yang disebutkan dalam buku sejarah gereja sebagai penentu perkembangan suatu gereja, tetapi hanyalah sebagai hamba - teman sekerja Allah. Oleh karena gereja pada dasarnya adalah kehidupan bersama religius yang terjadi dari hasil karya penyelamatan Allah di dalam Yesus Kristus dan di bawah terang Roh Kudus.

Dan yang menjadi dasar pemikiran adalah tidaklah penting yang berkaitan dengan penyebutan nama-nama dan atau tidak disebutkan nama-nama yang ikut andil dalam perjalanan sejarah gereja, tetapi apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam II Korintus 4 : 7 "Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah dan bukan dari kami".

Perkembangan sejarah GKJ Penaruban tidak dapat dipisahkan dari usaha Pemasyuran Injil yang terjadi di wilayah Banyumas pada umumnya dan Purbalingga pada khususnya, dimana Mr. F.L. Anthing seorang vice President Hooge Rechthof (1850-1863) dan juga salah seorang anggota Genootschaap voor in-uittwendige Zending. Dari Batavia ia mengutus dua orang anak didiknya, yaitu Yohanes Vrede dan Laban memasyurkan Injil di daerah Tegal dan singgah sampai di Purbalingga. Mereka bekerjasama dengan salah seorang Penginjil dari Baptist Missionary - London Missionary Siciety, yaitu Gan Kwee yang kemudian kegiatan penginjilannya dilanjutkan oleh Leonard.

Pada tanggal 10 Oktober 1867, Ds. A. Vermeer - Pendeta dari Tegal - dipindahkan ke Purbalingga yang diikuti oleh Saudara David dan Daniel dan berdirilah Gereja di Purbalingga (sekarang GKJ Purbalingga)  pada tahun 1868.

Pada tahun 1910, dr. Stokkum oleh GKN (Gereformeed de Kerken in Netherland) dikirim ke Purbalingga untuk mendirikan Rumah Sakit di Purbalingga (Trenggiling) yang selesai dibangun pada tahun 1913 yang digunakan  sebagai sarana Pemasyuran Injil. Tenaga-tenaga rumah sakit yang berdiri di Trenggiling itulah yang menjadi cikal bakal perkembangan sejarah gereja di wilayah Utara Lor Klawing yang menjadi jemaat GKJ Purbalingga.

Berikut ini Pendeta-pendeta yang telah melakukan pelayanan dalam sejarah GKJ Purbalingga yang diawalai oleh Ds. Sudarmaji (1929-1939); Ds. Asmawinangun (1943-1947) dan khususnya pada masa pelayanan Ds. J.  Marmo Joewono (1950-1992) jemaat yang berasal dari Lor Klawing bertambah-tambah dan mendapat perhatian khusus untuk didewasakan.

Yang mempercepat proses perjalanan sejarah GKJ Penaruban sebagai gereja yang dewasa, yaitu dengan rusaknya jembatan Sungai Klawing pada tahun 1979 dan putus pada akhir tahun 1980. Kejadian ini sungguh-sungguh menjadi kendala yang mengakibatkan jemaat GKJ Purbalingga yang berasal dari wilayah Lor Sungai Klawing mengalami kesulitan dan beresiko tinggi untuk mengikuti kebaktian di GKJ Purbalingga, karena harus naik rakit di atas arus Sungai Klawing yang sangat deras dan setiap saat terjadi banjir tanpa dapat diperkirakan.

Dengan alasan itulah, anggota Majelis GKJ Purbalingga yang berasal dari wilayah Lor Sungai Klawing mengusulkan untuk diadakan kebaktian sendiri di wilayah Lor Sungai Klawing dan ternyata dalam Sidang Majelis Pleno GKJ Purbalingga disepakati.

Kemudian kebaktian diselenggarakan setiap minggunya dua kali kebaktian dengan menggunakan Bahasa Indonesia (pagi) dan Bahasa Jawa (siang) di salah satu rumah jemaat yang dipandang cukup luas secara bergantian dan terakhir diselenggarakan menetap di rumah Ibu Iskiel.

Pada saat kebaktian dilakukan sekali (manunggil) dalam pelayanan Sakramen Perjamuan dan Kebaktian Khusus (pelayanan Sakramen Baptis, Sidhi, Pengakuan Dosa, Pernikahan), maka sangat dirasakan oleh jemaat GKJ Purbalingga di Penaruban perlunya untuk membangun gedung gereja di Penaruban. Kemudian Anggota Majelis GKJ Purbalingga yang berasal dari Lor Sungai Klawing yang terdiri dari 8 (delapan) orang yaitu : Bp. Warsitoyudo, BA. , Bp. Wahyono Eko Sutarno, B.Sc., Bp. Yahya Warsitaningaty, Bp. Sudarto, Bp. Sutantomo Azah, Bp. Suprihadi, Bp. Prapto Wiloso dan Ibu Sumanto menyampaikan usulan dalam Sidang Majelis Pleno tanggal 19 April 1981 untuk pembangunan gedung gereja di Penaruban dan ternyata disejutui.

Sejalan dengan usulan program pembangunan gedung gereja di Penaruban, maka baru diterbitkanlah Surat Keputusan Nomor : 43/ GKJ/ 1983 tentang Penetapan Anggota Panitia Pembangunan Gedung Gereja di Penaruban yang terdiri dari : Bp. J. Swatmaka, B.Th. dan Bp. R. Soeharto (sebagai Ketua), Bp. Y. Warsitaningaty dan Bp. Suwarji (sebagai Sekretaris), Bp. Slamet Riyantodan Bp. Suyatno (sebagai Bendahara) dan Bp. Wuryanto, BA. sebagai Anggota.

Kemudian dilakukanlah pembelian sebidang tanah milik warga jemaat oleh GKJ Purbalingga seluas 40 ubin (640 M2) dengan harga pembayaran setengah dari harga umum/ pasaran dan dengan mencari donatur dari warga jemaat GKJ Purbalingga dan luar Purbalingga terkumpul dana sebesar = Rp 7.360.100,00 dan material dari jemaat di Penaruban senilai = Rp 3.000.000,00. Dan  dimulailah pengerjaan pembangunan gedung gereja GKJ Penaruban dengan melibatkan seluruh jemaat yang ada di Penaruban dan Trenggiling baik dalam bentuk bantuan tenaga (gotong royong) dan konsumsi yang sehari-harinya dikelola oleh Sdr. Evi Setyawati  yang berasal dari jemaat secara bergiliran.

Dan pada tanggal 25 Nopember 1985 gedung gereja di Penaruban diresmikan penggunaannya dan sejak saat itulah muncul "Pepanthan Penaruban" yang induknya adalah GKJ Purbalingga.

Sejak diresmikan, Pepanthan Penaruban dapat dikatakan sudah mampu membeayai dan menangani kehidupan bergereja sendiri dan ini semua berjalan hanya karena Tuhanlah yang menyertai dan memberikan pertolongan dalam perjalanannya. Dan Majelis GKJ Purbalingga menyerahkan kepada anggota Majelis GKJ Purbalingga yang berasal dari Pepanthan Penaruban untuk menyusun dan mengevaluasi program sendiri. Dan ini semua ditangani oleh Kelompok Kerja Ibu-ibu dan Pemuda dengan nama "Prigel = Persekutuan Remaja dan Ibu-ibu Gereja Lor Klawing" dan tumbuhlah 6 (enam) kelompok Pemahaman Alkitab yang berlangsung sebulan sekali.

Sebagai tindak lanjut Program GKJ Purbalingga diputuskanlah untuk mendewasakan Pepanthan Penaruban dalam Sidang Majelis GKJ Purbalingga pada tanggal 2 Desember 1993 saat pelayanan Pdt. Tanto Kristiono, S.Th. dan Pepanthan Penaruban dalam persiapan pendewasaan diberikan hak swa-kelola. Dan hasil visitasi Majelis GKJ Penaruban terhadap Pepanthan Penaruban dipandang memenuhi syarat untuk  didewasakan, disampaikanlah kepada Klasis Banyumas Utara sebagai materi Sidang Klasis ke-56 di GKJ Kertayasa.

Setelah melalui pembahasan materi dalam Sidang Klasis Ke-56 Gereja-gereja Kristen Jawa Klasis Banyumas Utara di GKJ Kertayasa, dalam artikel 17 yang berbunyi :
Setelah sidang menerima dan membahas laporan dari Majelis GKJ Purbalingga serta memperhatikan rekomendasi Tim Visitator Klasis ke GKJ Purbalingga tentang rencana pendewasaan Pepanthan Penaruban, sidang memutuskan menyetujui dan menetapkan Pepanthan Penaruban menjadi Gereja Dewasa.

Menindaklanjuti Artikel 17 di atas, kemudian Majelis GKJ Purbalingga menetapkan Pendewasaan Pepanthan Penaruban akan dilakukan pada hari Rabu tanggal 25 Nopember 1995 dengan Susunan Panitia Inti  Pendewasaan yang terdiri dari : Bp. dr. Andianto, Sp. D. dan Bp. Warsitoyudo, BA. (sebagai ketua0, Bp. Nurbaik Adam, S.Pd. dan Widiyono, S.Pd. (sebagai sekretaris) dan Bp. Wahyono Eko Sutarno, B.Sc. dan Ibu Sumanto (sebagai bendahara) serta dibantu dengan Seksi-seksi yang dibutuhkan yaitu seksi Acara, Usaha, Dokumentasi, Konsumsi, Perlengkapan dan Dekorasi, Penerima Tamu dan Keamanan.

Sekitar setahun kemudian, pada bulan Desember 1996 dibentuklah Panitia Pemanggilan Pendeta dengan Panitia Inti terdiri dari : Bp. Sutantomo Azah dan Bp. Wuryanto, BA. (sebagai ketua), Bp. Yahya Warsitaningaty dan Bp. Supono (selaku sekretaris) dan Bp. Wahyono Eko Sutarno, B.Sc. dan Ibu Dra. Ida Ratna Purwandari (selaku bendahara). Dalam rangka penjaringan bakal calon telah mendatangkan 9 (sembilan) orang dan dari bakal calon yang ada tinggallah 1(satu) orang yaitu  Bp. Edhy Pujianto Swiztisar, S.Ag. Kemudian pada bulan Januari 2000 dari satu bakal calon yang ada dilakukanlah pilihan tunggal dan dari 206 suara yang masuk semuanya memilih setuju. Berikutnya memasuki pembimbingan dan pada bulan Juni 2000 dinyatakan layak maju Ujian Calon Pendeta dan dalam Sidang Klasis Ke-61 di GKJ Penaruban bersama dengan Calon Pendeta dari GKJ Purwokerto Barat dinyatakan sebagai Calon Pendeta Layak Tahbis.

Pada tanggal 25 Oktober 2000 dilaksanakan Penahbisan Pendeta GKJ Penaruban yang pertama atas diri Bp. Edhy Pujianto Swiztisar, S.Ag., namun karena kurangnya keteguhan hati dalam menghadapi tantangan dalam pelayanan, pada Minggu, 5 Maret 2004 menyampaikan surat pengunduran diri (yang ketiga kalinya) secara tertulis dalam Sidang Majelis Pleno. Majelis kemudian meminta kepada yang bersangkutan untuk memikirkan kembali niatnya dan ditolak oleh yang bersangkutan. Kemudian mengambil tindakan dengan mengkonsultasikan kepada Pendeta GKJ Purbalingga sebagai Gereja GKJ Tetangga terdekat dan Deputat Klasis dan Sinode GKJ di Salatiga.

Untuk mengklarifikasi permasalahan yang dihadapi oleh GKJ Penaruban, dilakukanlah Visitasi oleh Deputat Klasis Batara dan ternyata yang berpendirian sama serta mengundang Deputat Keesaan Sinode GKJ di Salatiga dan ternyata demikian juga.

Dalam Sidang Klasis Ke-65 Gereja-gereja Kristen Jawa Klasis Banyumas diangkatlah sebagai materi sidang yang menghasilkan keputusan yang tertuang dalam Akta Sidang Klasis Ke-65 Artikel 5 bahwa pengunduran diri yang bersangkutan disepakati dengan memberikan tenggang waktu  selama 6 (enam) bulan yaitu Juli - Desember 2004 dan Majelis GKJ Penaruban menyanggupkan diri memberikan BHT minus tunjangan fungsional dan akan diserahterimakan sekaligus pada bulan Juli 2004.

Baru semua permasalahan tersebut di atas dinyatakan selesai setelah munculnya Akta Sidang Klasis Ke-66 Artikel  11 yang berisi keputusan Penanggalan Jabatan Pendeta GKJ Penaruban atas diri Sdr. Edhy Pujianto Swiztisar, S. Ag. Terhitung sejak 1 Januari 2005.

Kemudian pada bulan Januari 2005 dibentuklah Panitia Pemanggilan Pendeta yang diketuai oleh Bp. Joseph Budi Subagyo dan Bp. Purwanto sebagai sekretaris dan dibantu oleh beberapa personal yang lain, mulailah menjaring 3 (tiga) bakal calon. Masing-masing melakukan orientasi sebulanan, dan kemudian dipilih dua dan yang terpilih melakukan orientasi tiga bulanan dan kemudian pada bulan Mei 2006 tinggallah satu bakal Calon Pendeta Terpilih yaitu Sdr. Tri Agus Fajar Winantiyo, S.Si. dari jemaat GKJ Purwokerto Barat.

Beliau kemudian menjalani masa pembimbingan bersama dengan Calon Pendeta Terpilih dari GKJ Purbalingga pada bulan Agustus 2006. Dan sampai dengan bulan Januari 2007 Tim Pembimbing dan Majelis masing-masing menyatakan layak untuk mengikuti Ujian Calon Pendeta dalam Sidang Klasis Ke-68 di GKJ Penaruban. Keduanya dinyatakan sebagai Calon Pendeta Layak Tahbis dan sesuai dengan ketentuan dalam Tata Gereja dan Tata Laksana Gereja GKJ bahwa untuk menuju ke Pentahbisan Pendeta sekurang-kurangnya menjalani masa vicariat 1 (satu) tahun, maka pada hari  Rabu, tanggal 30 Juli 2008 Penahbisan Pendeta GKJ Penaruban yang kedua atas nama Tri Agus Fajar Winantiyo, S.Si.  dapat berlangsung hanya karena penyertaan dan pertolongan dari Raja Gereja, Tuhan Yesus Kristus.

Sehingga pada saat ini GKJ Penaruban sudah dapat melakukan kegiatan pelayanan sepenuhnya bersama dengan Pendeta yang baru ditahbiskan pada dua tahun yang lalu dan pada saat ini sudah akan memulai untuk memikirkan dan memprogramkan tempat sarana ibadah yang sudah berumur 23 tahun dan sudah saatnya harus dilakukan rehabilitasi serta mengingat kebutuhan ruangan untuk kebaktian anak, kantor dan kebutuhan lainnya juga harus memprogramkan dan melaksanakan pembangunan untuk tahapan selanjutnya kalau dana yang dihimpun sudah tersedia. 


kirim | cetak | pdf