Mengembangkan Teologi yang Signifikan dan Relevan dari Pengalaman Kebencanaan

Oleh: Pdt. Setiyadi (relawan Merapi dari Posko Sinode GKJ - LBKUB Boyolali)

" bagi saya teologi bencana penting dalam rangka saya memahami pekerjaan saya dalam karya kemanusiaan, dan memahami pula yang dialami para penyintas maupun korban " (Banu Subagyo,  pekerja kemanusiaan UNDP, anggota Pokja Bencana Sinode GKJ)

 

Negri 1001 Bencana

Bencana, terutama dari faktor alam yang mengakrabi umat manusia akhir-akhir ini, telah menjadi memori yang bertahta dalam bilik hati semua orang. Tidak hanya bagi mereka yang menjadi penyintas, para relawan, pekerja kemanusiaan yang turut hadir bersama di tempat1 bencana dan pengungsian, tetapi juga mereka yang jauh, namun dekat berkat aneka media yang mewartakannya senantiasa. Memori yang tidak hanya menjadi ingatan selintas, tetapi telah berhasil menerobos ke dalam hati, pusat kedalaman hidup manusia.

Rasanya tak ada kesulitan berarti untuk mengingat kapan tsunami Aceh menghampiri, gempa di Jogja menerpa, dan Merapi erupsi. Apalagi, erupsi Merapi 2010 yang baru lalu membuat ribuan warga lereng Merapi dari empat kabupaten Sleman, Klaten, Magelang dan Boyolali harus eksodus besar-besaran.  Peristiwanya pun tak lama berselang dengan banjir Wasior dan gempa berlanjut tsunami di Mentawai. Cerita tentang Wasior, Mentawai dan Merapi belum usai sudah disambung dengan ketangguhan Negri Matahari Terbit yang diuji gempa berskala 8,8 skala richter dengan tsunami belum lama ini. Soal mitigasi bencana hingga rencana kontijensi dalam menghadapi bencana sebagai penanda kesiap-siagaan, Negeri Sakura memang jagonya. Habitus kedisiplinan, semangat bela rasa, memang membara pada negri yang pernah menjajah Bangsa Indonesia ini.

jpg

(Gambar diundhuh dari  http://www.didiksugiarto.com/2010/11/inilah-kronologi-letusan-dahsyat-merapi.html . file name: merapi-terbelah1-L  )2

Sungguh, bencana alam kian hari kian akrab dengan manusia. Ironisnya lagi manusia pun seolah belum puas dengan bencana alam. Dengan semangat membara, sementara orang suka mempromosikan bencana sosial. Irama alam tidak dipedulikan untuk menciptakan ketangguhan tetapi malah dibuat semakin rentan, karena modal sosial digerogoti oleh politik sentimen agama. Inilah negri kita, Indonesia tercinta. Tak hanya berpredikat negri cincin api, tetapi sungguh negri 1001 bencana.

Sejatinya modal sosial dan spiritual yang dimiliki komponen bangsa ini bisa menjadi pemompa daya kemampuan menanggulangi bencana. Simaklah semangat gambaru  Jepang. Seorang mahasiswi Indonesia yang tengah belajar di Jepang, Rouli Esther Pasaribu namanya, menggambarkan arti gambaru sebagai berikut:

Menurut kamus Bahasa Jepang  sih , gambaru itu artinya : "doko made mo nintai shite doryoku suru" (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha abis-abisan) Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter "keras" dan "mengencangkan." Jadi  image  yang bisa didapat dari paduan karakter ini adalah "mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mes ti keras dan terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan itu" (maksudnya jangan manja, tapi anggap semua persoalan itu adalah sebuah kewajaran dalam hidup, namanya hidup  emang  pada dasarnya susah, jadi jangan  ngarep  gampang, persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru, titik. (di  copy   paste  dari kiriman email Banu Subagyo 26/3/2011). 

Menurut Banu Subagyo,"  Gambaru  ini cerminan dari mantapnya landasan teologi bangsa Jepang. Bila mereka kukuh & tidak mengeluh dalam derita yang sedang dihadapi, maka akan segera ditemui keadaan yang lebih baik di waktu mendatang." Di tengah parade bencana: Wasior, Mentawai dan Merapi, dimanakah semacam "gambaru" Indonesia? Semoga,  celoteh Senayan 27 Oktober 2010 sebagaimana dipublikasi kompas.com di bawah ini tidak dirujuk sebagai "gambaru" Indonesia.

"Ya kalau takut kena ombak, jangan tinggal di tepi pantai" "Saya tanya, kalau tinggal di Mentawai, ada  peringatan dini soal tsunami sempat enggak dua jam dia tinggalkan Mentawai? Ya enggak sempat" "Kalau tinggal di pulau  itu sudah  tahu berisiko,  pindah  sajalah.  Namanya kita negara di jalur gempa  dan  tsunami  luar biasa.  Kalau  tinggal di  pulau s eperti itu,  peringatan satu hari juga tidak bisa apa-apa" ujar dia. (Kompas.com. "Marzuki: Pindah Saja ke Daratan", 27 Oktober 2010). 

Menjadi gambaran politisi Senayan silahkan, tetapi janganlah menjadi "gambaru" Indonesia. Karena itu, sebagai Gereja-gereja dari Indonesia, dengan semangat oikumenis saatnya mencari gambaru-gambaru Indonesia melalui  doing local theology .

 

Signifikansi bagi Sebuah Upaya Berteologi 

Memori tentang bencana alam sejatinya ingin berbicara banyak hal. Seringkali Tuhan ditanya mengapa mengijinkan bencana terjadi. Banyak jawaban bisa dipungut dari mulut para agamawan yang seolah mewakili suara Tuhan. Padahal, barangkali Tuhan malah tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Bisa jadi Tuhan justru sedang meninjau alam hasil karya ciptaan-Nya yang pada awal penciptaan sungguh amat baik. Barangkali Tuhan ingin melihat sikap umat manusia terhadap bencana. Mungkin saja melalui bencana alam, Tuhan ingin meminta pertanggungjawaban manusia sebagai mandataris-Nya memelihara alam.

Dalam konteks inilah teologi menemukan titik signifikansi untuk menemukan arti dan makna bencana bagi umat manusia dan lingkungan hidupnya. Teologi berbeda dengan sekedar pemberitaan yang ada di mass media, yang kadangkala disemangati yang penting heboh. Tentu berita, cerita-cerita, pengalaman di sekitar bencana menjadi bahan penting untuk berteologi bencana. Baik itu menurut perspektif penyintas (korban), relawan, pekerja kemanusiaan, wartawan, hingga para rohaniwan dan pemimpin umat yang turut terlibat menemani pengungsi di berbagai tempat pengungsian. Bahkan, amat sayang kalau riwayat kebencanaan dari masa ke masa sejauh tersedia, itu dilewatkan oleh teologi. Bisa jadi dengan merekonstruksi cerita-cerita masa lalu di seputar bencana, bisa bertemu dengan jiwa "gambaru" Indonesia.  

 

Bencana Alam Melahirkan Pengalaman Baru

Ketika Merapi erupsi misalnya, pengalaman harus meninggalkan rumah dalam waktu beberapa hari untuk mengungsi tentu memiliki arti tersendiri bagi para penyintas Merapi. Diakui tidak mudah, ketika harus berpindah ke sana dan kemari, dengan segala keterbatasan fasilitas untuk menopang hidup. Belum lagi, ketika mereka menyadari kehilangan tempat tinggal hingga sanak saudara, dan nanti harus bersiap tinggal di hunian sementara dengan situasi dan kondisi yang serba baru. 

Betapa beratnya meninggalkan rumah kediaman, tercermin dari kisah Mbah Maridjan yang enggan beranjak dari rumahnya walau  Ardi3. Merapi sudah berstatus awas. Simaklah apa yang3 dikatakan Mbah Maridjan sebagaimana direkam A.A. Ariwibowo berikut ini: "Lha  saya di sini (di rumah) kerasan. Nanti kalau ada tamu ke sini malah kecele kalau saya pergi." (Kompas . com , 30/10/2010). Sepertinya ada makna khusus yang tersembunyi ketika Mbah Maridjan bicara soal tamu yang dimaksud. Soal menunggu kalau ada tamu, merupakan segi pengabdian dari Mbah Maridjan sehingga enggan keluar rumah. Apakah tamu yang dimaksud itu adalah si Wedhus Gembel ? Tak ada yang berani memastikan. Karena sebelum semuanya jelas, Mbah Maridjan terlebih dahulu dijemput kematian. Mungkin saja kalimat itu merupakan       sasmita , supaya sikap kesiap-siagaan diutamakan dalam menyambut "tamu". 

 

Merasakan Ketransendenan

Mau mengungsi atau tidak ketika Merapi erupsi sebenarnya merupakan persoalan antara hidup dan mati. Pilihan untuk mengungsi juga bukan hal yang mudah. Apalagi ketika kesiap-siagaan tak tampak di barak-barak pengungsian karena pemerintah yang tak sigap akibat kontijensi plan yang tak mantap. Menjadi pengungsi adalah persoalan berjuang untuk hidup bersama dengan saudara dan saudari yang bisa jadi sebelumnya belum saling mengenal. Karena itulah mereka disebut sebagai penyintas. Istilah yang dipandang lebih tepat ketimbang korban, karena mereka memperlihatkan perjuangannya dalam hidup.

Berhadap-hadapan dengan bencana alam, membuat manusia dipojokkan kembali pada keterbatasan dan ketakmampuannya. Di sinilah ketakutan kolektif disadari. Dalam konteks Merapi, tak heran jika erupsi Merapi lalu dirasakan sebagai ketransendenan yang melampaui segala keterbatasan manusia. Sindhunata dalam KOMPAS 19 November 2010 memberi pemaknaan menarik terkait erupsi besar Merapi. 

"Itulah pengalaman yang membuat orang memandang Merapi bukan sebagai gunung berapi, tetapi sebagai simbol yang memuat ketransendenan. Merapi lalu dipribadikan dan disapa dengan Mbah Merapi. Karena dimuati oleh yang transenden, Merapi harus dihormati. Dan di hadapannya, orang harus bersikap rendah hati. Ketika Merapi menunjukkan kekuasaannya dengan gejala ancaman erupsi, selayaknyalah orang mengakui keagungannya dengan rela menjauhinya. Kekuasaan dan keagungan itu tidak boleh dan tidak bisa dilawan dengan dalih apa pun, juga dengan dalih kesetiaan."  (Sindhunata, "Gara-gara Mbah Merapi")

 

Kekuatan Alam Mengajarkan Sikap Rendah Hati dan Mawas Diri

Bagi Sindhunata, menantang keagungan dan kekuasaan Merapi adalah kebalikan dari sikap rendah hati yang dituntut ketika manusia berhadapan dengan transendensi, yang dilambangkan dengan Merapi. Terangnya, "di sini Mbah Merapi yang kesannya mitologis dan irasional itu ternyata bisa memaksa manusia untuk bersikap arif dan rasional. Arif, agar ia berhati bening dan menjauhi kesombongannya. Dan rasional, agar ia tidak berspekulasi dengan perhitungan apa pun, termasuk kebatinan dan klenik, kecuali fakta bahwa erupsi sudah mengancam."

Sayang, kata Sindhunata lagi, hal ini diabaikan. Akibatnya adalah kurban manusia yang bergelimpangan. Berhadapan dengan Merapi yang njeblug , manusia tak bisa lagi pamer kasaktian. Karenanya, yang bisa dan harus diperbuat hanyalah bertindak secara rasional dan tidak sombong terhadap transendensi. Erupsi Merapi, mau tidak mau memaksa manusia untuk mengakui keterbatasannya dan berupaya semaksimal mungkin menggunakan akal budinya.  Selain itu, erupsi Merapi juga mengajarkan pentingnya sikap mawas diri. Menurut Sindhunata, penduduk lereng Merapi memiliki bahasa sendiri yang menunjukkan pentingnya koreksi "Mbah Merapi lagi  terhadap sikap hidup manusia yang bertepatan dengan erupsi Merapi. reresik awake lan ngresiki manungsane"  (Mbah Merapi sedang membersihkan diri dan membersihkan manusia).

Sikap rendah hati dan mawas diri terny ata dibutuhkan manusia untuk memahami alam semesta yang memiliki irama dan hukum tersendiri. Sinyal bagi Gereja, untuk mengembangkan teologi yang signifikan dan relevan.

 

Mengembangkan Teologi yang Signifikan dan Relevan

Bidang Litbang Sinode GKJ XXV bekerjasama dengan Lembaga Percik mendapat mandat untuk mengembangkan teologi bencana. Apakah teologi bencana ini memiliki signifikansi dan relevansi?

Perbincangan soal teologi bencana muncul dalam persidangan sinode tidak terlepas dari pengalaman kebencanaan. Gempa di Jogja dan Klaten, ketika banyak GKJ menjadi korban merupakan pengalaman berharga. Terkait dengan program mengembangkan teologi bencana, rasanya masih pantas dipertanyakan, jangan-jangan kebutuhan berteologi bencana masih merupakan asumsi bersama karena hidup di negri rentan bencana.Beragam asumsi yang barangkali mendasari keputusan sidang sinode itu masih perlu diuji sehingga menjelma menjadi kebutuhan konkrit. 

Selama tiga hari, 22-24 Maret 2011, Pokja Penanggulangan Bencana Sinode GKJ menyelenggarakan Lokakarya Penanggulangan Bencana bertempat di Pondok Remaja Salib Putih, Salatiga. Bidang Litbang dan Kespel bersama Pokja Penanggulangan Bencana sempat membincang perihal teologi bencana. Beberapa pertanyaan pun muncul, terkait dengan program pengembangan teologi bencana. Beberapa di antaranya adalah:

  • Siapa yang berhak berteologi bencana?  
  • Start  program teologi bencana darimana? Teologi penyintas (korban), relawan,  teolog,
  • pendeta? Pendekatan yang dipakai seperti apa? 
  • Sebenarnya apakah teologi bencana d ibutuhkan? Kebutuhan siapakah, dan untuk apa? 
  • Kalau Sinode GKJ mengembangkan teologi bencana, itu eksklusif ataukah lintas iman? Mengingat karakteristik bencana selalu tidak membeda-bedakan suku, agama, kepercayaan dan keyakinan.

Sejatinya, dibalik pertanyaan-pertanyaan tersebut ada kebutuhan penting yang menjadi dasar program teologi bencana ini.  Jangan sampai program teologi bencana hanya didasari apa kata orang tentang bencana. Penting sekali sebenarnya, bagaimana mendengarkan cerita orang yang mengalami bencana dan menjadi penyintas atau korban. Dalam konteks hidup bergereja, perlu dilihat bahwa GKJ punya pengalaman dengan kebencanaan. Ketika ada bencana, GKJ ada, hadir, dan terlibat di situ. Entah itu sebagai korban, penyintas, relawan, hingga keterlibatan para pendetanya di tengah-tengah situasi bencana. Dari pengalaman perjumpaan dengan para penyintas, ada sinyal bahwa penyintas membutuhkan jawaban teologis atas situasi yang menimpa. Bagi relawan juga membutuhkan refleksi teologis dari apa yang dilakukan dalam karya kemanusiaan.

 

Berteologi dari Pengalaman Kebencanaan ke Arah Mana?

Berteologi bencana lintas iman menjadi perhatian ketika sinode GKJ melalui litbangnya, Lembaga Percik, forum SOBAT (persaudaraan lintas agama) berkumpul di Kampoeng Percik, 19 April 2011, untuk merefleksikan pengalaman kebencanaan. Paham berteologi bencana lintas iman didasari fakta bahwa bencana memang tidak pilih kasih. Dalam pertemuan itu disepakati beberapa peserta untuk mengawal proses berteologi bencana lintas iman. Adalah Pdt. Nani Minarni (Bidang Litbang Sinode GKJ), Pdt. Setiyadi (relawan GKJ), Haryani Saptaningtyas (Percik), dan Hasan Bachtiar (PRB Jogja). Semoga dengan berteologi bencana lintas iman, semangat  gambaru  dalam agama-agama ditemukan dalam wajah yang multikultural sehingga menjadi modal spiritual yang kuat untuk menanggulangi bencana.*

---------------------------------------------------------

1.     Sebutan  "penyintas"  dipandang  lebih  tepat  ketimbang  predikat  "pengungsi"   Penyintas  berasal  dari  kata  "sintas"  yang  berarti  terus  bertahan  hidup,  mampu  mempertahankan  keberadaannya  (Kamus  Besar  Bahasa  Indonesia, 2005:1072),  sedangkan  kata  pengungsi  lebih  menitikberatkan  pada  aspek  menghindarkan  diri  dari  bahaya  atau menyelamatkan  diri  (Kamus  Besar  Bahasa  Indonesia,  2005:1247).  Sebagai  catatan,  UU  No.  24/2007  tentang Penanggulangan Bencana masih memakai istilah pengungsi!

2.     Bila gambar di atas terbukti asli tanpa rekayasa komputerisasi, terlihat seperti Anak Manusia yang Tersalib.  Terasa tepat tema Masa Paskah yang lalu, dari erupsi Merapi "Lihatlah Manusia Itu!"  Namun bagaimanapun ungkapan tersebut hanyalah kesan subyektif yang tentu bisa diabaikan secara layak oleh khalayak.

Ardi  (Jw.) adalah nama lain dari gunung. Selain itu masih ada nama lain lagi yakni arga , himawan dan aldaka.


Share this :

Berita "Wacana Umum" Lainnya