ORBITUARI: Pdt. Em. Brotosemedhi

Berita lelayu Pdt Brotosemedi membawa kenanganku ke satu artikel kecil bertahun-tahun lalu. Sugeng kondur Mbah Broto.  Sugeng sesrengan malih kaliyan Ibu wonten ing kalanggengan.

Pdt. Brotosemedi Wiryotenoyo (Tlepok 1929 - Salatiga,27 Mei 2013)
Wawancara 23 April 2008 di Salatiga
Oleh Yahya Tirta Prewita

"Terima kasih telah datang berkunjung. Sebagai orangtua, bila masih ada yang mau datang itu berarti masih nguwongke. Lha sudah pensiun 18 tahun ini kan status sekarang jadi ulama kiyeng,  artinya. usia lanjut masih aktif dan kaki-kaki masih mayeng-mayeng. Dengan demikian masih menunggu tuwa, metune nyawa." Tahun ini Pdt. Brotosemedi Wiryotenoyo berusia 78 tahun, meskipun rambut sudah memutih,  kesegaran dan kesigapan memancar segar di raut mukanya.

Humor khas Pak Brotosemedi senantiasa mengalir dalam perkunjungan dan percakapan, dengan siapapun yang datang berkunjung ke rumah beliau di Pastori GKJ Sidomukti, Jl. Brigjen Sudiarto Salatiga.  Meski demikian beliau senantiasa menjunjung pesan dari ayahnya bahwa bila membuat lelucon jangan sampai:
1. Menggunakan ayat Kitab Suci.
2. Untuk menjatuhkan orang lain.
3. Bersifat porno.

"Tak semua berbakat humor, kebetulan saya bersaudara tumbuh dengan bakat dan lingkungan yang mendukung. Sebagai anak ke delapan dari 13 bersaudara, humor sangat menguatkan hati dalam menghadapi beban hidup!"

***


Sosok Pdt. Brotosemedi memang figur yang penuh pertentangan. Seorang rekan pendeta pernah berkomentar dalam forum sidang sinode, "Kita tahu siapa Brotosemedi Wiryotenoyo, siapa yang tidak dilawan olehnya?"  Era tahun 1980-an kondisi sosial politik didominasi oleh kekuasaan tunggal di tangan Presiden Suharto. Dengan mengikuti panggilan imamat am orang percaya, panggilan kenabian, dan panggilan rajawi, Pdt. Brotosemedi pribadi menyurati Presiden mengingatkan bahwa pembunuhan preman-preman di tahun 1983 dengan istilah. petrus (penembak misterius) dan. matius (mati misterius) adalah bertentangan dengan kemanusiaan dan hukum, tak berapa lama kemudian ada kiriman mayat digeletakkan di halaman rumahnya. Juga sikap bahwa pemaksaan asas tunggal Pancasila  bahkan juga kepada ormas keagamaan termasuk gereja adalah suatu intervensi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara iman. Masa yang dirasa paling sulit adalah ketika Gubernur Ismail menjabat, koran-koran di Jawa Tengah yang biasa memuat tulisan Pak Broto tak ada yang berani memuat artikel yang ditulisnya, "Itu kan membunuh nafkah orang. Anak saya enam orang, harus mencari tambahan penghasilan, dan menulis yang bisa saya lakukan, kok itupun dicekal!"

Dalam pengakuan Pak Brotosemedi, sikap itu bermula dari pemahamannya atas jatidiri gereja gereformeerd, yang dengan tegas mendorong peran kenabian gereja atas negara. "Paling tidak, dengan sikap seperti itu saya dapat bertanggungjawab kepada Tuhan". Kepada reporter Kayuwanan bulan April ini, Pdt. Brotosemedi bercerita bahwa baru saja menerima surat dari warga GKI di Bandung, yang mendukung sikap kenabian yang konsisten ditunjukkannya, baik lewat tulisan di media massa, dalam ruang kelas saat menjadi dosen di Universitas Kristen Satya Wacana, juga lewat khotbah-khotbah yang disampaikan di mimbar gereja.

Saat ditanya mengapa banyak pendeta tidak punya nyali, padahal juga mendapatkan pendidikan dan cara berpikir sebagaimana yang dimiliki Pak Broto, diutarakan bahwa, "Masalah para pemimpin umat sekarang adalah mereka ketidakberanian menyatakan sikap, yang lebih dipikirkan adalah keselamatan diri sendiri. Situasi sebagai kelompok minoritas ini seperti konteks jemaat yang menerima surat 1 Petrus, mereka kelompok kecil yang tersebar di bawah kekuasaan kekaisaran Romawi, karena itu harus siap memberikan pertanggungjawaban atas imannya kepada dunia. Sindrom minoritas membuat takut, dan cenderung memikirkan keselamatan diri terlebih dulu. Bila pendeta malah ikut partai politik, tak mungkin ia berani mengkritisi partainya sendiri."

***


Menjelaskan tentang spiritualitas pelayanan seorang pendeta yang seperti apa yang dibutuhkan berhadapan dengan tantangan sekarang, Pak Broto menerangkan tiga hal yang perlu diingat oleh para pendeta di GKJ.

  1. Bahwa sebutan yang dipakai sekarang itu adalah pendeta, bukan domine, atau dominus, yang berarti tuan. Budaya Jawa menempatkan pendeta sebagai pemimpin rohani. Oleh karena itu oleh kerohaniannya haruslah "pawitreng aryanalaksita" yang berarti bening dalam perkataan dan perilaku. Supaya bening harus mendhitani,  tak bisa bersikap sebagai tuan. Pedoman yang dipakai untuk rujukan adalah Kitab Suci, Pokok Ajaran Gereja, dan Tata Gereja. Itu haruslah dengan tegas ditempatkan sebagai pedoman hidup dan pelayanannya.
  2. Pendeta juga disebut Pangoning Pasamuwan, sebagai gembala jemaat maka tugas penggembalaan adalah yang utama. Budaya Jawa sangat menghormati tamu, ruang tamu selalu lebih besar dari ruang yang ditinggalinya. Maka perkunjungan kepada warga haruslah diutamakan. Saat aktif sebagai dosen, tetap mengadakan perkunjungan kepada jemaat tiga kali seminggu. Itu yang membuat keberadaan pendeta mendapat tempat dan ikatan yang lekat dengan jemaat.
  3. Bagaimanapun juga pendeta adalah warga masyarakat. Ia terikat dengan kehidupan bersama, harus srawung dan menempatkan diri sebagaimana wajib dilakukan oleh warga masyarakat yang lain. Dengan demikian pendeta juga harus bisa rumangsa, jangan malah ajeg rumangsa bisa.Perkara ada pendeta yang jatuh tergoda karena kebutuhan, atau kesalahan yang tidak semestinya. Karena pendeta juga manusia. Saat ini uang seakan bisa membuat ada semua kebutuhan hidup kita. Hati-hatilah mengendalikan diri, supaya jangan malah uang yang mengendalikan kita.


"Apabila ada masalah di jemaat, juga termasuk masalah yang terkait dengan sikap dan perilaku seorang pendeta, maka majelis jemaat harus dengan tegas dan bijaksana memutuskan perkara. Itu adalah kewenangan majelis, karena Klasis dan Sinode hanya berwenang dalam urusan ajaran, sedangkan sikap dan perilaku adalah tugas Majelis untuk mengadakan penggembalaan. Ada kata-kata mutiara. "noblesse oblige", bahwa bersama kedudukan yang tinggi (bangsawan) juga terkandung tanggungjawab yang besar. Kedudukan Majelis Gereja adalah dewan tertinggi untuk memutuskan perkara-perkara penggembalaan di jemaat. Kebersamaan gereja-gereja sesinode adalah persekutuan jemaat yang bersama-sama berjalan, melalui tuntunan tata gereja yang disepakati bersama pula."

***


Sangat menarik bahwa konseptor Pokok-pokok Ajaran GKJ yang disahkan dalam sidang sinode antara tahun 1996 dan direvisi tahun 2005 ini ternyata juga pernah diperdi oleh Majelis Gereja di Salatiga, tidak diperbolehkan berkhotbah. Menurut Pak Broto itu karena ada yang tidak suka saat ia menegor penyalahgunaan dana gereja yang saat itu mendapatkan bantuan besar dari gereja di luar negeri. Sesudah sebulan ada pendeta Belanda yang membela Pak Broto di sidang majelis, sehingga dicabutlah keputusan yang melarang Pak Broto untuk berkhotbah lagi.

Sejak istri terkena serangan stroke dua setengah tahun lalu, dan karena itu membutuhkan pendamping yang harus senantiasa berjaga menolong bila sewaktu-waktu dibutuhkan, maka Pak Broto-lah yang berjaga setiap malam. "Itu adalah stroke ketiga yang menimpa istri saya. Opname di rumah sakit ada seorang ibu warga gereja yang setia berjaga sampai minggu kedua, namun tidak ada kemajuan apa-apa. Saya berpikir, bahwa mungkin yang menjadi penghalang utama kesembuhannya adalah karena ia merasa sudah tidak berguna lagi, sebagai wanita, sebagai istri, sekarang hanya dapat berbaring tanpa daya.  Maka saya sendiri yang ganti menunggu. Betul juga, saat malam dengan isyarat istri minta minum, saya ambilkan, hanya diminum sedikit. Lalu saya bilang kok hanya minum sedikit, saya habiskan ya. Dan saya minum di hadapan istri sampai habis dari gelas minumnya. Sesudah itu mulai ada kemajuan, istri mulai bicara. Sekarang sudah dua setengah tahun, bila pagi hari dengan kursi roda saya bawa berjalan-jalan di luar. Sekalipun phisik lumpuh, akan tetapi kesadaran dan komunikasi dengan semua dapat dikerjakan dengan baik, juga ada kegembiraan hidup. Saya berpikir, dengan semua ini Tuhan bersabda pada saya: He Broto, ini karuniaKu untukmu dapat membayar hutang kepada istrimu! Lha bagaimana, enam anak semua istri yang mengandung dan melahirkan, begitu lahir disebut sebagai anaknya si Broto!" Bahkan dalam menghadapi keadaan sulit humor tetap mewarnai cerita-cerita Pak Broto.

***

Perkunjungan diakhiri dengan doa bersama, Ibu Brotosemedi sendiri yang minta didoakan. Genggam erat seakan tak rela pamit harus diucapkan. "Benjang badhe sowan malih, ngangsu cerita Mbah".


Share this :

Berita "In Memoriam" Lainnya