MEWARTAKAN KASIH ALLAH

Editor : Pdt. Darsono Eko Nugroho, M.Th

Penerbit : TPK Yogyakarta untuk Sinode GKJ

Tahun terbit : 2009

Jumlah halaman : 138+xii

Ukuran : (tidak ada data dari penerbit)

ISBN : 979-8361-74-1

Buku Mewartakan Kasih Allah dalam Konteks Indonesia Masa Kini merupakan bagian dari dokumentasi Lokakarya Pekabaran Injil (PI) Kontekstual tahun 2008. Lokakarya ini merupakan tindak lanjut dari Konsultasi PI yang selama ini menjadi agenda rutin Bidang Kesaksian Pelayanan Sinode GKJ. Hal mana menunjukkan bahwa GKJ memiliki perhatian yang besar terhadap tugas panggilan Gereja mewartakan Injil. Berkat Injil yang diwartakan lahirlah Gereja, yakni umat Allah yang merespon berita Injil. Bukti yang tak boleh dipandang sepi adalah dengan lahirnya gereja mandiri di bumi Swarnadiva yang menamakan diri Gereja Kristen Sumatra Bagian Selatan (GKSBS). Itu adalah berkat PI GKJ. Ternyata ada Gereja di Indonesia yang dilahirkan oleh Gereja Lokal bukan oleh Lembaga Misi dari Barat. Dan, Gereja yang membidani itu adalah GKJ. Banyaknya Yayasan milik GKJ yang berkarya di berbagai bidang kehidupan pun akan haram hukumnya bila dilepaskan dari kuatnya perhatian GKJ pada karya PI.

Racikan Buku Mewartakan Kasih Allah dalam Konteks Indonesia Masa Kini

Buku ini diracik sedemikian hingga tersusun sebagai berikut:

BAGIAN A, berisi term of reference dari lokakarya, titik tolak program, arah umum, proses lokakarya, dan pembahasan makalah. Bagian ini diharapkan memberi gambaran kepada pembaca tentang latar belakang lokakarya ini, bagaimana lokakarya ini berlangsung, dan pokok-pokok persoalan apa saja yang digumuli bersama dengan narasumber.

BAGIAN B, berisi hasil diskusi kelompok setelah menggumuli topik-topik pembahasan yang memberi inspirasi mengerjakan PI secara kontekstual. Buah dari diskusi kelompok ini adalah program PI yang perlu mendapat perhatian dari Gereja-gereja Kristen Jawa.

BAGIAN C, berisi tentang daftar bacaan dan makalah. Bila pembaca menghendaki mendalami materi yang disampaikan narasumber bisa memanfaatkan bagian ini. Selain itu disertakan pula uraian tentang tema Sinode GKJ serta sambutan Ketua Bidang Kesaksian Pelayanan waktu lokakarya.

BAGIAN D, berisi lampiran susunan panitia, daftar utusan (peserta) lengkap dengan alamat, serta daftar pembagian kelompok (h.2-3).

Dengan racikan tersebut, ada harapan supaya pembaca tidak kehilangan konteks percakapan dalam lokakarya PI kontekstual. Dalam buku ini, pokok-pokok pikiran hasil konsultasi PI GKJ Tahun 2004 yang diselenggarakan oleh Deputat Kespel Sinode XXIII GKJ disampaikan Pdt. Darsono Eko Noegroho (h.45-63), untuk membantu peserta melihat kesinambungan proses. Memang, keseluruhan dinamika percakapan baik yang terjadi di pleno maupun kelompok tidak terekam dengan lengkap dalam buku ini. Sekalipun demikian, bagian A buku ini cukup memberi gambaran proses berlangsungnya lokakarya. Dengan tersajinya sub bagian A.03 Pembahasan Makalah (h.11-20), terasa membantu pembaca untuk menemukan titik-titik perhatian dalam rangka PI kontekstual.

Dari Konsultasi PI Menjadi Lokakarya PI Kontekstual

Sebelum tahun 2008, istilah yang dipakai adalah Konsultasi PI.  Sejak 2008 menjadi Lokakarya PI Kontekstual. Konsultasi berarti pertukaran pikiran untuk mendapatkan kesimpulan (nasihat, saran, dsb) yang sebaik-baiknya. Lokakarya merupakan pertemuan antara para ahli (pakar) untuk membahas masalah praktis atau yang bersangkutan dengan pelaksanaan dalam bidang keahliannya. Pilihan pada lokakarya memiliki konsekuensi bahwa pada Lokakarya PI GKJ 2008 dihadiri banyak pakar dari berbagai disiplin ilmu. Sebutlah: Pdt. Widi Artanto, M.Th - pakar Misiologi; Pdt. Darsono Eko Noegroho, M.Th - pakar Pembangunan Jemaat; Pdt. Sulendra Parto Atmodjo, M.Si - pakar Pluralisme; Dr. Bambang Subandriyo, Ph.D -pakar Budaya Jawa; Pdt. Pudja Prijatma, M. Th (Ki Atma) - pakar hubungan lintas iman; dan Pdt. Bambang Mulyatno, M.Si - pakar bidang kesaksian dan pelayanan Sinode GKJ.

Istilah "kontekstual" yang turut merangkai acara Lokakarya PI hendak memberi tonjolan penting bahwa GKJ makin sadar akan konteks.

PI GKJ Makin Sadar akan Konteks

Kesadaran akan konteks dalam lokakarya PI Kontekstual GKJ 2008 ditunjukkan melalui makalah yang disampaikan oleh narasumber. Konteks kemajemukan agama di Indonesia, konteks budaya Jawa, konteks kemanusiaan, pengangguran, kemiskinan dan pelanggaran HAM, serta kecenderungan fundamentalisme agama menjadi perhatian para narasumber dalam memberikan sumbang pikirnya.

Konteks Kemajemukan Agama dicermati oleh Pdt. Sulendra P.A., melalui makalah berjudul "Pekabaran Injil dalam Konteks Kemajemukan Agama". Menghadapi fakta kemajemukan, menurut Sulendra dengan bertumpu pada pandangan Eka Darmaputera, membutuhkan transformasi diri. Dengan transformasi diri akan membantu Gereja untuk selalu hadir sebagai ‘realitas yang nampak' sekaligus ‘pengungkap misteri' dari karya penyelamatan Allah dalam Kristus di tengah masyarakat dan agama-agama bukan Kristen (h.82).

Konteks Budaya Jawa yang disoroti oleh Dr. Bambang Subandrijo menuntun pada penemuan kebenaran-kebenaran lokal dalam konteks masyarakat dan budaya Jawa. Sebuah kritik terhadap para zendeling dilontarkan Bambang Subandriyo. "Penginjilan di Jawa oleh para zendeling pada masa lalu lebih merupakan pengalienasian orang Jawa dari alam berpikir dan akar budayanya ketimbang pentransformasian budaya Jawa dalam terang Injil, atau pencarian kebenaran bersama dalam perjumpaan Injil dengan budaya Jawa (h.98). Kritik ini sekaligus men-dorong GKJ untuk berteologi kontekstual Jawa dalam rangka Pekabaran Injil. Kebudayaan Jawa diberi tempat untuk mengungkapkan penghayatan relasionalnya dengan Allah sang Penyelamat. Paling tidak, sebuah sugesti indah diberikan Bambang Subandrijo ketika menyampaikan kedalaman orang Jawa dalam bersembahyang. Catur sembah: raga, cipta, jiwa, dan rasa yang khas Jawa bisa menjadi struktur bangunan liturgi GKJ untuk mengungkapkan identitas penghayatan imannya. GKJ sebagai gereja yang mandiri dalam berteologi perlu mengerjakan misi pembebasan dari hegemoni teologi Barat. Gerakan pembebasan Kyai Sadrach perlu semakin mendapat tempat mempercakapkan sebagai inspirasi kisah exodus teologi kontekstual Jawa.

Selanjutnya, konteks kemanusiaan, pengangguran, kemiskinan dan pelanggaran HAM, menurut Pdt. Bambang Mulyatno merupakan masalah khas dunia ketiga seperti Indonesia. Karena itu, GKJ sebagai bagian dari Gereja-gereja di Indonesia perlu memikirkan bentuk misi yang relevan (h.121). Sebagai Gereja yang dipanggil untuk melayani kemanusiaan maka panggilan GKJ adalah menolong mayoritas penduduk menemukan kemanusiaan mereka secara penuh. GKJ bisa mengambil wujud misi melalui solidaritas kepada mereka yang miskin melalui pelayanan diakonia maupun sikap profetis gereja melalui pelayanan advokasi bahkan litigasi.

Di tengah kecenderungan fundamentalisme agama, menurut Ki Atma, pewartaan Injil perlu dibarengi dengan sikap tidak memutlakkan persepsi tentang Allah dan penafsiran atas Kitab Suci. "Pewartaan Injil dalam arti kristenisasi jelas harus dijauhi" (h.131). Justru, kristenisasi sama sekali tidak sesuai dengan Injil, yang adalah kasih Allah yang tanpa pilih kasih kepada orang baik dan jahat. Lalu, bagaimana dengan mewartakan Injil? Kalau paham ada paham kerajaan Allah sebagai pemerintahan Allah dengan indikasi damai sejahtera, rukun-ramah, adil, jujur, penuh kasih, maka tugas dan tanggung jawab mengupayakan kehidupan demikian itu bukan hanya milik orang Kristen. Itu semua milik semua orang "waras".

Kesadaran akan konteks mau tidak mau membawa pada pergumulan tentang paradigma misi yang relevan. Dan, menurut Pdt. Widi Artanto, paradigma misi yang relevan tidak lain adalah Kerajaan Allah. Misi tidak lagi dipahami sebagai ekspansi agama, tetapi sebagai panggilan Allah demi cinta kepada sesama, tawaran dan undangan untuk mengalami kasih Allah. Dengan paradigma ini, menurut Widi Artanto, "kita bisa melihat peluang dan peran gereja di tengah masyarakat majemuk Indonesia" (h.68). Mengingat, dalam misi Kerajaan Allah terkandung empat aspek yang menjadi dambaan semua orang. Keempat aspek itu adalah misi pemulihan ciptaan, misi pembebasan, misi kehambaan dan misi perdamaian. Terhadap keempat aspek itu, GKJ didorong untuk melakukan implementasi secara kreatif bersama semua pihak yang berkehendak baik menuju pemulihan ciptaan, pembebasan dari ketergantungan dan penindasan, berjuang melawan arogansi dan keangkuhan, serta mengembangkan dialog kehidupan dalam rangka perdamaian. Dalam penginjilan pribadi, sejatinya merupakan bagian dari misi perdamaian. Memenangkan jiwa tidak bisa memungkiri pentingnya hidup damai dengan diri sendiri, sesama dan Tuhan. Jiwa yang menang adalah jiwa yang terbebas dari kebencian terhadap apa pun dan siapa pun!

Kisah dan Kiprah GKJ Mewartakan Kasih Allah dalam Konteks Indonesia Masa Kini

Adanya judul sub bagian B.01.D buku ini: "Kisah dan Kiprah GKJ Mewartakan Kasih Allah dalam Konteks Indonesia Masa Kini" hendak memberi penegasan jatidiri GKJ sebagai Gereja yang serius mengerjakan PI. Dituliskan dalam buku,

"Sejak tahun 1931 ketika GKJ lahir, usaha mengembangkan PI melalui penyelenggaraan sekolah-sekolah Kristen, pelayanan di bidang Kesehatan, dan melalui bacaan-bacaan, terus-menerus menjadi perhatian GKJ. Demikian pula dengan PI di Nusakambangan (Akta Sinode III Tahun 1951 Art.39 dan Akta-akta Sinode berikutnya); PI di daerah Sumatra Selatan (Akta Sinode I Tahun 1949 Art. 16 sampai dengan Akta Sinode XII Tahun 71 Art.48 dan 137); PI kepada para urbanisan (Akta Sinode VI Tahun 1958 Art. 21 sampai dengan Akta XII Tahun 1971 Art. 157); PI kepada orang-orang terpelajar-kepanduan-dan kaum buruh (Akta Sinode V Tahun 1956 Art. A.a.1) menjadi perhatian penuh GKJ. Seiring dengan kiprah PI GKJ sebagaimana dijelaskan di atas, usaha-usaha untuk terus-menerus merevisi dan memperbaiki Pedoman PI GKJ dilakukan sejak Sidang Sinode Tahun 1949, Konsultasi danLokakarya-lokakarya PI secara periodik senantiasa diselenggarakan sampai dengan tahun 2008 yang lalu." (h.24)

Keterangan dalam buku tersebut menantang siapa saja yang merasa handarbeni GKJ untuk merefleksikan dan mengisahkan perjalanan PI GKJ. Bila jejak pekabaran Injil Gereja Perdana ditulis dalam Kisah Para Rasul, mengapa tidak dengan kisah PI GKJ? Tujuan penerbitan dokumentasi Konsultasi PI hingga Lokakarya PI Kontekstual semacam ini diharapkan menjadi bahan berguna bagi siapa saja untuk mengisahkan kiprah GKJ mewartakan kasih Allah dalam konteks Indonesia. Terutama menyambut tantangan ke depan.

Pada zaman yang semakin pintar dengan banyak fasilitas, tentu bentuk pengisahan tidak hanya dalam buku. Misi pembebasan Kyai Sadrach sangat menarik, tidak hanya untuk ditulis menjadi karya ilmiah, dilukis di kanvas, tetapi bisa juga diperagakan melalui berbagai media seni. Selalu dibutuhkan karunia kreativitas dalam rangka menggali inspirasi misi.

Sekarang, GKJ mendapat tantangan untuk mengerjakan misi di tengah buruh migran. Hongkong dan Korea misalnya, sungguh menunggu sambutan GKJ mengerjakan misi kemanusiaan yang adil dan beradab. Keterlibatan GKJ dalam gerakan ekumenis regional dan internasional kiranya semakin membuka peluang melakukan kerjasama dengan berbagai Gereja untuk mengerjakan misi yang sama. Tentu, sebagai gereja yang mandiri, GKJ perlu menunjukkan mental kesiap-sediaan menanggapi perutusan. Paling tidak, penghayatan GKJ pada suatu bulan PI dalam rentang satu tahun liturgi perlu menjadi bagian liurgisasi kehidupannya. Taruhlah bulan Mei sebagai bulan PI, misalnya. Jemaat GKJ bisa diajak merefleksikan kisah dan kiprah GKJ mewartakan kasih Allah melui bahan pembinaan khusus. Jemaat bisa dihimbau menghidupkan kembali kantong PI sebagai persembahan hidup demi semakin meluasnya Kerajaan Allah. Demi kemuliaan Allah yang lebih besar.*&*

(Setiyadi)


Share this :

Berita "Resensi Buku" Lainnya