PENGHAYATAN TEMA SIDANG SINODE XXVI GKJ

Terms of Reference

PENGHAYATAN TEMA SIDANG SINODE XXVI GKJ

Sragen, 11-13 Sept. 2012 - Karanganyar, 13-17 Nov. 2012

 "Allah Kehidupan, Tuntunlah Kami ke dalam Keadilan dan Perdamaian"

(God of life, lead us to justice and peace)

Pengantar

Selama daur Sidang Sinode XXV GKJ (2009-2012), kita telah diajak untuk mendalami, memahami, dan menghayati panggilan Tuhan kepada Gereja-Nya agar senantiasa mengusahakan "Kesatuan Roh dalam Ikatan Damai Sejahtera" (Efesus 4:3). Melalui berbagai kesempatan, baik pada saat persidangan-persidangan Klasis, maupun pertemuan-pertemuan kebersamaan lainnya, semangat tema Sidang Sinode XXV GKJ tersebut senantiasa diperdengarkan. Kita berharap, hal itu sedikit banyak akan memberi pengaruh yang positip terhadap kehidupan bergereja kita, dan semoga masing-masing dapat merasakannya.

Tema Sidang Sinode XXV GKJ tersebut diambil dari rancangan tema pertemuan raya dua badan oikoumenis dunia, dhi. World Alliance of Reformed Churches (WARC) dan Reformed Ecumenical Council (REC) dalam semangatnya untuk bersatu ke dalam wadah badan oikoumenis yang baru yang kemudian diberi nama World Communion of Reformed Churches (WCRC). Bukan tanpa sengaja, bahwa semangat "kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera" yang merupakan adopsi dari rancangan tema pertemuan raya WCRC 2010 itu dipilih sebagai tema Sidang Sinode XXV GKJ. Konteks GKJ pada waktu itu memang membutuhkan penguatan untuk memperkokoh kesatuan internal di tengah eforia demokrasi yang diwarnai berbagai konflik di tengah masyarakat, dan yang dampaknya juga dirasakan dalam kehidupan gereja-gereja termasuk GKJ. Tentu saja upaya pendalaman, pemahaman, dan penghayatan tema Sidang Sinode XXV GKJ tersebut tidak akan pernah berakhir dan akan terus bergema di sepanjang kehidupan bergereja kita.

Selanjutnya, apa pilihan tema untuk Sidang Sinode XXVI GKJ yang akan berlangsung pada September dan November 2012 mendatang? Bagaimana pendalaman, pemahaman, dan penghayatannya hendak diupayakan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, melalui tulisan ini hendak disampaikan beberapa pokok pikiran, terutama berkenaan dengan dasar pertimbangan pemilihan tema, dan implementasinya bagi upaya pendalaman, pemahaman, dan penghayatan tema tersebut ke depan.

Dasar Pertimbangan

Pada pertemuan Panitia Sidang Sinode XXVI GKJ bersama Bapelsin XXV GKJ tanggal 8 Maret 2011 di Salatiga, Bapelsin XXV GKJ mengusulkan agar persidangan mendatang mempergunakan tema Sidang Raya ke-10 Dewan Gereja Dunia (DGD) tahun 2013. Tema SR DGD yang akan berlangsung di Busan, Korea Selatan, pada Oktober 2013 tersebut adalah: "Allah Kehidupan, Tuntunlah Kami ke dalam Keadilan dan Perdamaian" (God of Life, Lead Us to Justice and peace). Rumusan tema tersebut disampaikan melalui konferensi pers oleh Pdt. Dr Walter Altmann selaku moderator Komite Pusat DGD pada 16 Februari 2011. Sebelumnya, dalam penjelasannya di depan Komite Pusat DGD, Pdt. Dr Walter Altmann menyampaikan beberapa pokok pikiran berkenaan dengan latarbelakang pemikiran serta proses yang dilakukan dalam menentukan pilihan tema SR ke-10 DGD tahun 2013 tersebut. (Lampiran 1: Laporan Moderator Komite Pusat WCC).

Usulan agar Sidang Sinode XXVI GKJ mempergunakan tema Sidang Raya Dewan Gereja se Dunia tersebut didasarkan pada beberapa pertimbangan sebagai berikut:

  1. Sebelum tema SR DGD 2013 ditetapkan oleh Komite Pusat DGD, terlebih dahulu telah dilakukan kajian mendalam oleh Komite Perencanaan sehingga menghasilkan draft tema yang layak untuk didiskusikan. Mengingat SR DGD 2013 akan diselenggarakan di Asia, maka draft dari Komite Perencanaan tersebut terlebih dahulu dikonsultasikan kepada para teolog Asia guna memperoleh pemandangan umum dari perspektif Asia. Melalui forum Konsultasi Teologi yang disponsori oleh WCC bekerjasama dengan Korean Assembly Planning Committee (KAPC) dan Christian Conference of Asia (CCA) pada 10-12 November 2010 di Seol, Korea Selatan dihasilkan dokumen yang ternyata sejalan dengan pokok pikiran Komite Perencanaan. Khususnya berkenaan dengan konteks Asia, situasi di semenanjung Korea perlu mendapatkan perhatian DGD. Demikian pula dalam konteks Asia tema tersebut dipandang relevan karena bersentuhan langsung dengan masalah gender justice, economical justice, dan pentingnya menghidupi kebersamaan di tengah kepelbagaian suku, agama dan kepercayaan. (Lampiran 2: Hasil konsultasi teologi KAPC-CCA, "Hidup Bersama di dalam Keadilan dan Perdamaian Allah").
  2. Pertimbangan lain untuk usulan tersebut juga didasarkan atas hasil pembicaraan 22 pimpinan Sinode Gereja-gereja anggota WCC di Indonesia dan Igreja Protestante iha Timor Lorosae, bersama pimpinan Konferensi Gereja-gereja Asia (CCA) serta utusan Dewan Gereja se Dunia (WCC), pada 11-14 November 2011 di Denpasar, Bali. Pada pertemuan tersebut masalah keadilan ekonomi Utara-Selatan misalnya, kembali diangkat. (Lampiran 3: Pernyataan bersama Gereja-gereja anggota WCC di Indonesia dan Timor Leste).
  3. Di samping dua pertimbangan di atas, usulan tersebut juga di dasarkan pada hasil Konsultasi Teologi Nasional yang diselenggarakan oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), pada 31 Oktober s.d 4 November 2011, di Cipayung, Bogor Jawa Barat. (Lampiran 4: Hasil konsultasi teologi nasional PGI, "Berjuang Mewujudkan Perdamaian dan Keadilan").

Ketiga pertimbangan di atas hendak menjelaskan kepada kita akan pergumulan yang sedang di hadapi oleh Gereja-gereja baik pada aras Internasional, Regional, maupun Nasional. Sebagai anggota WCC, CCA, dan PGI, GKJ pada dasarnya berada di dalamnya sekaligus turut merasakan pergumulan tersebut dengan sungguh-sungguh. Oleh karena itu, tema tersebut kami pandang relevan dengan pergumulan GKJ saat ini. "Allah Kehidupan, Tuntunlah Kami ke dalam Keadilan dan Perdamaian", adalah merupakan doa dari segenap Gereja, sekaligus doa dari segenap keluarga besar GKJ.

Khusus bagi GKJ, relevansi tema tersebut pertama-tama berkenaan dengan kepentingan ke luar, yaitu pergumulan GKJ di tengah masyarakat.

  1. Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa selama tahun 2009-2012 tidak kurang dari lima gereja mengalami ancaman kekerasan, dhi. GKJ Sukorejo Pp. Curug Sewu, GKJ Trucuk, GKJ Gebyog, GKJ Ketandan Pp. Manjung, GKJ Manahan (berkenaan dengan kasus buka puasa bersama), dan terakhir kali kembali GKJ Trucuk mengalami ujian pembakaran gedung gereja pada 2011 yang lalu. Tentu saja fenomena ini tidak terlepas dari situasi politik yang tengah bergejolak, dan yang menurut para pengamat bersumber pada ketidakadilan dan lemahnya penegakan hukum di Indonesia.
  2. Pergumulan GKJ di tengah masyarakat juga diwarnai dengan keperihatinan yang mendalam atas ancaman disharmoni dalam hubungan lintas iman. Hasil kajian Teologi Lokal misalnya, mengindikasikan pentingnya negara menghargai kepercayaan yang hidup dan berkembang di masyarakat, terutama kepercayaan yang telah mengakar dalam masyarakat dan turut membentuk serta mempangaruhi sistem sosial. Demikian pula relasi-relasi sosial yang rusak akibat intervensi negara yang berlebihan seperti UU Perkawinan yang dalam praktik menyulitkan bagi terjadinya perkawinan antar pemeluk agama yang berbeda, misalnya.
  3. Kemiskinan terlanjur dimaknai secara ekomis dan diukur berdasarkan spirit materialisme yang kadung mendarah daging. Sementara itu, nilai-nilai spiritualitas yang mendorong adanya saling pengertian, cinta kasih, dan kebersamaan menjadi semakin berkurang, tergerus oleh spirit materialisme. Padahal, itu semua pada dasarnya merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya. Pergumulan GKJ di tengah masyarakat yang demikian membuatnya harus memikirkan keduanya sebagai bagian dari tugas dan tanggungjawab Gereja dalam pewartaan. Dalam rangka pelayanan terhadap korban bencana oleh Pokja PB GKJ misalnya, tampak jelas bahwa kekayaan masyarakat, yang didorong oleh semangat saling pengertian, cinta kasih, dan kebersamaan itu sejatinya masih cukup besar. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa di sana sini, spirit materialisme, baik yang nyata melalui kebijakan-kebijakan pemerintah maupun perilaku masyarakat sendiri menyebabkan ketegangan yang semestinya tidak perlu terjadi di tengah suasana keperihatinan. Contoh dari pelayanan Pokja PB GKJ tersebut, sekaligus menggambarkan adanya persoalan yang lebih mendasar yang sedang kita hadapi bersama, yaitu perlunya program pemberdayaan masyarakat, termasuk penguatan budaya dan sistem sosial yang baik yang sudah mereka miliki, dalam rangka kesiapan untuk menghadapi bencana, baik bencana alam, bencana akibat kerusakan lingkungan hidup, maupun bencana sosial yang kerap kali terjadi.

Relevansi tema yang dinyatakan dalam bentuk kalimat doa "Allah Kehidupan, Tuntunlah Kami ke dalam Keadilan dan Perdamaian" itu juga berkenaan dengan kepentingan ke dalam, berkenaan dengan pergumulan GKJ sendiri.

  1. Sistem bergereja yang dibangun berdasarkan cara berpikir dialektis untuk pertumbuhan dalam semangat kebersamaan dan kemandirian terasa tidak lagi mudah untuk dimengerti, dipahami, dan dijalani bersama. Kepresbiterialan, sebagai dasar sistem bergereja GKJ, seringkali dipahami secara dangkal demi menegaskan watak kemandirian bahkan kesendirian, sehingga mengurangi bahkan mengabaikan spirit kebersamaan yang sesungguhnya melekat pada pemahaman dasar kepresbiterialan sebagaimana diajarkan dalam PPA GKJ. Di tengah egoisme kepresbiterialan tersebut, tema "keadilan" menjadi relevan bagi pergumulan internal GKJ saat ini.
  2. Fakta keberagaman baik dalam cara pandang, sikap, maupun perilaku gereja yang disebabkan oleh perbedaan wilayah, kultur, kemampuan ekonomi, dan cara berpikir teologi, sedikit banyak telah menyebabkan terjadinya ketegangan di sana-sini. Bahkan dalam lingkup yang kecil di gereja, seringkali terjadi konflik yang semestinya tidak perlu. Di tengah fakta keberagaman yang potensial menyebabkan ketegangan dan konflik, tema "perdamaian" menjadi relevan bagi pergumulan internal GKJ saat ini.
  3. "Keadilan dan perdamaian", juga menjadi pertanyaan sekaligus tantangan bagi GKJ saat ini. Khususnya GKJ dalam kebersamaannya sebagai sebuah Sinode Gereja di antara Sinode Gereja-gereja yang lain di Indonesia dan di tengah masyarakat Indonesia pada umumnya. Adilkah kita jika saat ini dan nanti, yaitu ketika kemandirian teologi, daya, dan dana telah mulai dapat dicapai, untuk hanya berpikir bagi diri sendiri? Analisis data sebagaimana disampaikan Bapelsin XXV GKJ pada peringatan HUT'81 Sinode GKJ, boleh jadi akan mengubah banyak hal baik dalam perencanaan, strategi, maupun karya pelayanan GKJ ke depan. Memperhatikan posisi GKJ saat ini, mengingatkan kita pada tugas panggilan oikoumenis dalam arti luas. (Lampiran 5: Peta GKJ 2012, "Melangkah di Era Baru").

Penghayatan Tema

Rumusan kalimat dalam tema tersebut, untuk ukuran sebuah doa memang terasa terlalu pendek dan sederhana. Namun demikian jika diperhatikan dan dihayati dengan sungguh, doa yang pendek dan sederhana itu justru terasa begitu dalam dan kaya makna.

  1. Frase pertama dalam kalimat tema, "Allah Kehidupan", selain mengandung pengertian "alamat kepada siapa doa itu ditujukan", juga menunjukkan watak inclusive dari iman Gereja berkenaan dengan eksistensi Allah, sekaligus menunjukkan keluasan "kemilikan"nya.
  2. Pemahaman ini penting, untuk membuka jalan bagi kesadaran tentang tugas dan tanggungjawab bersama dalam perjuangan mencapai harapan akan terwujudnya Keadilan dan Perdamaian, demi pemulihan martabat manusia dan demi keutuhan ciptaan, sebagaimana tersurat dan tersirat dari frase kedua dalam kalimat tema, "Tuntunlah Kami ke dalam Keadilan dan Perdamaian".
  3. Pemulihan martabat manusia dan keutuhan ciptaan yang merupakan tujuan dari perjuangan mewujudkan Keadilan dan Perdamaian itu, diyakini oleh gereja hanya mungkin terjadi oleh berkat anugerah Allah. Demikian makna kalimat tema yang sengaja dirumuskan dalam format kalimat doa. (Untuk kepentingan pendalam, pemahaman, dan penghayatan tema dari perspektif teologi sistematik dan biblika, dapat dibaca dari dokumen-dokumen lampiran).

Selanjutnya, bagaimana pendalaman dan pemahaman tema tersebut diupayakan agar memperoleh penghayatan yang sungguh-sungguh? Dalam pertemuan antara Panitia (inti) Sidang Sinode XXVI GKJ bersama Bapelsin XXV GKJ tanggal 23 Februari 2012 di Salatiga, telah ditetapkan bahwa pendalam, pemahaman, dan penghayatan tema perlu dilakukan baik menjelang, pada saat, maupun selama daur persidangan Sinode XXVI GKJ berlangsung. Meskipun demikian, mengingat tradisi Sinode GKJ di mana sampai saat ini tema persidangan lebih dimaksudkan sebagai spirit untuk mewarnai pembahasan materi sidang, serta mengingat berbagai materi pembinaan yang disiapkan oleh Sinode belum dirancang berdasarkan tema sidang, maka penghayatan tema dilakukan dalam format yang sederhana.

1.       Penghayatan tema menjelang persidangan berlangsung dilakukan dengan cara:

  • Mengajak gereja-gereja se Sinode GKJ untuk menyelenggarakan sarasehan di semua Wilayah, Pepanthan, atau Kelompok Pelayanan, dengan mempergunakan bahan sarasehan yang disiapkan oleh Panitia Sidang Sinode XXVI GKJ.
  • Sebagai reverensi bagi gereja-gereja, dalam upaya bersama untuk mendalami, memahami, dan menghayati tema persidangan, maka TOR Penghayatan Tema Sidang Sinode XXVI GKJ beserta lampiran-lampirannya akan dikirim kepada gereja-gereja melalui milis "GKJgroups" dan milis "pdtGKJonline". Bila mana perlu TOR Penghayatan Tema Sidang Sinode XXVI GKJ beserta lampiran-lampirannya tersebut dapat dibagikan untuk kepentingan publik melalui milis "GKJnet" dan melalui website Sinode GKJ.

2.       Penghayatan tema pada saat persidangan berlangsung dilakukan dengan cara:

  • Panitia Sidang Sinode XXVI GKJ mengagendakan 3 sesi pada Sidang Pleno Tahap-I, untuk melakukan kajian bersama dengan menghadirkan fasilitator yang memiliki kompetensi untuk memperkaya wawasan berkenaan dengan tema sidang dimaksud.
  1. Sesi I     : Isue-isue nasional gerakan oikoumene untuk keadilan dan perdamaian.
  2. Sesi II    : Nilai-nilai dan perjuangan untuk keadilan dan perdamaian dalam Perspektif Budaya Jawa.
  3. Sesi III   : Peta GKJ 2012 dan prospek pelayanan untuk keadilan dan perdamaian.
  • Baik pada Sidang Sinode Tahap I maupun Sidang Sinode Tahap II, Panitia Sidang Sinode XXVI GKJ mengagendakan sesi Refleksi melalui kegiatan:
  1. Pemahaman Alkitab. Bahan Pemahaman Alkitab dan teknis pelaksanaanya disiapkan dan diatur oleh Panitia Sidang Sinode XXVI GKJ.
  2. Ibadah Malam. Liturgi dan bahan renunganserta teknis pelaksanaa Ibadah malam disiapkan dan diatur oleh Panitia Sidang Sinode XXVI GKJ.
  • Baik pada Sidang Sinode Tahap I maupun Sidang Sinode Tahap II, Panitia Sidang Sinode XXVI GKJ mengagendakan kegiatan Ibadah Pembukaan dan Ibadah Penutupan yang sengaja di disain untuk merayakan keadilan dan perdamaian sebagai bagian penting dari hidup dan karya pelayanan Gereja.

3.       Penghayatan tema selama daur Sidang Sinode XXVI GKJ (2012-2015) dilakukan dengan cara:

  • Mempergunakan tema Sidang Sinode XXVI GKJ sebagai tema persidangan-persidangan Klasis dan pertemuan-pertemuan bersama lainnya yang relevan.
  • Sedapat mungkin memasukkan spirit tema Sidang Sinode XXVI GKJ tersebut ke dalam program kerja Gereja, Klasis, dan Sinode, serta materi-materi pembinaan yang dibuat.

Penutup

Demikian terms of reference Penghayatan Tema Sidang Sinode XXVI GKJ ini disiapkan, untuk membantu Panitia Sidang Sinode XXVI GKJ dalam mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan guna mendukung keberhasilan persidangan. Keberhasilan persidangan dimaksud, adalah baik dalam arti keberhasilan dalam penyelenggaraan persidangan, maupun keberhasilan dalam pembahasan materi persidangan. Dengan spirit tema yang digali dari Firman Tuhan, dan sekaligus sedang menjadi bahan pergumulan gereja-gereja pada aras yang lebih luas, diharapkan sedikit banyak akan turut mewarnai keputusan-keputusan persidangan, sehingga hasilnya relevan bagi karya GKJ ke depan. Kiranya nama Tuhan dimuliakan.

 

Salatiga, 7 Februari 2012

a.n Badan Pelaksana Sinode XXV GKJ

 

Pdt. Andreas Untung Wiyono

Sekretaris Umum

 

Untuk tautan dari lampiran silahkan klik di bawah ini:

Lampiran 1

Lampiran 2

Lampiran 3

Lampiran 4


Share this :

Berita "Wacana Umum" Lainnya