MEMBACA UNCLE TOM’S CABIN DARI HARRIET BEECHER STOWE

 MEMBACA UNCLE TOM'S CABIN DARI HARRIET BEECHER STOWE

(dari milis tetangga)

Purwantoro, 3 Maret 2012

oleh Yahya Tirta Prewita


"Berapa umurmu, Topsy?"

"Tidak tahu , Nyonya" Jawabnya

"Tidakkah kau tahu berapa tahun umurmu? Apakah tidak pernah ada yang memberitahumu? Siapa Ibumu?"

"Enggak pernah punya Ibu" Kata anak itu sambil cengar-cengir.

"Enggak pernah punya Ibu? Apa maksudmu? Kapan engkau dilahirkan?"

"Enggak pernah dilahirkan" Kata makhluk itu dengan tegas, lalu dia menyambung, "Enggak pernah punya Bapak atau Ibu, atau apapun. Saya dibesarkan oleh spekulan, dengan banyak anak-anak lain."

(kutipan dari Novel:  Uncle Tom's Cabin, Harriet Beecher Stowe).

***

Percakapan Topsy dan Nyonya Ophelia di atas membawaku ke peziarahan, ke asal-usul. Karena aku sadar benar, dasar yang telah diletakkan dulu padaku, tetapi hidup bukanlah peziarahan ke masa silam, sama seperti harapan yang kadang timbul tenggelam, menguji kesetiaan cinta dan ketangguhan untuk bertarung.

Mengenali akar adalah mengenal bagaimana tanaman berpijak ke bumi, banyak orang yang secara rohani ada dalam kondisi tak punya akar rohani, karena memang yang lama secara sadar maupun tidak sadar sudah ditiadakan atau disangkal. Hidup sekarang dan bahkan hidup kerohanian menjadi seakan cangkokan baru, tanpa akar tunjang yang masuk jauh ke dalam dan dari luar juga tak pernah terlihat, tanpa mengenal asal-usul.  A-historis.

Hidup baru dalam Kristus tak pernah a-historis. Rasul Paulus sangat menyadari asal-usulnya yang adalah orang Ibrani asli, bahkan Farisi, sekaligus warga negara Romawi karena kelahiran. Latar belakang Paulus sangat khas mewarnai hidup-barunya dalam Kristus, dan memberi sumbangan bagi pembangunan jemaat awal yang berbeda misalnya dengan jemaat dari Rasul Petrus atau Rasul Yohanes.

***

Hana menulis bahwa setting novel ini adalah Amerika tahun 1800-an pada saat kekristenan mencapai puncak kejayaan. Puncak kejayaan macam apa yang dimaksudkan? Ada beberapa catatan terlintas dalam ingatan:

Imigrasi orang-orang Eropa ke Amerika sampai 1800-an dimotivasi untuk membangun Kerajaan Allah di benua baru Amerika. Kelompok orang Kristen Methodis, Baptis, dan golongan-golongan Kristen baru yang ditindas di Eropa melarikan diri dan berhasil membangun serta mengembangkan komunitas Kristen sekaligus kekuatan sosial politik yang diperhitungkan. Sekaligus ternyata setelah tidak ditindas seperti asal-usul mereka di Eropa, mereka abai atas fakta bahwa tanah perjanjian di dunia baru itu hasil merampas dari suku-suku Indian yang tak berdaya berhadapan dengan tongkat api dan air api buah peradaban baru yang menyerbu mereka.

Gema Revolusi Perancis 1814 dengan nilai sekulerisme dalam bentuk demokrasi, egaliter, individual dan  penolakan atas otoritas para bangsawan sekaligus otoritas gereja dalam hidup bernegara tak sempat menjadikan impian membangun  Kerajaan Allah di Benua Baru dalam bentuk negara Amerika Serika tercapai. Ada beragam Kekristenan dalam novel ini. Termasuk ajaran yang melegalkan superioritas orang kulit putih atas kulit berwarna dan nanti menjadi cikal bakal kelompok (klan) Ku Klux Klan,. Bukan hanya gereja yang pecah, akhirnya antar penguasa dan penduduk di belahan utara dan selatan Amerika Serikat jatuh dalam perang saudara (Civil War) di tahun 1880-1884 dengan kemenangan kaum Union yang salah satu hasilnya menghapuskan perbudakan. Namun bahkan sampai perjuangan Pdt. Martin Luther King, Jr. tahun 1950-1968 diskriminasi atas hak-hak sipil penduduk tetap berlangsung. Zaman bergerak, dan ombak berdebur menghantami karang. Kekristenan bak bahtera yang terombang-ambing di lintasan  samudra raya. 

Negara modern USA bangga menaruh slogan in God we trust akan tetapi serangan teroris 11 September 2001 lagi-lagi menjadi bukti kecongkakan kuasa senjata, minyak, dan multi-national military-industry complex sebagaimana jelas dinyatakan dalam profil bisnis keluarga dan pribadi Presiden George Bush.  Lebih parah lagi, agresi dan pendudukan atas negara lain yang dicap sebagai the axis of evil   dibenarkan dengan dalih bahwa itu adalah kehendak Tuhan.

***

Menjadi garam dan terang tak pernah menjadi lemah, apalagi bodoh. Itu adalah pernyataan yang kuat, dan cerdik, melebihi ular. Tanggapan iseng ini kutulis karena kagum betapa dari tempat tugas di Papua sana Hana mengkritisi betapa kenyataan buruk yang ada, bahkan di dalam lingkup persekutuan kristiani, dan atas nama pelayanan seperti tertulis berikut (kukutip lengkap):

Disini saya bertemu dengan seorang dokter yang begitu bersungguh-sungguh dengan imannya tetapi sering ngawur dalam memberikan terapi pada pasien-pasiennya. Tapi juga ada segrombolan aktifis PMK yang sudah menjadi tenaga medis. Begitu mereka menjadi PNS dan mendapatkan penempatan di puskesmas-puskesmas pembantu di pedalaman, mereka tidak barada di tempat tugas dan malah bersliweran di rumah sakit yang di kota. Hingga saya sering mendapati puskesmas pembantu di pedalaman beralih fungsi menjadi kandang babi. Sementara saya tahu kawan-kawan yang ditugaskan disana adalah mereka yang dengan segenap hati mau memberikan hidupnya untuk Tuhan. Tentu ini hanyalah sebuah contoh lokal dengan cakupan yang kecil. Jangan tanya yang urusan nasional. Kenapa? Karena kekristenan sama sekali tidak ada bisikannya (bukan hanya tidak ada suaranya).

Sumber yang saya percaya mengatakan bahwa Gayus Tambunan saat mahasiswa katanya aktif di persekutuan mahasiswa kristen dan juga  ikut KTB. Namun sama halnya dengan Angelina Sondakh yang malang, mereka adalah model ekstrim dari kegagalan kekristenan mengalahkan tantangan pluralitas hidup, daya pikat kekuasaan yang korup, dan hedonisme yang ditawarkan oleh Mamon.  Saya jadi ingat dengan satu saudara yang sejak ditempatkan di suatu Puskesmas pelosok dengan setia melayani di sana sekalipun sudah beberapa kali ditawari untuk pindah ke ibu kota kabupaten, alasan jujurnya: "Aku tak suka dan tak mau berurusan dengan politik kebijakan dinas kesehatan dan pemda setempat yang sering ruwet. Mending melayani masyarakat desa yang jelas membutuhkan pelayanan kesehatan daripada terlibat dan ngurusi macam-macam itu buat mumet".  Jelas ada komitmen, pilihan dan kesetiaan yang diwujudkan.

                Jelas kita butuh terobosan baru, wadah dan metoda pelayanan yang memampukan para siswa dan mahasiswa sekarang bertumbuh dalam keberanekaragamannya, dalam kepenuhan panggilannya yang satu sama lain tiada sama. Untuk menjadi generasi profesional yang mewujudkan nilai  kasih, kebenaran, keadilan, dan damai sejahtera melalui hidup pelayanan, pengorbanan, dan ketaatan. Memutlakkan satu pola pelayanan sebagai satu bentuk jadi adalah penyeragaman yang hanya membawa korban, dan membuahkan cloning dengan segala kekurangan genom yang menurunkannya.  Menjadi saksi Kristus lebih dari memenangkan jiwa.  Istilah memenangkan jiwa-jiwa  biarlah itu kita serahkan pada karya Roh Kudus yang menjadikan orang menjadi percaya. Tanpa kemampuan mewujudkan pewartaan dalam tindakan nyata, hanya akan menjadi pidato yang berbusa-busa, canang yang bergemerincing, dan gong yang berkumandang, hiruk pikuk tanpa guna.

                Maka terbungkam, kau beri aku makna bicara. Terbelunggu, kau beri aku makna merdeka.  Dan menutup tulisan ini, kukutip lagi dari Hana:  Berbuat itu penting. Dan berbuat dengan permainan yang cerdik dan cemerlang itulah keharusan. Atau Kekrsitenan yang begitu kita hayati sejak masa-masa SMA dan mahasiswa hanya tinggal sebuah kenangan.

                Lebih dari ajaran dan perkataan, yang tetap tinggal dan melekat adalah keteladanan, perbuatan, dan kasih sayang yang dengan tulus ikhlas dilakukan.

 salam

YTP


From: hana krismawati

"Berapa umurmu, Topsy?"

"Tidak tahu , Nyonya" Jawabnya

"Tidakkah kau tahu berapa tahun umurmu? Apakah tidak pernah ada yang memberitahumu? Siapa Ibumu?"

"Enggak pernah punya Ibu" Kata anak itu sambil cengar-cengir.

"Enggak pernah punya Ibu? Apa maksudmu? Kapan engkau dilahirkan?"

"Enggak pernah dilahirkan" Kata makhluk itu dengan tegas, lalu dia menyambung, "Enggak pernah punya Bapak atau Ibu, atau apapun. Saya dibesarkan oleh spekulan, dengan banyak anak-anak lain."

Diatas adalah cuplikan percakapan antara Topsy si budak negro dan Nyonya Ophelia yang membuat hati saya miris pada saat membaca Uncle Tom's Cabin karya Harriet Beecher Stowe. Novel yang begitu menyentuh dan sangat berperan penting dalam mengobarkan semangat anti perbudakan di Amerika Serikat hingga meretas pecahnya perang saudara pada abad 19.

Novel ini ditulis dengan setting Amerikatahun 1800an pada saat kekristenan mencapai puncak kejayaan. Ada kisah-kisah iman Kristen yang begitu mekar diantara para budak Afrika bernasib Malang. Disatu sisi ada eforia KeKristenan diantara para bangsawan kulit putih yang begitu saleh beribadah menyembah Sang Kristus Yesus Juruselamat namun memegang cambuk dan dengan ganas menindas budak-budak karena memandang mereka hanyalah sebagai sebuah komoditi yang gampang diperjual-belikan. Bagi para kulit putih ini sesama manusianya adalah sesama bangsawan dan kulit putih. Mereka rajin memberikan persembahan di gereja-gereja tetapi uang yang diperoleh berasal dari perdagangan manusia-manusia yang warna kulitnya jauh lebih tua dari mereka. Untuk mendapatkan uang yang dipersembahkan itu, mereka memisahkan anak bayi dari ibu mereka. Maka ada banyak anak budak yang bahkan tidak tahu apakah mereka beribu, berayah dan opernah dilahirkan seperti Topsky.

Ada sindiran-sindiran halus dan kasar dari penulis untuk mengkritisi praktek iman kristen versus perbuadakan pada masa itu. Namun, pada akhirnya kita akan bertemu dengan tokoh-tokoh pencerah yang tahu betul bagaiman mengejawantahkan keKristenan dan karya salib. Mereka yang mau bertindak melawan arus dan tidak hanya diam. Mereka yang mau menanggung rugi serta memilih untuk tidak bersikap apatis seperti kebanyakan orang disekitarnya. Salib Kristus yang memerdekakan disampaikan dengan tepat sasaran oleh tokoh-tokoh yang membawa pencerahan dalam novel ini. Ada tokoh Tuan Muda George, bangsawan kaya yang akhirnya memerdekakan semua budak ayahnya dan memepekerjakan mereka dengan upah yang selayaknya. Ada komunitas Quaker yang membuka rumahnya untuk pelarian budak-budak yang mengalami penyiksaan, dan banyak tokoh lain.

Bertindak. Rela menanggung rugi. Tidak cari aman apalagi hanya memikirkan keuntungan dan kenyamanan sendiri. Saya kira itulah yang saya pelajari dari semangat salib Kristus.

Secara subyektif, ada semcam rasa kangen yang terobati pada saat saya membeca novel ini. Saya merindukan di tempat saya berada, kasih Kristus bisa disampaikan dengan pas dan tepat sasaran oleh orang-orang yang terpinggirkan dan berada pada posisi paling tidak aman dan paling tidak  nyaman di republik ini. Tapi saya juga merindukan terbitnya tunas-tunas muda yang penuh semangat, memiliki kapasitas intelektual yang memadai tapi juga kepekaan yang tinggi untuk mengejawantahkan iman Kristen dengan tepat, seperti Tuan George dalam novel saya tersebut.

Saya sering mendengar bahwa Tuhan akan memakai kita menjadi alatNya sekalipun kita lemah dan tidak pintar. Disatu sisi saya setuju, tapi di sisi lain kenyataan di lapangan yang saya hadapi adalah:  Kita tidak bisa berbuat apa-apa kalau tidak pintar dan cerdas. Tidak lincah dan hanya mengandalkan iman serta doa. Tidak.

Mungkin saya salah, silakan dikritisi. Tapi yang saya lihat orang-orang Kristen yang begitu bersemangat pada masa PMK, tiba-tiba bungkam dan kalah bersaing. Tidak cukup bisa menaklukkan situasi-situasi. Alias kalah pintar.

Disini saya bertemu dengan seorang dokter yang begitu bersungguh-sungguh dengan imananya tetapai sering ngawur dalam memberikan terapi pada pasien-pasiennya. Tapi juga ada segrombolan aktifis PMK yang sudah menjadi tenaga medis. Begitu mereka menjadi PNS dan mendapatkan penempatan di puskesmas-puskesmas pembantu di pedalaman, mereka tidak bearada di tempat tugas dan malah bersliweran di rumah sakit yang di kota. Hingga saya sering mendapati puskesmas pembantu di pedalaman beralih fungsi menjadi kandang babi. Sementara saya tahu kawan-kawan yang ditugaskan disana adalah mereka yang dengan segenap hati mau memberikan hidupnya untuk Tuhan. Tentu ini hanyalah sebuah contoh lokal dengan cakupan yang kecil. Jangan tanya yang urusan nasional. Kenapa? Karena kekristenan sama sekali tidak ada bisikannya (bukan hanya tidak ada suaranya).

Semangat anti perbudakan menyala karena ada tokoh seperti Wilberforce yang memiliki keampuan diplomasi di bangku senator, juga karena seorang wanita Harriet Beecher Stowe yang menuliskannya dalam bahasa sastra yang begitu mengguncang. Mereka tahu apa itu The Amazing Grace dan mereka menggunakan intelegensinya untuk berbuat. Berbuat itu penting. Dan berbuat dengan permainan yang cerdik dan cemerlang itulah keharusan. Atau Kekrsitenan yang begitu kita hayati sejak masa-masa SMA dan mahasiswa hanya tinggal sebuah kenangan.

Jayapura, 2012.

Ditulis untuk wall renungan PMK Fakultas Biologi UGM


Share this :

Berita "Wacana Umum" Lainnya