SPIRITUAL ABUSE

Spiritual Abuse

oleh: Yahya Tirta Prewita

Saat seorang pemimpin rohani berkata kepada kita, "Inilah kehendak Tuhan buatmu", hati-hatilah, bisa jadi itu adalah spiritual abuse (pelecehan rohani).
Pelecehan adalah sikap dan tindakan yang tidak sepatutnya dilakukan atau dengan tujuan yang tidak pantas. Pelecehan rohani dilakukan oleh seorang pemimpin rohani, kepada orang yang ada dalam pimpinannya, dengan mengatasnamakan Tuhan, ajaran tentang kebenaran, atau konsep rohani tertentu, yang membuat korban secara mental, akal sehat, maupun rohani ada dalam ketaatan tanpa syarat
kepada pemimpinnya, bahkan juga ketika penundukkan diri yang dilakukan itu sebenarnya melecehkan dirinya.

Kita belajar bahwa Tuhan berkehendak menyelamatkan, dan menyatakan kehendakNya kepada kita melalui FirmanNya, baik secara umum dengan prinsip-prinsip kebenaran yang digali dari Alkitab, tetapi juga secara khusus melalui Roh Kudus yang berbicara secara pribadi mengenai hal-hal tertentu dalam hidup kita. Kita belajar juga bahwa Tuhan memberikan para Rasul, Guru, Nabi, Pendeta dan orang-orang yang diutus-Nya untuk memperlengkapi umat, bagi pembangunan Tubuh Kristus.

Tetapi hidup Kristen yang dewasa akan menguji dan memeriksa secara pribadi, apa kehendak Tuhan bagiku, dan tak ada orang lain siapapun dia yang bisa memastikan "Inilah kehendak Tuhan bagimu".

***

Lebih dari masalah "kehendak Tuhan atau bukan", spiritual abuse terjadi dalam model kepemimpinan yang dominan menguasai, bukan melayani. Pembinaan yang dikerjakan baik dalam persekutuan besar, kelompok kecil, maupun lewat cara pribadi ke pribadi (man to man, bisa juga man to woman, atau woman to woman/ man) jauh dari tujuan untuk mendewasakan dan akhirnya memandirikan. Bahkan terjadi ketergantungan baik secara psikhis maupun rohani karena hal-hal yang seharusnya diputuskan pribadi dalam tanggungjawab dan kedewasaannya ternyata juga "dikonsultasikan" dan "minta petunjuk" dari pemimpin rohaninya.
Jadilah orang tersebut anak-anak yang terus disusui dan ditimang-timang layaknya bayi.

Susah percaya diri untuk melangkah sendiri lepas dari saran nasihat dan arahan dari pemimpinnya. Selalu saja menjadi murid dan pengikut yang baik, tetapi relasi yang ada tak pernah naik tingkat menjadi sahabat atau pun rekan sekerja, sama sekali bukan partner dalam pelayanan dan pekerjaan Tuhan.

Lebih jahat lagi, spiritual abuse ini dibungkus dalam kemasan ungkapan kasih dan perhatian, yang setia menyapa, terus mendoakan, dan membagikan perenungan serta tips harian setiap saat. Tehnologi dan ketrampilan berkomunikasi modern dengan facebook, email, sms, telepon, yahoo messenger, twitter dan lain-lain memampukan kita dengan mudah dan cepat menjangkau banyak orang, sekaligus

bersifat sangat pribadi karena hanya dibuka dan dibaca oleh alamat yang dituju saja. Bisa jadi satu pesan yang sebenarnya ditujukan untuk banyak orang sampai kepada kita seakan-akan sebagai pesan hanya untuk kita pribadi. Tetapi lebih dari pesan dan sapa yang bisa tiap kali disampaikan, pengalaman menguji kesungguhan kasih dan perhatian dan menagih kata-kata yang telah terucapkan.

Seorang bercerita, "Dulu aku sangat yakin bahwa aku bisa mengandalkannya, beberapa kali saat pemahaman Alkitab bersama ditegaskan bahwa persekutuan dalam kelompok ini adalah saudara-saudaraku dalam Tuhan, lebih dari saudara-saudara di keluarga, terlebih orangtua bekerja di luar kota. Saat kakek meninggal di rumah, pemimpinku yang kutelpun pertama kali sebelum memberitahu saudara-saudara yang lain. Ternyata dari dini hari sampai siang saat pemakaman aku sendiri yang pontang-panting mengurus, dan ia hadir dan duduk seperti pelayat biasa saja. Para tetanggalah yang sejak dini hari membantu, menemani, dan repot mengurus semua persiapan pemakaman."


***

Pemimpin rohani juga manusia, dengan kelemahan dan kekurangannya. Padahal kehendak Tuhan pasti baik dan sempurna bagi kita. Menyadari kelemahan dan kekurangan bahkan menjadi syarat agar rancangan kasih karunia Allah yang berkehendak menyelamatkan dapat mewujud dalam hidup kita. Akan tetapi, satu puisi di bawah ini merefleksikan bagaimana spiritual abuse dilakukan, sudah berani mengatasnamakan Tuhan, padahal informasi yang dikatakan kemudian ternyata tidak benar:

dulu, dengan cinta, kau beritahu sesuatu katakan itu kehendak tuhan bagiku maka waktupun berlalu kuterima itu dalam duka, pun senyap darimu kembali sekarang tiba-tiba diperhadapkan dengan kenyataan sebenar, kukonfirmasikan: kau bilang lupa, tak tahu kehendak tuhan kau lupakankah? kehendak tuhan kau abaikankah? ya memang sudah bukan urusanmu sedangkan hati yg sekarang mengerti memperkarakanmu sekarang tak ingin kini.

Dalam kasus ini, seperti kebanyakan kasus spiritual abuse, biasanya korban bahkan dipersalahkan saat menceritakan pengalamannya, dianggap bodoh, salah sendiri, kenapa mau-maunya menerima begitu saja ucapan orang lain tentang kehendak Tuhan bagi dirinya. Komentar ini sungguh tak memahami konteks dan bangunan relasi yang ada saat peristiwa itu terjadi, di mana penundukan diri kepada pemimpin rohani memang bak wakil Tuhan yang harus ditaati. Dan bila tanggapan seperti ini muncul, bahkan semakin membuat korban depresi, marah, dan lebih sukar berdamai dengan pengalaman pelecehan yang didapat di masa lalunya.

Benar sekali bahwa hanya pengalaman traumatik yang menjadi jalan kesadaran, dan itu sangat menyakitkan.

Pendampingan dengan pengertian dan menerima sangat mendukung korban pelecehan mengatasi trauma karena spiritual abuse yang pernah dialami. Secara teologis melawan hirarki rohani dari para rohaniwan waktu itu, Martin Luther dan Johannes Calvin sepakat mengenai panggilan imamat am orang percaya: Bahwa tiap-tiap orang bisa datang secara langsung kepada Tuhan melalui Kristus sebagai imam. Panggilan imamat am orang percaya adalah untuk mendoakan umat, dan melantarkan berkat Tuhan bagi umat.

Penekanan keterlaluan untuk mengikut teladan pemimpin, sebagai pace-setter, dengan relasi pribadi ke pribadi yang mendominasi dan mencampuri bahkan hal-hal pribadi yang seharusnya secara mandiri dan dewasa dipertanggungjawabkan pilihannya di hadapan Tuhan hanya membawa kepada penyimpangan dan berdampak kasus-kasus spiritual abuse.

***

Sama seperti KDRT misalnya (kekerasan dalam rumah tangga), wilayah rohani adalah wilayah private, tak bisa dimasuki tanpa persetujuan pribadi yang bersangkutan, dan ada batas-batas tabu untuk dibicarakan terbuka.

Kalau tahu dan sadar bahwa hubungan yang berat sebelah itu melecehkan, kita bisa mengambil sikap untuk menghindari, bahkan melawan. Sayang banyak korban pelecehan yang tetap saja merasa ada dalam zona aman sekalipun mereka terus menjadi obyek perlakuan yang tidak menghormati martabat mereka. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengusili dan mengajak kita peka dan mengkritisi sisi gelap dari dunia pelayanan, bahwa ada bahaya spiritual abuse yang mengancam di sana. Saling mengawasi penting, karena jangan-jangan ada yang tidak sadar sudah menjadi korban spiritual abuse, atau lebih parah lagi: tak sadar sudah melakukan spiritual abuse! Lupa kali, syair lagu terkenal dari group band Kuburan.

salam,

YTP


Share this :

Berita "Wacana Umum" Lainnya