MANUSIA BERAGAMA MANUSIA

Membaca judul makalah ini, kesan pertama yang mungkin segera muncul di benak kita adalah "permainan kata". Permainan kata yang boleh jadi membingungkan atau bahkan tanpa makna. Untuk itu jawabannya "Ya", tetapi sekaligus "Tidak". Itulah simbol dialektika yang hendak disampaikan melalui tulisan ini sekaligus refleksi pembelajaran dalam rangka studi Agama dan Masyarakat.

Transendensi dan imanensi agama sejatinya menampak dalam kehidupan masyarakat manusia. Watak agama sebagai pembawa pesan "Yang Illahi" untuk kehidupan manusia "Yang Insani", keduanya merupakan fenomena yang utuh, melekat pada ruang dan waktu yang sama, tak terpisahkan dan sekaligus tak terbagi. Asumsi dasarnya adalah, tidak ada agama tanpa masyarakat manusia.

Tulisan ini diambil dari makalah yang dibuat oleh Pdt. Andreas Untung Wiyono, dalam proses studi lanjut di Sekolah Tinggi Teologia Jakarta Program Studi D.Min, pada Desember 2006. Dengan melihat lebih tajam dimensi sosialitas dari agama, khususnya dalam konteks kehidupan gereja. Itu diperlukan sebagai dasar bagi pembangunan jemaat untuk melihat visi dan tujuan gereja serta penyiapan manajemen gereja yang memungkinkan gereja mencapai visi dan tujuannya. Dengan kata lain, sistem yang membentuk pola pelayanan berorientasi visi dan tujuan sebagaimana menjadi fokus studi manajemen gereja yang saya pilih, tak dapat tidak dipengaruhi oleh pandangan ini.


1.    Pasar Agama dan Agama Pasar.

Pasar sebagai tempat aktivitas jual beli, merupakan komuniatas otentik yang menggambarkan watak ketergantungan manusia terhadap sesamanya. Penjual bergantung pada pembeli, demikian pula sebaliknya. Penopang aktivitas pasar mulai dari penjual jasa angkutan sayur mayur, sopir truk, tukang becak gerobag (bego), tukang ojek, sampai kuli gendong, melengkapi mata rantai hukum relasional yang dibangun atas dasar saling membutuhkan. "Kebutuhan" telah mendorong manusia membentuk aneka komunitas, termasuk komunitas masyarakat agama.

Berangkat dari kebutuhan manusia, atas dasar idealisme/ nilai kebaikan yang hendak diperjuangkan untuk tujuan kesejahteraan manusia, demikian masyarakat agama secara sosiologis ekonomis merupakan sebuah komunitas tersendiri. Bedanya dengan komunitas pasar adalah, jika komunitas pasar terbentuk karena ketergantungan manusia terhadap sesamanya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat material, maka komunitas agama dalam praktik terbentuk karena ketergantungan manusia terhadap sesamanya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat immaterial. Sebagai yang demikian maka dapat dikatakan bahwa hal keberagamaan manusia sesungguhnya merupakan fenomena yang wajar dalam kehidupan masyarakat. Artinya ia sama sekali insani, betapapun untuk tujuannya ia berbicara tentang "Yang Illahi".

Jika secara sosiologis ekonomis komunitas agama terbentuk karena kebutuhan manusia, maka agama pada dasarnya merupakan "komoditi". Maksudnya bahwa komunitas agama memproduksi dan menyediakan sesuatu yang dibutuhkan oleh masyarakat, demikian pula sebaliknya masyarakat dapat memperoleh sesuatu yang mereka perlukan untuk memenuhi butuhannya. Dalam terang pemahaman yang demikian maka sesungguhnya masyarakat agama tak ubahnya seperti pasar yang menyediakan aneka kebutuhan konsumen.

Mengingat pasar agama merupakan realitas yang turut menghidupi dinamika kehidupan masyarakat, maka wajar jika tiap-tiap agama bahkan tiap-tiap komunitas dalam sebuah agama sama-sama berusaha menjaring sebanyak mungkin konsumen. Kesadaran ini penting untuk menolong kita memahami bahwa ketegangan/ konflik antar agama atau bahkan antar komunitas dalam suatu agama bukanlah sesuatu yang luar biasa. Bukankah di pasar, setiap orang harus siap dengan aneka ketegangan? Oleh karena itu dibutuhkan manajemen pasar yang mampu mengendalikan potensi-potensi konflik yang ada di dalamnya disamping menyiapkan sistem regulasi dan etika bisnisnya. Demikian pula sebaliknya jika ia hendak diusahakan untuk saling bekerjasama demi mencapai tujuan keberagamaannya.[1]

Selanjutnya mengingat agama merupakan kebutuhan manusia yang bersifat umum, maka fenomena keberagamaan tak perlu terlalu dilebih-lebihkan sebagai urusan sakral belaka yang justru berpotensi mencerai beraikan komunitas otentik dalam masyarakat manusia sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan. Dimensi profan dari keberagamaan manusia itu hendak menggambarkan kepada kita bahwa masyarakat agama adalah pasar, atau dengan kata lain agama yang kita kenal sesungguhnya adalah agama pasar, yaitu agama yang berfungsi menghidupi masyarakatnya. Tetapi pandangan ini memang tidak populer bahkan cenderung diingkari.

 

2.    Alkitab: Firman Allah sekaligus Firman Manusia.

Kesulitan yang kita hadapi untuk pengembangan wacana sosiologis ekonomis mengenai pasar agama dan agama pasar adalah pandangan agama itu sendiri terhadap sumber-sumber tradisi yang dipergunakannya. Sebagai contoh, sebagian besar nilai-nilai kekristenan yang kita warisi sekarang adalah produk import dari pasar agama di Eropa abad XVI-XX. Produk tersebut tidak bebas dari cara pandang gereja pada waktu itu terhadap eksistensi dan interpretasi atas sumber-sumber tradisi. Salah satunya sebagaimana nampak dalam perlakuan gereja terhadap Kitab Suci. Semboyan "Sola Scriptura" yang pada awalnya merupakan ekspressi penolakan terhadap pemanfaatan aneka sumber tradisi gereja misalnya, telah berkembang sedemikian rupa menjadi pemujaan terhadap Kitab Suci sebagai satu-satunya sumber yang sah dan tidak ada salah. Dengan demikian Kitab Suci telah ditempatkan dalam ruang transenden yang dari padanya turun Firman Allah bagi manusia.

Mengenai hal ini Gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ) berusaha memperbarui pemahamannya tentang Alkitab sebagai Firman Allah, di mana di dalamnya dialektika transendensi dan imanensi atas sumber tradisi itu mendapat pengakuan. Berikut kutipan mengenai hal tersebut yang bersumber pada Pokok-pokok Ajaran GKJ (PPA GKJ) edisi 2005 sebagai berikut:

"Alkitab adalah kumpulan tulisan yang diyakini oleh gereja dan orang-orang percaya sebagai Firman Allah.[2]) Alkitab berisi 66 kitab dan terbagi dalam dua bagian, yaitu Perjanjian Lama (39 kitab) dan Perjanjian Baru (27 kitab).

Alkitab ditulis dan dihimpun oleh orang-orang yang dipakai Allah untuk menyatakan maksud dan kehendak-Nya. Orang-orang tersebut berasal dari latar belakang, tempat, zaman, bahasa dan kemampuan yang berbeda-beda. Campur tangan Allah dinyatakan dalam hikmat yang menyertai para penulis dan pengumpul ke-66 kitab itu melalui pimpinan dan penyertaan Roh Kudus. Hal itu dapat kita mengerti dari buah pekerjaan yang dihasilkan, sebagaimana nampak dari kenyataan bahwa semua tulisan itu berbicara tentang hal yang sama dan untuk satu tujuan yang sama, yaitu penyelamatan Allah atas manusia.

Untuk menyatakan maksud dan kehendak-Nya, Allah dapat berfirman dengan berbagai cara dan dalam waktu yang tidak dapat dibatasi oleh manusia. Namun dalam rangka menyatakan maksud dan kehendak-Nya untuk menyelamatkan manusia, maka Alkitab sudah cukup memberikan kesaksian yang diperlukan bagi manusia. Bahkan ke-66 kitab tersebut oleh gereja-gereja di dalam sejarahnya telah diterima sebagai tulisan-tulisan yang kanonik[3]) dalam arti diakui, sah, tidak diragukan kebenarannya dan dianggap cukup.

Alkitab dikelompokkan menjadi dua bagian yang disebut Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, karena didasarkan pada jalannya peristiwa penyelamatan Allah atas manusia sebagai berikut:

  1. Sejarah penyelamatan Allah atas manusia teranyam dalam sejarah manusia itu sendiri, yang terbagi dalam zaman Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
  2. Perjanjian Lama berisikan firman Allah yang berhubungan dengan janji dan karya penyelamatan Allah kepada manusia sebagaimana teranyam dalam peristiwa bangsa Israel sampai dengan pemenuhan janji dan karya Allah itu melalui kedatangan Tuhan Yesus Kristus. Sedangkan Perjanjian Baru berisikan firman Allah  yang berhubungan dengan peristiwa penyelamatan Allah sebagaimana teranyam dalam sejarah Israel dan semua bangsa di dunia dengan pemenuhan janji Allah sejak kedatangan Tuhan Yesus Kristus sampai tercapainya pemenuhan keselamatan yang sempurna.
  3. Firman Allah di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tersebut keduanya berhubungan dengan karya penyelamatan Allah yang satu dan sama, dan di dalam sejarah penyelamatan Allah yang satu dan sama pula. Oleh karena itu Alkitab yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru pada dasarnya merupakan satu bagian yang utuh dan tak terpisahkan, serta bersifat saling menjelaskan." [4]

Membangun persepsi obyektif mengenai Alkitab sebagaimana tersebut merupakan sesuatu yang penting untuk melihat dimensi profan dari Kitab Suci. Dengan demikian kesadaran mengenai agama sebagai produk manusia dan fungsi agama untuk manusia mendapat tempat yang semestinya. Disamping itu pengakuan gereja bahwa: " Untuk menyatakan maksud dan kehendak-Nya, Allah dapat berfirman dengan berbagai cara dan dalam waktu yang tidak dapat dibatasi oleh manusia" sekaligus membuka ruang lebih luas untuk berteologi secara kontekstual serta memberi penghargaan terhadap kekayaan sumber-sumber lain yang tidak bertentangan dengan maksud Injil.

 

3.    Gereja Allah Gereja Manusia.

Wacana mengenai "Agama Pasar dan Pasar Agama" serta "Alkitab Firman Allah sekaligus Firman Manusia" pada gilirannya berguna untuk memahami eksistensi gereja di tengah masyarakatnya. Oleh kerena itu dengan rendah hati gereja perlu menyadari bahwa sebagai komunitas yang telah menerima pencerahan oleh iman, dirinya dan kehadirannya adalah juga dari, oleh, dan untuk masyarakat. Di sinilah konsep kenosis dalam teologi kristen yang dicitrakan dalam pribadi Yesus menjadi hidup dan mewujud dalam kepribadian gereja. Dengan demikian gereja yang adalah "Gereja Allah" sekaligus juga menjadi "Gereja Manusia".

Dalam terang pemahaman yang demikian, kiranya dapat dimengerti jika ekklesiologi yang dibangun (dalam hal ini khususnya GKJ) sungguh-sungguh bernuansa teologis sekaligus sosiologis, sebagaimana nampak dari pemahaman bahwa: "Gereja adalah suatu kehidupan bersama religius yang berpusat pada Yesus Kristus, yang sekaligus merupakan buah pekerjaan penyelamatan Allah dan jawab manusia terhadap penyelamatan Allah, yang di dalamnya Roh Kudus bekerja dalam rangka pekerjaan penyelamatan Allah."[5]

 

4.    Manusia Beragama Manusia.

"Agama untuk kehidupan", merupakan kalimat yang sering kita dengar. Ia hendak menegaskan fungsi agama bagi kehidupan dalam arti luas maupun masyarakat manusia khususnya. Agama haruslah memberi kemanfaatan bagi kesejahteraan masyarakat manusia. Dalam bahasa gereja melalui interpretasi teks Injil Matius 5:17 agama berfungsi sebagai "garam dan terang dunia". Karena itu semestinyalah iman Kristen mampu membawa kenyamanan/ kesejahteraan, sekaligus pencerahan untuk kehidupan bersama manusia yang lebih bermartabat.

Kajian mengenai agama untuk kehidupan menolong kita lebih dalam memahami hakikat agama berangkat dari fungsinya. Dalam terang pemahaman mengenai fungsi agama yang demikian, maka kita dapat mengatakan bahwa sebenarnya agama merupakan kehidupan itu sendiri. Ia bukan merupakan sesuatu yang berdiri di luar, di samping, atau di atas kehidupan manusia, melainkan bersama dan sekaligus di dalam, bahkan melekat pada kehidupan masyarakat manusia. Manusia beragama manusia, mengandung pengertian dialektis. Jika kita mengaku sebagai "manusia beragama" maka konsekwensinya adalah kesanggupan kita untuk menjadikan agama berguna bagi kesejahteraan bersama.

____AUW121206____

 


[1]       Dalam praktik "sistem regulasi dan etika bisnis" dimaksud diterjemahkan dalam bentuk peraturan pemerintah sehingga urusan agama kemudian masuk ke dalam zona politik. Kenyataan ini menyebabkan agama diperalat untuk kepentingan kekuasaan, atau bahkan sebaliknya agama memperalat kekuasaan. Dalam kondisi yang demikian sangat sulit untuk dapat membangun "sistem regulasi dan etika bisnis" yang sehat kecuali terjadi manufer politik yang memadai bagi komunitas agama untuk membangun sendiri "sistem regulasi dan etika bisnis" yang dibutuhkan. Inipun bukan pekerjaan mudah dan butuh waktu untuk berproses bersama.

[2]       Artinya melalui Alkitab Allah menyatakan maksud dan kehendak-Nya untuk menyelamatkan manusia dalam rangka sejarah penyelamatan-Nya [Yes.30:8; Yer.51:60; 1Kor.14:37; 2Kor.13:10; 1Tes.2:13,14].

[3]       Berasal dari akar kata Yunani kanon, secara harafiah berati: "patokan". "Kanon Alkitab" dapat berarti: daftar kitab-kitab yang diberi nama Alkitab atau Kitab Suci, yang secara resmi diakui oleh bangsa Yahudi dan Gereja sebagai tulisan-tuisan yang diilhami Allah.

[4]       Sinode GKJ, Pokok-pokok Ajaran GKJ, Edisi 2005, (Salatiga: Sinode GKJ, 2006),  4-9.

[5]       Sinode GKJ, Pokok-pokok Ajaran GKJ, Edisi 2005, (Salatiga: Sinode GKJ, 2006),  29.


Share this :

Berita "Wacana Umum" Lainnya