MEMPERCAKAPKAN PEMANFAATAN BUDAYA JAWA DALAM IBADAH


(beberapa catatan pematik diskusi di GKJ Watusigar)

 

Catatan awal

Sebelum mempercakapkan pokok yang menjadi pusat perhatian dalam diskusi ini, perlu disegarkan kembali dua pokok lain yang berkaitan erat dengan pokok yang menjadi pusat perhatian dalam diskusi ini.

Yang pertama adalah tentang ibadah.  Yang dimaksud ibadah dalam diskusi ini pada hakikatnya adalah muara pergumulan hidup sehari-hari jemaat (warga gereja) dan (sekaligus) media menimba inspirasi untuk menjalani hidup sehari-hari selanjutnya. Sebagai muara pergumulan hidup sehari-hari maka di dalam ibadah itu jemaat mengungkapkan pergumulannya. Suasana ibadah mencerminkan kesuka-citaan, kepedihan hati, pengharapan, keyakinan, dsb jemaat. Dari ibadah itu pula jemaat mendapatkan inspirasi untuk menjalani hidup sehari-hari selanjutnya. Dari ibadah itu jemaat mendapatkan penguatan, peringatan, dorongan, ajakan, dsb. untuk menjalani hidup sehari-hari selanjutnya. Melalui unsur-unsur ibadah, yaitu nyanyian, doa, pengakuan, kotbah, dsb jemaat mengungkapkan pergumulannya dan dari salah satu unsur ibadah atau bahkan semua unsur ibadah itu secara keseluruhan jemaat menimba inspirasi untuk menjalani hidup sehari-hari selanjutnya.

Yang kedua adalah budaya Jawa. Yang dimaksudkan budaya dalam diskusi ini adalah buah budi yang terwujud dalam berbagai macam bentuk dan jenis ungkapan. Bentuk dan jenis ungkapan itu antara lain seni, ajaran moral, laku tradisi, upacara keagamaan, dll.

 

Sikap gereja terhadap budaya

Setidak-tidaknya ada tiga pilihan pendekatan dalam menentukan sikap terhadap budaya Jawa, yaitu serba prasangka (prejudice), normatif dan dialogis. Pendekatan serba prasangka adalah cara menentukan sikap terhadap budaya dengan telah memutuskan terlebih dahulu bahwa semua budaya apa pun dan di mana pun yang bukan Kristen adalah dosa, berasal dari iblis (setan) maka harus dijauhi (ditolak). Sedangkan yang dimaksud dengan Kristen itu adalah ajaran resmi dan tradisi yang dijalani oleh gereja selama ini, yang sebenarnya semua itu budaya Belanda dulu. 

Pendekatan normatif adalah cara menentukan sikap terhadap budaya dengan menggunakan ukuran suci atau dosa, benar atau salah, boleh atau tidak, baik atau buruk, bertanggung jawab atau tidak bertanggung jawab, bermanfaat atau merugikan, dsb. Ukuran itu bisa secara eksplisit tercantum dalam Ajaran resmi atau Tata Gereja tetapi juga bisa secara implisit menjadi tradisi yang dijalani gereja selama ini.

Pendekatan dialogis adalah cara menentukan sikap terhadap budaya secara kritis, rendah hati, jujur dan terbuka. Pendekatan ini memperlakukan budaya sebagai sesuatu yang layak dihormati, maka diberi tempat dan perhatian untuk diajak berdialog. Dengan dialog itu maka baik gereja maupun budaya dikritisi secara jujur, rendah hati dan terbuka. Kalau memang melihat atau merasakan adanya kebenaran di dalam budaya maka gereja tidak ragu untuk mengakui hal itu dan memanfaatkannya untuk memperkaya kehidupan gereja. Sebaliknya kalau ada yang keliru atau salah maka budaya itu layak ditolak. Sikap yang sama juga tertuju kepada gereja sendiri.

Dalam diskusi ini yang akan dilakukan adalah pendekatan dialogis. Budaya Jawa diperlakukan sebagai sesuatu yang layak dihormati, diberi tempat dan perhatian maka dipergumulkan atau didialogkan dengan kekristenan yang dipraktekkan di lingkungan GKJ secara kritis, terbuka, jujur, dan rendah hati. Kritik itu dilakukan terhadap budaya dan juga terhadap kekristenan yang dipraktekkan di lingkungan GKJ. Sebagai norma (alat ukur) dalam bersikap secara kritis terhadap budaya Jawa maupun kekristenan yang dipraktekkan di lingkungan GKJ itu adalah Allah, yang mengeja-wantah dalam Yesus Kristus. Secara praktis, norma itu adalah:

Pertama, kerajaan Allah. Apakah budaya dan kekristenan itu mencerminkan pemerintah Allah atau sebaliknya justru tidak mencerminkan pemerintahan Allah. Pemerintahan Allah itu ditandakan oleh damai-sejahtera atau kehidupan yang rukun-ramah, kasih, pengampunan, kekudusan hidup. Kalau mencerminkan pemerintahan Allah maka layak ditumbuh-kembangkan.

Kedua, hidup. Apakah budaya dan kekristenan itu mencerminkan hidup atau justru mencerminkan kematian, kemandegan, kestatisan, status quo. Kalau mencerminkan hidup maka layak ditumbuh-kembangkan.

Ketiga, harkat dan martabat manusia sebagai gambar dan peta Allah. Apakah budaya dan kekristenan itu mencerminkan harkat dan martabat manusia sebagai gambar dan peta Allah, atau sebaliknya justru merusak bahkan menghancurkan harkat dan martabat manusia sebagai gambar dan peta Allah. Kalau mencerminkan harkat dan martabat manusia sebagai gambar dan peta Allah maka layak untuk ditumbuh-kembangkan.

Keempat, keutuhan dan kelestarian alam. Apakah budaya dan kekristenann itu memulihkan dan melestarikan alam atau sebaliknya justru merusak dan menghancurkan alam. Kalau memulihkan dan melestarikan alam, maka layak ditumbuh-kembangkan.

 

Suasana ibadah GKJ

Ibadah itu bisa dilakukan dengan bermacam-macam bentuk, yang setiap bentuk ibadah mengungkapkan suasana ibadah yang diinginkan.  Ada ibadah yang berbentuk pemujaan atau penyembahan sehingga suasana yang tercipta cenderung penuh gegap gempita, gemuruh dan serba menyenangkan. Ibadah GKJ lebih cenderung bersuasana tenang dan kidmat. Suasana yang demikian itu dibentuk dengan liturgi yang dijalankan.

Liturgi ibadah GKJ sudah berumur cukup tua. Liturgi itu ditetapkan dalam sidang sinode GKJ pada tahun 1961. Keistimewaan liturgi ini adalah berbentuk dialog antara Allah dan jemaat. Meskipun dalam prakteknya dialog itu hanya dilakukan oleh satu orang, sehingga berupa monolog, tetapi sejatinya liturgi ibadah GKJ itu merupakan dialog.

Votum merupakan ungkapan keyakinan jemaat, yang ditanggapi oleh Allah dengan Salam. Berikutnya jemaat memuji (nyanyian pujian atau introitus). Kemudian Allah memberikan hukum kasih. Di hadapan Allah dengan hukum kasih-Nya itu jemaat menyadari dosa  maka menyesali dosa dan memohon pengampuan. Allah berkenan mengampuni dengan memberikan Berita Anugerah. Akan tetapi Allah juga menuntut jemaat yang telah diampuni itu untuk hidup baik, maka Allah memberikan Petunjuk Hidup Baru. Menanggapi hal ini jemaat menyatakan kesanggupan (nyanyian kesanggupan). Berikutnya jemaat berdoa (doa safaat) dan juga berpersembahan. Selanjutnya Allah memberikan Sabda (kotbah). Menanggapi Sabda Allah itu jemaat menyatakan imannya (sahadat), dan ibadah itu diakhiri dengan berkat Allah. Di antara kotbah dan sahadat diselipkan nyanyian akhir ibadat yang maknanya sama seperti sahadat yaitu ungkapan keyakinan (iman) jemaat.

 

Budaya Jawa: bahasa dalam ibadah GKJ

Salah satu bentuk budaya Jawa yang nampak kentara sekali dalam ibadah GKJ adalah penggunaan bahasa Jawa krama inggil. Pilihan penggunaan bahasa Jawa krama inggil dalam ibadah ini dapat dimaknai, pertama, bahwa di hadapan Allah semua orang kehilangan perbedaan status sosial. Di dalam ibadah itu semua orang yang terlibat sederajad, sebagai sama-sama (se-sama) manusia yang sama harkat dan martabatnya, yaitu sebagai gambar dan peta Allah. Di masa lampau pendeta disebut dengan domine, disingkat Ds, yang artinya tuan atau ndara. Sekarang sebutan itu tidak ada lagi, hanya sebutan pendeta yang dipakai. Meskipun dengan sebutan pendeta itu ia dianggap lebih istimewa, karena ia ditahbiskan, yang maknanya hidupnya dikhusukan bagi Allah, namun ia tidak lebih tinggi derajadnya daripada jemaat. Oleh sebab itu, kepada jemaat yang dari segi umur lebih muda, atau dari segi status sosial lebih rendah, ia menggunakan bahasa krama inggil. Bahwa ibadah itu merupakan media menimba inspirasi untuk hidup sehari-hari, maka di dalam praktek hidup sehari-hari meskipun perbedaan status sosial itu tidak bisa dihapuskan, namun setiap orang layak dihargai dan diperlakukan sebagai manusia yang berharkat dan bermartabat sebagai gambar dan peta Allah. Kedua, di hadapan Allah yang ada itu hanya kekudusan atau kesucian. Krama inggil itu jenis bahasa yang tidak bisa dipakai untuk mengatai kotor (Jawa: misui) dan bertikai (Jawa: padu). Oleh sebab itu, di dalam praktek hidup sehari-hari selayaknya tidak mengatai orang dengan kata kotor dan tidak bertikai. Yang diperjuangkan adalah kekudusan hidup. Ketiga, dengan menggunakan krama inggil itu berarti yang berbicara adalah si pendeta atau pengkotbah. Kotbah memang sering disebut sebagai sabda Allah. Orang yang akan berkotbah disebut akan menyampaikan sabda Allah. Akan tetapi, dengan menggunakan krama inggil baik jemaat maupun pendeta atau pengkotbah itu mengakui bahwa kotbah itu dari si pendeta atau pengkotbah kepada jemaat. Kotbah itu bukan otomatis sabda Allah. Bahkan kotbah itu berasal dari si pendeta atau pengkotbah. Oleh sebab itu, di satu pihak pendeta atau pengkotbah harus berjuang keras agar kotbah yang disampaikannya itu benar-benar merupakan buah pergumulannya dengan Tuhan. Ia memang membaca, menafsir Alkitab memikirkan penerapannya dalam hidup sehari-hari sekarang ini, dan semua itu dijalani sebagai pergumulannya dengan Tuhan. Jangan kotbah menjadi alat kepentingan si pengkotbah. Di lain pihak, jemaat wajib menanggapi kotbah itu dengan kritis. Kotbah itu jangan diterima begitu saja, atau juga disebut "ditelan mentah-mentah" seolah itu pasti benar, tetapi jemaat juga jangan bersegera atau terlalu cepat menentang atau melawan (Jawa: waton sulaya, ora tau kepeneran). Terlebih kalau yang disampaikan dalam kotbah itu sesuatu yang baru, yang menggoncangkan jemaat, yang menggugat ketenangan dan kemapanan jemaat.  Para nabi yang benar cenderung menyampaikan pembaruan, menggoncangkan umat, menggugat ketenangan dan kemapanan umat, dan para nabi selalu dilawan umat, bahkan dianiaya. Sedangkan nabi yang cenderung menyenangkan umat itu justru nabi palsu. Kita yang hidup di jaman sekarang, yang membaca Alkitab tentang nabi benar dan nabi palsu, tahu bahwa nabi yang dimusuhi dan dianiaya umat itu adalah nabi yang benar dan umat yang memusuhi nabi itu telah bertindak salah, berdosa. Oleh sebab itu jangan mengulang kesalahan umat itu. Kalau pendeta atau pengkotbah menyampaikan sesuatu yang baru, yang menggoncangkan, yang menggugat ketenangan dan kemapanan jemaat, ajaklah dialog, bercakap secara jujur, rendah hati, terbuka dan adab.

 

Budaya Jawa: tembang dalam ibadah

Di dalam ibadah selalu ada unsur liturgi yang berbentuk nyanyian. Jemaat pun bernyanyi. Yang sering menjadi bahan tertawaan adalah jemaat bernyanyi dengan gaya nembang. Meskipun nyanyian yang dinyanyikan itu adalah nyanyian yang bertanda irama, tempo, dan dinamik yang mestinya tanta-tanda itu dipatuhi namun jemaat menyanyikannya dengan mengabaikan tanda-tanda itu. Meskipun nyanyian itu tanpa tanda legato, misalnya, jemaat menyanyikan dengan ber-legato. Gaya demikian adalah gaya yang wajar sebab jemaat, sebagai orang Jawa, mengenal cara bernyanyi dengan gaya tembang.

Sebenarnya sejak tahun 1968, yaitu sejak diperkenalkan adanya komisi komunikasi massa (kokomas), di lingkungan GKJ sudah dikembangkan kidung-kidung yang pelantunannya diiringi dengan gamelan. Akan tetapi, kidung-kidung itu ternyata kurang diminati sehingga sampai sekarang pun penggunaan apalagi penciptaan kidung baru kurang berkembang. Di antara anggota jemaat pun banyak yang tidak mengenal gamelan apalagi cara memainkannya. Juga banyak anggota jemaat yang tidak mengenal tembang-tembang Jawa, antara lain macapat.

Tembang macapat sebenarnya juga dapat dipakai sebagai media untuk mengungkapkan salah satu unsur liturgi. Pengakuan Iman Rasuli, misalnya, dapat diungkapkan dengan menggunakan tembang dandang-gula. Berikut ini adalah angger-angering katresnan yang diungkapkan dengan tembang dandang-gula.

 

Angger-anggering katresnan

Cakepan: Ki Atma

 

Sayektine prentahe Hyang Widi,

Kang ginelar ing sajroning kitab,

Iku mung loro cacahe,

Tresna kang kanthi tulus,

Wah sagolong-gelenging ati,

Ajrih-sih mring Pangeran,

Tansah mbangun turut,

Saha tresna mring pepadha,

Nora beda mring badanipun pribadi

Tansah ngarah utama.

 

Budya Jawa: simbol dalam ibadah

Seperti halnya bangsa timur yang lain, orang Jawa suka dengan simbol, maka seluruh aspek kehidupan diwarnai dengan simbol-simbol. Berkenaan dengan agama, seluruh ritus atau tindakan keagamaan berupa simbol-simbol. Dalam slametan, misalnya, kenduri adalah tindakan simbolik, dan tumpeng di kenduri itu juga merupakan simbol.

Sebenarnya Kekristenan, yang berasal dari dunia timur, juga penuh dengan simbol-simbol. Akan tetapi, ketika kekristenan yang dibawa ke Jawa itu sudah terlebih dahulu dibawa ke Eropa, terlebih kekristenan yang dibawa ke Jawa itu telah disterilkan dari simbol-simbol sebagai perlawanan protestan kepada Gereja Roma Katolik, maka GKJ mewarisi kekristenan yang miskin simbol. Bahkan sekarang simbol dan tindakan simbolik di dalam GKJ telah berubah menjadi sekedar tanda. Berbeda dengan simbol, yang mengandung makna sehingga mengajak  (menuntut)orang untuk merenungkan demi menemukan makna simbol itu, tanda menunjuk secara langsung kepada yang ditandai. Salib, misalnya, sebagai simbol mengajak (menuntut) orang untuk merenungkan makna salib. Sebagai contoh perenungan itu, palang yang mengarah horisontal  dapat dimaknai panggilan untuk mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri, sedang palang yang mengarah vertical dapat dimaknai palang ke atas adalah panggilan untuk mengasihi Allah dengan seluruh hidup, sedangkan palang ke bawab adalah panggilan untuk mengasihi alam (bumi dengan seluruh isi di dalamnya). Akan tetapi, sekarang salib cenderung lebih merupakan tanda bahwa orang yang memiliki salib atau menggunakan salib  sebagai hiasan  itu adalah orang Kristen, meskipun orang itu hidupnya sama sekali tidak ngristeni. Bahkan tidak jarang salib hanya dijadikan kebanggaan untuk mengunggulkan kelompok atau golongan sendiri. Di masa lampau, misalnya, ada perang salib. Pembunuhan dilakukan atas nama salib. Sekarang pun juga sering terjadi hal demikian itu. Padahal salib yang dijalani oleh Yesus Kristus adalah pengurbanan diri, pengosongan diri, perendahan diri.

Tindakan simbolik pun sering sudah kehilangan kekuatan simboliknya dan berubah menjadi sekedar tanda. Sakramen perjamuan, misalnya, sesungguhnya adalah tindakan simbolik. Orang yang ikut serta dalam sakramen perjamuan diajak untuk merenungkan pengurbanan Yesus, panggilan untuk mewartakan kasih Kristus, panggilan untuk mewujudkan kesatuan jemaat sebagai sebuah keluarga, dsbnya, namun sering terjadi bahwa keikut sertaan dalam sakramen perjamuan dijalani sekedar sebagai bukti bahwa dirinya warga greja. Sehingga sakramen perjamuan itu tidak menggetarkan hati dan jiwa.

Demikian pula halnya dengan sakramen baptis. Sesunguhnya baptis adalah tindakan simbolik yang menuntut perenungan menemukan makna baptis itu. Makna dimandikan kudus, atau makna diselamkan dalam nama Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus, dsbnya. Akan tetapi seringkali baptis lebih merupakan upacara menjadi Kristen atau warga gereja. Sehingga setelah baptis juga tidak ada perubahan apa pun dalam hidup orang itu, kecuali perubahan pencantuman jenis kelompok agama di ktp, yaitu Kristen.

Karena kecenderungan menghapus simbol-simbol, dan bahkan mengeringnya pemaknaan simbol dan tindakan simbolik, maka GKJ juga cenderung menolak simbol-simbol yang dipakai dalam ritus Jawa, sebab simbol-simbol itu dianggap berasal dari kuasa kegelapan, iblis, sehingga menggunakna simbol-simbol itu sama dengan berdosa. Penggunaan bunga, misalnya, biasanya hanya terjadi ketika ada ibadah peneguhan dan pemberkatan nikah. Itupun karena keluarga pengantin yang menghendakinya untuk menyemarakkan suasana, dan tidak ada kaitannya dengan ibadah yang diselenggarakan. Di beberapa gereja memang ada yang memajang rangkaian bunga tetapi (sekali lagi) itu hanya sebagai hiasan, dan tidak ada kaitannya dengan ibadah yang diselenggarakan. Bahkan ada yang memajang bunga plastik, bukan bunga hidup. Padahal ibadah diselenggarakan kepada Allah yang hidup, dilakukan oleh orang yang hidup, dan ibadah dilakukan untuk menumbuh-kembangkan hidup, namun mengapa rangkaian bunga yang dipajang itu bunga mati, bunga plastik. Penggunaan bunga itu tidak sebagai simbol dalam ritus yang dijalankan, melainkan sekedar hiasan atau penyemarak suasana. Sebenarnya bunga bisa dimanfaatkan sebagai simbol dalam ritus yang sedang diselenggarakan. Ketika ada pembaptisan misalnya, ke dalam air yang dipakai untuk membaptis dicampurkan "kembang setaman" yang biasanya terdiri atas mawar, melati, kanthil dan kenanga, bunga-bunga yang ditanam di kebun (taman).  Penggunaan "kembang setaman" itu mengajak untuk merenung makna yang terkandung di dalam "kembang setaman"  antara lain panggilan agar di hidup selanjutnya selalu harum, menjadi korban harum, dsb.

Simbol lain yang oleh orang Jawa selalu dipakai dalam ritus keagamaan tetapi dibenci oleh Kristen, seolah simbol itu adalah benar-benar setan, adalah dupa atau kemenyan. Sebenarnya di dalam Alkitab dupa atau kemenyan seringkali disebutkan. Di dalam upacara keagamaan Israel sebagaimana tercatat dalam Perjanjian Lama, misalnya, dupa itu merupakan alat penting dalam ibadah. Salah satu persembahan yang disampaikan kepada bayi Yesus adalah kemenyan. Di kitab Wahyu 8 : 3, dst kita temukan kesaksian tentang pedupaan dan asap kemenyan yang mengiringi doa orang-orang kudus. Oleh sebab itu, kalau dupa atau kemenyan dipakai di dalam ibadah sebenarnya hendak mengajak jemaat untuk merenungkan makna dupa atau asap kemenyan itu. Baunya yang harum, asapnya yang naik ke atas, dst merupakan ajakan agar hidup ini adalah hidup yang harum, yang dipersembahkan kepada Allah, dst.

 

Budaya Jawa: laku ritual dalam ibadah

Di dalam ibadah GKJ selalu digunakan sebutan-sebutan yang menyiratkan sikap jemaat kepada Tuhan, antara lain sebutan datang (Jawa: sowan), sembah, bakti, sujud, dsb. Juga sebutan yang menyiratkan bahwa tempat beribadah itu istimewa atau suci. Akan tetapi, sebutan-sebutan itu lebih bersifat kata kosong belaka. Kata itu diucapkan, tetapi dalam praktek tidak ada petunjuk atau tanda bahwa memang ada sikap dan perilaku yang sesuai dengan sebutan itu.

Dalam ibadah bisanya jemaat menyebutnya sebagai menghadap Allah.  Akan tetapi, dalam praktek rasa hormat menghadap Allah itu seolah tidak ada. Bandingkan ketika menghadap bupati, apalagi bagi rakyat Yogyakarta atau Surakarta kalau menghadap raja, maka getaran hati yang dipenuhi rasa takut-hormat (Jawa: wedi-asih) itu nyata sekali. Namun dalam ibadah getaran hati yang demikian itu tidak kentara atau bahkan memang tidak ada. Banyak orang yang di dalam ibadah duduk dengan "sila tumpang" padahal sikap demikian itu di hadapan hakim dunia saja, yaitu di ruang sidang pengadilan, dilarang. Di dalam upacara bendera orang akan bersikap siap sebagai ungkapan getaran rasa takut-hormat kepada simbol negara itu, tetapi mengapa di dalam ibadah sikap takut-hormat itu tidak nampak, tidak terasa dan bahkan memang tidak ada. Di samping itu, seringkali di dalam ibadah itu disebut ungkapan menyembah sujud kepada Allah. Akan tetapi sikap menyembah sujud itu sama sekali tidak ada. Jemaat justru duduk atau berdiri, dan tidak pernah ada jemaat GKJ yang di dalam ibadah benar-benar sujud. Untuk membenarkan diri memang dapat dibuat alasan yang masuk akal, misalnya bahwa yang penting adalah sikap hati, dsb. Akan tetapi, alasan pembenar diri demikian itu sama sekali tidak menghapus kenyataan bahwa ada yang tidak sesuai antara yang diucapkan dengan sikap dan tindakan yang senyatanya.

Tentang tempat suci, GKJ tidak mempunyai sama sekali tempat yang diperlakukan sebagai tempat suci, sebagai tempat yang memang dikhususkan hanya untuk Tuhan. Bandingkan, misalnya dengan Gereja Roma Katolik, yang memang mengkhususkan altar sebagai tempat suci dan hosti sebagai benda suci. Anggapan itu kemudian diungkapkan dengan memberi hormat sebelum imam atau pastor menyentuh hosti. Sedangkan umat Muslim justru memperlakukan masjid  dengan sedemikian hormat sebagai tempat suci.  Sebenarnya GKJ memiliki simbol kehadiran Allah, yaitu Alkitab. Akan tetapi karena tidak ada ungkapan (dalam bentuk tindak yang kasat mata) getaran rasa takut-hormat (Jawa: wedi-asih) maka pembedaan tempat suci dan kurang suci serta yang tidak suci pun tidak terasa juga. Di dalam sakramen perjamuan, misalnya, terlihat (kasat mata) bahwa jemaat mengalami getaran rasa takut-hormat (wedi-asih) terhadap roti yang menjadi simbol tubuh Yesus. Mereka makan roti itu dengan kidmat. Namun mengapa di dalam ibadah biasa getaran takut-hormat itu seolah tidak ada.

Yang mesti dibedakan adalah antara suci atau sakral dengan bertuah atau wingit, angker. Tempat yang disucikan, itu memang dengan sengaja disakralkan. Akan tetapi tempat itu tidak berubah menjadi tempat yang bertuah atau wingit, angker. Tempat yang disucikan itu menjadi suci karena oleh jemaat dengan sengaja disucikan, disakralkan, yaitu dikhususkan untuk Tuhan. Sedangkan tempat yang bertuah, atau wingit, angker itu tempat yang diyakini mengandung kekuatan gaib. Bagi Kristen memang tidak ada tempat bertuah, wingit, angker. Akan tetapi memang ada tempat suci, sakral, yang dengan sengaja dikhususkan untuk Tuhan. Berdasarkan paham dan keyakinan demikian ini beberapa pendeta dengan sengaja melepas alas kaki ketika ke altar atau mimbar, sebagai ungkapan getaran rasa takut-hormat ke tempat suci, tempat yang dikhususkan bagi Tuhan, sebagaimana Musa yang melepas kasut ketika mendekat ke belukar yang menyala tempat Tuhan menyatakan diri.

 

Budaya Jawa: ageman dalam ibadah

Pengenaan pakaian khas dalam ibadah di lingkungan GKJ, terlebih GKJ yang di desa, hanyalah bagi pendeta. Penetua atau tua-tua dan diaken tidak mengenakan pakaian khas dalam ibadah. Apalagi jemaat secara keseluruhan. Dalam ibadah, terlebih ibadah istimewa, misalnya dalam ibadah pelayanan sakramen, pendeta memakai toga. Tidak diketahui secara pasti alasan teologis pendeta mengenakan toga, kecuali hanya alasan tradisi yang diwariskan Belanda. Tidak ada alasan, apalagi alasan teologis, warna toga itu hitam dan bukan putih, misalnya, atau kuning (seperti Bhiku Budhis). Pengenaan toga, terlebih di jemaat desa, mengakibatkan pembedaan yang sangat menyolok antara pendeta dengan jemaat itu. Sementara jemaat berpakaian biasa, atau bahkan jemaat yang miskin hanya memakai kaos sebab memang tidak mempunyai baju yang lebih baik daripada kaos itu, pendeta memakai toga yang sesungguhnya asing bagi jemaat itu. Apalagi ketika ditambahi dengan stola, maka kemegahan dan kemewahan yang nampak tetapi jemaat tidak mengerti mengapa itu dipakai, apa makna simbolik dari pakaian itu.

Orang Jawa di jaman dulu kala memiliki celana tetapi bertelanjang dada. Di kemudian hari, agaknya karena pengaruh Belanda, mereka mengenakan baju. Orang Jawa memodifikasi baju yang diperkenalkan oleh orang Belanda itu menjadi khas Jawa, yaitu surjan untuk masyarakat Yogyakarta dan beskap untuk masyarakat Sala. Baju itu dilengkapkan dengan kain (jarik) atau sarung, ikat kepala dan keris. Pemilihan jenis kain, cara mengenakan kain, jenis ikat kepala, dan penempatan keris sebenarnya merupakan tindakan simbolik, maka harus direnungkan agar dapat menemukan maknanya.

Kebanyakan beskap hanya berwarna hitam atau putih. Ada pula orang yang membuat beskap warna lain. Surjan bisa dibuat dari bahan bermacam-macaam warna. Orang bisa membuat surjan berwarna merah, jambon, ungu, putih, hitam, dsb. Apabila dikenakan dalam beribadah dapat disesuaikan dengan warna liturgis yang sedang diberlangsungkan.  Di suatu gereja di desa, misalnya, pada hari Kamis putih hingga Minggu adi, jemaat memakai pakaian putih. Mereka yang mengenakan pakaian Jawa dapat mengenakan surjan atau beskap putih.

Berkaitan dengan kain atau jarik, pemilihan jenis kain, antara lain latar putih, kawung, parang, sida mukti, dsb. merupakan tindakan simbolik. Di samping itu, pilihan wiron atau lipatan pinggir kain juga merupakan tindakan simbolik.

Berkaitan dengan ikat kepala, di samping makna simbolik ikat kepala itu sendiri, juga pemilihan corak batik ikat kepala yang sesuai dengan kain atau jarik yang dipakai merupakan tindakan simbolik. Apakah akan menggunakan ikat kepala truntum, misalnya, atau wulung, dsb. Ikat kepala itu sendiri merupakan kain yang dilipat secara rapi. Ketika dilepas akan menjadi kain, kalau dilipat menjadi ikat kepala. Dengan mengenakan ikat kepala itu setidaknya si pemakai diajak untuk merenungkan makna "digelar lan digulung" (dilepas dan dilipat rapi). Dengan mengenakan ikat kepala maka si pengkotbah, atau pendeta, diajak atau dimotivasi agar ajaran yang digelar atau disampaikan itu dapat digulung atau dipahami dan tentu saja juga dijalani.

Berkaitan dengan pemakaian keris, peletakan keris juga merupakan tindakan simbolik. Biasanya keris diselipkan di antara lipatan sabuk pada bagian belakang (punggung). Bagi para pendeta, atau yang mengarahkan hidupnya kepada Tuhan Allah, yang memilih membelakangi dunia, menempatkan keris diselipkan di sabuk bagian kanan.

Ada seorang Kristen desa, yang merenungkan keris sebagai pusaka atau piandel atau yang diandalkan, wayang dan Yesus, berkesimpulan:

Ana telung werna gegayuhan ing urip iki. Sepisan, luput ing lara luput ing pati; Kang kapindho, kena ing lara luput ing pati; dene kang kaping telu yaiku kena ing lara kena ing pati. Dene tataran kang paling dhuwur dhewe iku kang kaping telu.

(ada tiga jenis pencapaian di dalam hidup ini. Pertama, tidak bisa sakit dan mati; Yang kedua, bisa sakit tetapi terlepas dari kematian; dan yang ketiga, adalah bisa sakit dan mati. Adapun tingkat yang paling tinggi adalah yang ketiga)

Di dalam wayang, tokoh yang menghindari sakit dan mati adalah tokoh yang memiliki ajian sakti dan pusaka hebat. Mereka itu adalah para ksatria. Mereka itu  sakti, digdaya. Dengan kesaktian dan kedigdayaan itu mereka menjagai diri agar tidak terkena sakit apalagi mati. Padahal setiap orang pasti akan mati. Orang yang demikian ini, tingkat pencapaian hidupnya sesungguhnya justru di tingkat paling rendah. Mereka masih tergantung kepada ajian dan pusaka. Kalau ajian dan pusaka nya terkalahkan oleh ajian dan pusaka pihak lain, maka ia akan sangat sengsara dan mati pun dengan penasaran. Setingkat lebih tinggi adalah para pendeta, resi atau dahnyang. Mereka adalah orang yang waskita, yang "ngerti sadurunge winarah", bisa melihat hal-hal yang gaib.  Dalam wayang mereka digambarkan memakai keris diselipkan di bagian lambung kanan. Karena waskita, "ngerti sadurunge winarah" atau bisa melihat hal-hal gaib maka kalau pun terkena sakit mereka berusaha menghindar dari kematian. Ada jenis tokoh lain yang tidak mempunyai ajian dan pusaka. Tokoh demikian ini mudah dilukai, terkena sakit, dan juga mati. Di wayang mereka itu adalah Semar, Abiyasa, dll. Ini adalah tokoh wicaksana. Tokoh yang menyadari bahwa orang bisa dan akan sakit serta mati. Yang disiapkan adalah hati bening, budi wening, diri yang hening. Kalau pun sakit bahkan mati juga hatinya bening, kalau tetap hidup dan sehat hatinya juga bening. Dengan kata lain hatinya selalu damai, tenteram. Tokoh demikian ini nampak jelas sekali dalam diri Yesus. Di dalam derita yang tak terperikan, di salib dalam kenistaan, Ia tetap memiliki hati damai, tenteram, maka Ia mendoakan orang yang menyalibkan dan Ia meninggal-kan dunia dengan damai, tenteram sebagaimana terungkap dalam doa-Nya "Ya, Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku." Jadi, tingkat paling tinggi dalam pencapaian hidup itu adalah memiliki dan menjaga hati damai, tenteram, bening, hening, wening, sehingga ketika sakit atau sehat, mati atau hidup, hatinya damai, tenteram, bening, wening, hening. Dalam kesimpulan yang demikian ini si Kristen dari desa itu memiliki keris tetapi tidak pernah memakai keris lagi. Akan tetapi kalau tahu ada orang yang merusak keris ia marah sekali, sebab merusak keris berarti menghina kepada pembuat keris, atau kaum empu, yang membuat keris itu dengan segala jerih-payah dan kesulitannya.

 

Budaya Jawa: ajaran moral dalam ibadah

Salah satu unsur ibadah adalah kotbah. Bahkan kadang kotbah dianggap paling penting. Meskipun anggapan demikian ini salah, tetapi agaknya telah menjadi anggapan yang salah-kaprah bahwa kotbah itu bagian terpenting dalam ibadah.

Salah satu fungsi kotbah itu adalah menyampaikan kehendak Allah, dan kehendak Allah itu juga tercermin dalam nilai-nilai luhur universal. Oleh sebab itu di dalam kotbah juga layak menunjuk nilai-nilai universal untuk menjelaskan atau menegaskan makna Alkitab. Di dalam masyarakat Jawa ada banyak ajaran moral yang mengandung nilai-nilai universal. Bahkan ajaran moral itu mirip dengan ayat di Alkitab. "sapa gawe, nganggo. Sapa nandur, ngundhuh"  atau "ngundhuh wohing pakarti" misalnya sangat mirip dengan "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu" (Lukas 6 : 38).

Memang ada juga ajaran moral yang layak ditolak sebab tidak mencerminkan harkat dan martabat manusia sebagai gambar dan peta Allah, sebaliknya mempertegas perbedaan orang karena status sosial yang berbeda. Yang satu seolah benar-benar manusia, sedangkan yang lain kurang manusia. Sebagai contoh ungkapan "ajining dhiri saka lathi, ajining raga saka busana" Bahwa "ajining dhiri iku saka lathi" itu layak dipraktekkan. Seseorang itu layak dihormati atau tidak, juga ditentukan dari ucapan atau omongannya. Apakah ia setia dengan janjinya, apakah omongannya itu benar dan jujur, apakah omongannya itu dapat dipercaya (isa digugu). Bahkan ajaran moral itu dapat dilengkapkan dengan "ajining dhiri iku saka lathi lan budi-pekerti." Seseorang dihormati atau tidak itu juga ditentukan oleh omongannya dan perilakunya. Apakah orang itu dapat dipercaya dan dijadikan teladan (digugu lan ditiru). Akan tetapi, bahwa "ajining raga saka busana" mesti ditolak. Kalau orang diperlakukan sebagai orang terhormat atau tidak itu ditentukan dari penampilan maka orang akan terjebak oleh penampilan. Tidak jarang terjadi orang yang berpenampilan baik ternyata adalah penjahat. Lagipula budaya pakaian kelompok atau komunitas tertentu berbeda dengan budaya pakaian kelompok atau komunitas lain. Orang Papua, misalnya, menganggap koteka sebagai pakaian yang pantas. Sedangkan orang di Jawa akan memakai sarung daripada koteka. Orang yang memakai koteka tidak dapat disebut kurang "manusia" sehingga tidak dihormati sebagai manusia dibandingkan dengan yang memakai sarung, atau yang memakai dasi dan jas (tetapi merampok uang Negara dan rakyat).

 

Budaya Jawa: wayang dalam ibadah

Di jaman sekarang wayang sudah tidak terlalu diminati oleh banyak orang. Terlebih generasi muda tidak tertarik kepada wayang, meskipun hanya sebagai tontonan. Meskipun sesuai dengan sebutannya, yaitu wayang, sejatinya wayang itu adalah gambaran, bayangan, cermin dari diri sendiri dan masyarakat. Di samping itu wayang merupakan media untuk menyampaikan tuntunan, ajaran, petuah, nasihat, wejangan.

Di dalam ibadah, khususnya dalam kotbah, pendeta atau pengkotbah dapat menggunakan wayang untuk menyampaikan kotbahnya. Hal itu dapat dilakukan dengan menggunakan peraga wayang, tetapi juga bisa dengan menggunakan lakon atau tafsiran atas peraga tertentu. Semar, misalnya, dapat dijadikan alat untuk menjelaskan makna merendahkan diri atau kenosis yang dijalani oleh Yesus Kristus. Sebagaimana Semar yang rupanya jelek, tidak mempunyai kedudukan, tidak mempunyai senjata atau pusaka, tidak mempunyai ajian, hanya rakyat jelata, namun perannya dalam menjaga kehidupan yang damai-sejahtera sangat besar. Itulah Yesus, yang merendahkan diri sedemikian hina, dan menyelamatkan dunia.

Seorang pendeta desa menafsirkan secara baru lakon Bambang Ekalaya. Dalam lakon yang biasanya Bambang Ekalaya yang ahli memanah dengan berguru kepada Dahnyang Drona secara maya itu dibunuh. Akan tetapi, oleh pendeta ini diubah. Bambang Ekalaya tidak dibunuh tetapi justru dijadikan saudara oleh Harjuna yang semua itu terjadi atas nasihat Petruk.

 

Catatan akhir

Yang didiskusikan kali ini sebenarnya budaya Jawa sebagai hasil budi masyarakat Jawa dulu, yang masih dipelihara hingga sekarang meskipun tidak dengan semangat menyala. Sedangkan budaya itu selalu bertumbuh-kembang. Sekarang ada campur-sari yang di masa dulu belum ada. Oleh sebab itu dialog gereja atau Kristen dengan Jawa mesti terus dilakukan. Terlebih dialog itu merupakan proses yang tidak pernah selesai. Dengan dialog itu maka kritik terhadap budaya tetapi juga terhadap gereja selalu dilakukan. Dengan demikian GKJ juga terpacu untuk terus mewujudkan semboyan reformasi: "ecclesia reformata semper reformanda est" Gereja reformasi itu wajib terus direformasi. Ketenangan karena kemandegan adalah ancaman bagi gereja, sebab ketenangan karena kemandegan pada hakikatnya adalah kematian. Sebaliknya perubahan memang selalu menggoncangkan, membuat orang merasa tidak nyaman sebab harus terus bergerak, seperti halnya 40 tahun bangsa Israel di padang belantara sebelum masuk ke tanah perjanjian, namun itu adalah dinamik, itu adalah hidup.

 

Pondok MARDIKA

281011


Share this :

Berita "Wacana Umum" Lainnya