LITURGI KEBANGSAAN 2018

Bahan Dasar

"BANGSA YANG HIDUP BERSAMA TUHAN"

Bulan Agustus 2018 ini oleh Sinode GKJ dimanfaatkan sebagai Bulan Kebangsaan dan Budaya. Harapan yang terkandung di dalam Bulan Kebangsaan dan Budaya adalah agar Gereja-gereja dapat menghayati makna panggilan Tuhan di dalam kebersamaan dengan komunitas lain di negeri ini. Gagasan dasar yang terkandung di dalam Bulan Kebangsaan dan Budaya selaras dengan Rencana Operasional (Renop) Sinode GKJ Tahun Pelayanan 2016-2024, terutama dalam kerangka ekumene kontekstual.

Sebagaimana kita pahami bersama bahwa paham ekumene tidak hanya sebatas pada kebersamaan umat kristiani, tapi kebersamaan dengan umat beragama lain, dan melebar pada seluruh ciptaan. Hal itu sesuai dengan makna istilah "oikumene" yang berasal dari kata "oikos" (rumah) dan "menen" (tinggal; berdiam). Sehingga ekumene juga dipahami dan dipraktekkan secara luas dan mendalam sebagai kebersamaan seluruh ciptaan Tuhan (ekumene semesta).

Bulan Agustus dipilih sebagai Bulan Kebangsaan dan Budaya dikarenakan bertepatan dengan perayaan HUT RI. Lazimnya dalam merayakan HUT RI semua elemen bangsa kembali mengingat sejarah perjuangan para pejuang dan pahlawan dalam merebut kemerdekaan RI. Semua itu dilakukan dengan harapan dapat menghidupi nilai-nilai luhur di masa kini.

GKJ sebagai bagian dari elemen bangsa menyadari bahwa kemerdekaan RI bukan hanya karena perjuangan bangsa ini semata, tetapi juga karena anugerah Tuhan. Hal tersebut tertuang di dalam Pembukaan UUD'45, "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya."

Gereja memahami "atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa..." sejajar dengan istilah anugerah. Istilah tersebut 500 tahun yang lalu diungkapkan sebagai semboyan gerakan reformasi gereja, "sola gratia (hanya karena anugerah), sola fide (hanya karena iman), sola scriptura (hanya karena firman), solo Christo (hanya oleh Kristus)". Oleh sebab itulah, dengan memasuki Bulan Kebangsaan dan Budaya, GKJ dipanggil untuk menjalankan fungsinya di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan harapan melaluinya anugerah Allah tersebut semakin dirasakan oleh seluruh elemen bangsa. GKJ menyadari bahwa fungsi tersebut hanya dapat dilakukan jika terus mengandalkan Tuhan.

Terkait hal tersebut di atas, maka tema Bulan Kebangsaan dan Budaya tahun ini adalah "Bangsa yang Berjalan Bersama Tuhan". Jikakalu ada kata yang tepat untuk menggambarkan situasi bangsa saat ini, maka kata "ironis" kemungkinan besar adalah salah satunya. Hal tersebut karena ketika pemerintah dan sebagian elemen bangsa sedang mencurahkan perhatian bagi terwujudnya kesatuan dan persatuan bangsa, di saat yang bersamaan ada sebagian komunitas yang tidak menghendaki negeri ini hidup dalam perdamaian. Mereka dengan sengaja ingin mengubah ideologi bangsa dan melakukan tindak kekerasan yang merusak persatuan dan kesatuan bangsa ini.

Kenyataan itu diakui atau tidak seringkali melemahkan semangat kita untuk bersama-sama menjaga kehidupan ini sebagai "rumah bersama". Hal itu terlihat dari seringnya orang tidak terlalu antusias terhadap program pilkada, pemilu, percepatan pembangunan, dll. Padahal semuanya itu merupakan sarana kita untuk ambil bagian ikut menentukan arah kehidupan bersama yang harus kita jalani.

Terkait dengan hal di atas, maka GKJ terpanggil menjadi pelopor dan penjaga semangat hidup bersama. Bentuk dari upaya tersebut akan kita pelajari bersama selama Bulan Kebangsaan dan Budaya tahun ini. Hal-hal tersebut dapat kita temukan dalam bahan PA, PD, sarasehan, liturgi dan kegiatan-kegiatan alternatif yang dapat dikerjakan dalam aras kelompok, gereja, klasis maupun masyarakat. Sebagai contoh konkrit dari hal tersebut, dalam buku ini disajikan juga karya nyata yang sudah dilakukan oleh GKJ Klasis Gunung Kidul yang mengupayakan hidup bersama dengan komunitas lain dalam wujud "Sekolah Kebhinekaan".

 

 

Klik di sini untuk mengunduh


Share this :

Berita "Liturgi" Lainnya