BERITA BOHONG ATAU HOAX ADALAH SUATU KEJAHATAN

BERITA BOHONG ATAU HOAX ADALAH SUATU KEJAHATAN

 

( oleh : Elys Sudarwati, SH, YLPHS )

Di indonesia masyarakatnya 90 % menggunakan media sosial, misalnya fb, dan selama 24 jam, masyarakat Indonesia melihat atau menggunakan media sosial minimal 4 - 5 jam perharinya disela-sela aktifitasnya setiap hari, atau kadang apabila menemukan sesuatu yang aneh, mereka tidak segan -segan mengirim foto tersebut di media sosial. Dari sini kita bisa melihat bagaimana ketergantuangan masyarakat akan media sosial dalam kehidupannya.  Alangkah bahayanya apabila dalam setiap hari masyarakat di berikan . Akhir-akhir ini kata `bohong`, apalagi dikaitkan dengan `publik` sangat sensitif dan bisa jadi mengundang kemarahan pihak yang tertuduh melakukannya.

Kecanggihan dan perkembangan teknologi internet yang saat ini sedang mengalami peningkatan yang tajam membuat segala informasi yang berasal dari dalam maupun luar negeri dapat dengan mudahnya diakses oleh semua orang dari berbagai kalangan. Kini, kita tidak hanya melihat berita dari televisi dan radio saja, kita dapat mencari dan memperbaharui dari internet.

Pada era Internet seperti sekarang, hoax kian populer dan merajalela. Kabar bohong lebih luas beredar seiring makin lebarnya penetrasi media sosial dan aplikasi obrolan. Facebook, Twitter, Whatsapp, merupakan kanal informasi yang menjadi lahan subur merebaknya kabar bohong. Hoax beredar dari satu laman ke laman lain, dari satu media ke media lain, dari satu ruang obrolan digital ke ruang grup digital lainnya. Siapa yang tak pernah mendapat, atau malah ikut menyebarkan, kabar palsu?

Celakanya banyak orang ikut terjangkit virus mudah membagikan kabar bohong itu, hanya dengan sekali klik. Rupanya wabah memproduksi hoax menjangkiti media-media yang dulunya dikenal sebagai produk jurnalistik andal dan tepercaya. Bukan hanya sekali dua kali media di Indonesia menerbitkan kabar bohong yang bersumber dari situs parodi atau palsu.

Faktanya informasi atau berita di internetlah yang paling up to date atau terbaru dari media pemberitaan yang ada saat ini. Itulah kenapa sebuah berita internet tiada jeda untuk menerbitkan konten berita setiap hari, bahkan setiap detiknya.

Akan tetapi berita yang bersumber dari internet tidak semuanya merupakan berita yang sebenarnya. Selalu saja ada oknum-oknum yang berusaha menerbitkan berita palsu atau hoax hanya demi mendompleng popularitas atau semata mata hanya sekedar menarik pengunjung untuk membuka websitenya.
Cara mengetahui berita hoax atau tidak, ternyata dapat kita lakukan dengan mudah. Semakin bertambah banyak pengguna internet semakin bertambah banyak juga berita dan informasi yang bisa kita peroleh. Semakin cepat pula sebuah berita dapat menyebar. Berita yang dikirim oleh seseorang cepat sekali sampai pada orang lain karena ada orang lain yang membagikannya dengan segera. Sayangnya masyarakat selalu menyebarkan berita tanpa mencari terlebih dahulu kebenaran dari berita yang telah ia baca. Kebanyakan orang menyebarkan sebuah berita hanya untuk terlihat update dimata orang lain seolah bisa mengirimkan informasi terbaru. Ini tentu perilaku yang tidak benar dan tidak baik. Semakin mudahnya akses internet dan kemajuan teknologi komunikasi membuat kita bisa saling berinteraksi satu sama lain menembus batas antarwilayah.

Berita hoax alias berita bohong yang tidak jelas kebenarannya memang semakin parah tersebar belakangan ini. Saat ini pengguna sosial media seperi facebook mengalami peningkatan, dimana semakin banyak pula media ‘abal-abal' atau tidak jelas begitu mudahnya menyebarkan berita palsu tentang berbagai hal.

Pada pasal 28 ayat (1) UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik ("UU ITE") menyatakan, "Setiap orang dengan sengaja, dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi  Elektronik." Perbuatan yang diatur dalam Pasal 28 ayat (1) UU ITE merupakan salah satu perbuatan yang dilarang dalam UU ITE. UU ITE tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan "berita bohong dan menyesatkan".

Terkait dengan rumusan Pasal 28 ayat (1) UU ITE yang menggunakan frasa "menyebarkan berita bohong", sebenarnya terdapat ketentuan serupa dalam Pasal 390 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ("KUHP") walaupun dengan rumusan yang sedikit berbeda yaitu digunakannya frasa "menyiarkan kabar bohong". Menurut buku Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal yang ditulis oleh R. Soesilo (hal. 269), terdakwa hanya dapat dihukum dengan Pasal 390 KUHP, apabila ternyata bahwa kabar yang disiarkan itu adalah kabar bohong. Yang dipandang sebagai kabar bohong, tidak saja memberitahukan suatu kabar yang kosong, akan tetapi juga menceritakan secara tidak betul tentang suatu kejadian. Menurut hemat kami, penjelasan ini berlaku juga bagi Pasal 28 ayat (1) UU ITE. Suatu berita yang menceritakan secara tidak betul tentang suatu kejadian adalah termasuk juga berita bohong.

Mari sama-sama menjadi orang yang tidak mudah tertipu oleh sebuah berita. Mari kita semua bersikap kritis dan skeptis terhadap seluruh informasi yang diterima, sekalipun informasi itu berasal dari sumber yang paling kredibel. Sikap kritis dan skeptis akan membawa kita untuk selalu ingin tahu. Sifat selalu ingin tahu akan membangkitkan semangat belajar sehingga pengetahuan juga semakin bertambah. Namun jangan begitu saja percaya pada sebuah artikel dan pemberitaan yang ada di dunia maya. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi berkat untuk kita semua, amin.


Share this :

Berita "Berita Lembaga" Lainnya