Pemaksaan Hubungan Sexsual dalam Perkawinan adalah Kejahatan Perkosaan

Banyak pihak yang masih belum mau mengakui adanya praktek pemaksaan hubungan sexsual dalam perkawinan. Memang kasus ini tidak banyak terangkat karena korban lebih sering menyembunyikan penderitaan yang dialaminya. Malu, mengganggap apa yang dialaminya adalah hal yang tabu untuk diketahui orang lain dan ketidak tahuan bahwa pemaksaan hubungan sexsual adalah kekerasan dalam rumah tangga. Padahal kenyataannya banyak terjadi pemaksaan hubungan sexsual yang dilakukan suami terhadap istrinya.

Sebagaian besar masyarakat masih berpendapat bahwa tidak ada yang namanya pemerkosaan dalam perkawinan. Menurut mereka, setiap hubungan sexsual yang berlangsung antara suami istri terlebih dalam ikatan yang sah secara hukum dan agama adalah suatu kewajaran dan rutinitas yang memang sudah seharusnya dilakukan. Anggapan lain di masyarakat yang tidak tepat adalah istri tidak boleh menolak ajakan suami untuk berhubungan sexsual. Kuatnya anggapan tersebut menyebabkan ketika suami melakukan pemaksaan dan kekerasan seksual terhadap istrinya dianggap wajar -wajar saja. Dan ketika sang istri menolak, mereka dianggap sebagai istri yang melawan suami. Bagi mereka istri harus selalu siap melayani kapanpun suami menginginkan hubungan sexsual. Padahal, ada kalanya istri sedang tidak bergairah, sedang menstruasi atau tertidur karena kelelahan sesudah aktivitas seharian, baik diluar atapun diluar rumah. Tidak jarang pula suami akan memaksa melakukan variasi hubungan seksual dengan gaya atau cara yang tidak ingin dilakukan oleh si istri karena dianggap itu diluar kewajaran.

Sebagai perempuan yang memiliki tubuhnya sendiri, istri tentu memiliki hak untuk mengatakan tidak dan menolak setiap bentuk hubungan seksual yang tidak diinginkan. Dengan demikian, penting untuk dicamkan bahwa pemerkosaan dalam perkawinan adalah setiap hubungan seksual dalam ikatan perkawinan yang berlangsung tanpa persetujuan bersama, dilakukan dengan paksaan, dibawah ancaman atau dengan kekerasan. Sehingga, jika ada suami yang memaksa istrinya untuk melakukan hubungan seksual padahal istri tidak menginginkannya, maka itu termasuk tindakan pemerkosaan.

Tindak kekerasan di dalam rumah tangga (domestic violence) merupakan jenis kejahatan yang kurang mendapatkan perhatian dan jangkauan hukum.  Tindak kekerasan di dalam rumah tangga pada umumnya melibatkan pelaku dan korban diantara anggota keluarga di dalam rumah tangga, sedangkan bentuk tindak kekerasan bisa berupa kekerasan fisik dan kekerasan verbal (ancaman kekerasan).  Pelaku dan korban tindak kekerasan didalam rumah tangga bisa menimpa siapa saja, tidak dibatasi oleh strata, status sosial, tingkat pendidikan, dan suku bangsa.

Menurut pasal 8 UU no. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, pemaksaan hubungan seksual dalam lingkup rumah tangga itu dilarang . Artinya, biarpun sudah menikah, persetujuan kedua pihak untuk berhubungan badan tetap diperlukan.

Kasus suami perkosa istri ini terbilang cukup menarik, karena dalam ikatan perkawinan suatu hubungan badan antara suami dan istri adalah hal yang wajar, masyarakat akan menganggap itu tabu ketika dikategorikan pemerkosaan, karena sudah kewajiban istri melayani suaminya.

Namun perbuatan itu tidak dibenarkan dalam hukum positif (yang sedang berlaku) di Indonesia, mengingat dalam undang-undang nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga atau yang dikenal dengan UU PKDRT khususnya dalam pasal 5 disebutkan:

"Setiap orang dilarang melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya, dengan cara:"kekerasan fisik ; kekerasan psikis;
kekerasan seksual; ataupenelantaran rumah tangga.

Semua itu menjelaskan bahwa suami yang memaksa istrinya bersetubuh di luar kehendak istri maka dikategorikan sebagai pemerkosaan, memang agak sedikit aneh dan hal ini sangat tabu di masyarakat kita, namun cobalah kita berpikir logis sekejap, ketika seorang istri menolak untuk melakukan hubungan seksual dengan suaminya tentu memiliki hubungan sebab-akibat (kausalitas), seperti contoh dua kasus di atas, di mana terjadi di Denpasar, si istri menolak berhubungan seksual dengan alasan sedang sakit, namun alih-alih untuk dimaklumi justru sang suami nekat untuk memaksa istrinya melayani nafsu birahinya, akibatnya warga menemukan si istri dengan posisi terlentang lemas di lantai. Jika istri berkewajiban melayani suaminya tanpa mengenal alasan apapun, justru akan menjadi petaka bagi perempuan, di mana dalam keadaan sakit dipaksa untuk melakukan persetubuhan. Ketika UU tidak mengatur tentang hal ini, maka sangat berbahaya bagi perempuan dan bahkan akan mengancam nyawanya.

Dalam Rancangan Undang-undang (RUU) Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) diwacanakan akan merubah definisi pemerkosaan menjadi persetubuhan yang dilakukan di luar kehendak salah satu pihak. Hal ini memungkinkan bagi suami yang tidak berkehendak bersetubuh dengan istri dapat melaporkan istrinya ke aparat yang berwajib, lagi-lagi ini suatu problema yang dianggap sangat tabu, sangat aneh ketika laki-laki diperkosa oleh istri sendiri, apalagi melaporkan istri yang menyetubuhinya.

Sebenarnya secara tidak langsung dalam UU PKDRT juga sudah diatur, karena definisi kekerasan seksual adalah pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut. Tidak disebutkan secara terperinci antara siapa-siapa saja yang melakukan kekerasan seksual, sehingga ketika istri memaksa suami bersetubuh di luar kehendak suami maka akan dikategorikan kekerasan seksual.

Kenapa wanita diciptakan dari tualng rusuk ?Karena tukang rusuk dekat dengan lengan yang artinya haruus dilindungi dan dekat dengan hati yang artinya harus di cintai.Apabila laki-laki menyakiti wanita sama artinya menyakiti diri sendiri. Semoga tulisan ini menjadi berkat untuk kita semua, amin.

 

( Oleh :  Elys Sudarwati, SH, YLPHS)


 


Share this :

Berita "Berita Lembaga" Lainnya