SERI KATEKESE LITURGI III: LITURGI YANG MELIBATKAN DAN MEMPERSATUKAN

Melibatkan dan dan mempersatukan semakin banyak orang dalam merayakan kasih Allah merupakan kunci meraih masa depan bersama sebagai Gereja. Inilah yang menjadi perhatian bulan katekese liturgi tahun ini. Gereja, melalui perayaan liturginya sejatinya selalu mengantisipasi masa depan bersama, yakni kesempurnaan hidup dalam Kerajaan Allah. Gereja mengantisipasi kedatangan Kerajaan Allah ini tiap kali merayakan Sakramen Perjamuan Kudus. Dipersatukan di sekitar meja Perjamuan Tuhan, sebagai materi sarasehan perlu digumuli dalam konteks ini. Termasuk juga perihal bagaimana menghidupkan praktik berliturgi. Liturgi yang hidup sangat tergantung pada umat sebagai pelaku utama liturgi. Karena itu, demi liturgi yang hidup ini, memahami unsur-unsur yang menopang dalam beribadah atau berbakti kepada Tuhan tidak bisa diabaikan.

Selain materi pendalaman iman, buku ini juga menyediakan tata ibadah atau tata perayaan misteri karya penyelamatan Allah pada hari Minggu selama bulan September. Berbagai variasi yang muncul dalam tata perayaan itu tidak terlepas dari proses kajian yang dilakukan anggota tim sekaligus mencerminkan keanekaragaman praktik berliturgi GKJ selama ini. Mudah- mudahan melalui kajian-kajian selanjutnya, GKJ akan sampai pada penemuan pola ibadah baku, yang sekaligus mengundang kesetiaan kreatif dalam penerapannya di Gereja-gereja lokal. Kesetiaan kreatif merupakan ruang yang mesti ada di tengah-tengah Gereja supaya liturgi menjadi praktik yang membebaskan sekaligus menggairahkan dalam kerangka merayakan kasih Allah sekonkrit-konkritnya.

Ketika kasih Allah ini dirayakan oleh Gereja, maka iman dan harapan akan masa depan pun nampak di depan mata. Di sinilah pentingnya liturgi yang melibatkan dan mempersatukan umat setempat yang tidak terpisah  dari persekutuan ekumenis, sehingga Gereja tidak kehilangan masa depan bersama. Liturgi demikian menjadi mungkin bila umat memahami hakikat dirinya sebagai kehidupan bersama religius yang dengan gembira merayakan kasih Allah di dalam Kristus di sepanjang segala zaman. Kasih Allah di dalam Kristus selalu memiliki sifat universal sekaligus unik. Bersifat universal karena melintasi segala tempat dan waktu, bersifat unik karena kasih Kristus tidak berada di ruang hampa, namun menyejarah dengan memasuki ruang dan waktu tertentu. Merenungkan segi ini dengan sendirinya akan menemukan keagungan liturgi Gereja yang bersifat trinitaris.

Salatiga, 28 Mei 2015

Komisi Liturgi Sinode GKJ XXVI

 

Halaman Depan_Liturgi yang Melibatkan dan Mempersatukan

Halaman isi_Liturgi yang Melibatkan dan mempersatukan

 


Share this :

Berita "Liturgi" Lainnya