HUT GKJ PURWOREJO KE 115: "GKJ BENTENG BUDAYA JAWA"

Dalam rangka HUT 115 th., GKJ Purworejo menggelar acara Seminar Sehari "Peran serta GKJ dalam rangka pelestarian dan Pengembangan Budaya jawa" yang diikuti peserta Utusan Gereja - gereja se Sinode GKJ (6/2). Tampil sebagai fasilitator adalah:  (1).Pdt. Andreas Untung Wiyono, D.Min. (2).Prof. Dr. Dr. Soetomo WE., M.Pd. (3).KRAT. Soetrimo Reksp Budoyo, SE., MM. Sedang Moderator adalah Padmono Sk., S.Th. - Anggota Lembaga Kajian Budaya Jawa (Lemkabuja) Sinode GKJ. Menurut Drs. Paeno RS., M.Pd. selaku Koordinator Sie Seminar, menegaskan bahwa tujuan Seminar sehari ini adalah memahami peran serta GKJ dalam pengembangan budaya jawa selama ini. Di sini lain juga merupakan refleksi dan tekad untuk langkah pengembangan budaya di lingkungan GKJ pada masa-masa mendatang yang lebih baik lagi. "Kami memang merindukan GKJ sebagai Benteng Budaya Jawa", ungkapnya kalem.

Pdt. Andreas UW, selaku Ketua Umum Bapelsin XXVI GKJ, mengakui bahwa sampai saat ini belum pernah ada upaya sengaja dan sistematik yang disiapkan oleh GKJ untuk tujuan pelestarian apalagi pengembangan budaya Jawa di lingkungan Sinode Gereja-gereja Kristen Jawa. "Memang tak dapat dipungkiri bahwa secara umum GKJ memiliki perhatian besar terhadap budaya sebagaimana nyata dalam praktek keseharian dalam kehidupan bergereja" Yang terjadi saat ini barulah berbentuk "partisipasi" belum dalam makna "pelestarian" apalagi "pengembangan" Ungkapnya. "apalagi hingga saat ini, kebudayaan dipandang sebagai sarana atau alat bantu saja. Seharusnya tidak hanya demikian. Oleh sebab itu, mari kita membuat desain budaya yang jelas di GKJ."

Senada dengan itu, Prof. Soetomo, yang adalah warga GKJ dan Pandemen Budaya Jawa memberikan kritikan bahwa selama ini memang GKJ belum serius memberi perhatian pada pelestarian dan pengembangan Budaya Jawa. "Perhatian pada kebudayaan Jawa masih dirasakan kurang, kalau tidak boleh disebut sebagai tidak ada", keluhnya. Bagaimanakah seharusnya GKJ bersikap? GKJ menurut Prof. Soetomo sudah saatnya menemukan dan menghayati "hakikat, fungsi dan strategi kebudayaan Jawa" yang memadai; secara underclare war .... seperti pendahulunya, yaitu: Kiai Tunggul Wulung dan juga Kiai Sadrach Suropranoto.

"Perlu saya tegaskan bahwa realitas Agama dan Budaya, adalah realitas yang kompleks dan misterius. Kesalahan pokok GKJ adalah menjauhkan Iman kristen dari Budaya Jawa. Satu lagi yang sangat saya sesalkan adalah banyak pendeta atau anggota majelis GKJ yang sengaja tidak menyukai budaya Jawa dengan berbagai macam tuduhan yang tidak mendasar." Tambahnya serius.

Sementara itu, Pembicara ke tiga; KRAT. Soetrimo justru menyoroti bahwa sejatinya ada relasi yang erat antara Injil dan Budaya. Konsep Tuhan dan Ketuhanan dalam Jawa antara lain terdapat dalam ungkapan Hong Wilaheng Sekaring Bawana Langgeng.

HONG adalah ungkapan awal - akhir , yaitu Ho dan Ngo. Yaitu Sang Maha Awal dan maha Akhir.... bukankah itu sesuai dengan konsep ALFA OMEGA dalam Alkitab (Wahyu 23:13)? . WILAHENG berasal dari kata Wilah dan Heng ... Wilah adah sesuatu yang dibutuhkan sebagai "tuntunan" dan "pegangan" dalam menjalani kehidupan. Kata Heng - sama dengan Hong yaitu Ho dan Ngo atau Sang Alfa dan Omega. Jadi Wilaheng berarti Sang Alfa Omega lah yang menjadi tuntunan kehidupan. SEKARING BAWANA LANGGENG berarti menunjuk bahwa yang mengharumkan dunia dalam kekekalan adalah Sang Alfa dan Omega itu.... atau Kang Miwiti lan kang Mungkasi , yaitu TUHAN. Jangan heran bahwa Orang jawa menyembah Tuhan dengan istilah Sembah Hyang (Ho yo Ngo - awal hingga akhir) yang kita sebut sebagai SEMBAHYANG.

"Maaf, jujur saja... saya bukan orang Kristen... maka saya tidak bisa bicara banyak tentang tema ini. Namun saya memang sangat berharap, agar Gereja-gereja Kristen Jawa berani menunjukkan keimanannya dalam budaya Jawa, tentu saja yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Kristen" tambahnya.

Seminar sehari GKJ dan BUDAYA JAWA se Sinode ini berlangsung menarik dan inspiratif. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka HUT GKJ Purworejo (4 Februari 1900 - 2015). Dalam kesempatan tsb. Lembaga Pengkajian Pelestarian dan Pengembangan Budaya Jawa (LP3BJ) Jawa Timur menganugerahkan gelar KYAI kepada Pdt. Lukas Eko Sukoco, M.Th., Penghargaan ini merupakan penghargaan dari komitmen ybs., dalam pelestarian Budaya Jawa. Kyai bukan berasal dari khasanah budaya timur Tengah ataupun islam. Kyai berasal dari khasanah Budaya Jawa yang berarti : "Memiliki milik agama tertentu. Kyai itu berasal dari konteks budaya Jawa, yang berarti Kadunungan Kaluwihan katimbang sapadha padhane....

"Berdasar itu LP3BJ dan Ormas Raket Prasaja Jawa Timur, sesudah mencermati berbagai perilaku dan kegiatan Pdt. Lukas Eko Sukoco secara langsung maupun tidak langsung, memberikan penghargaan dengan penganugerahan gelar Kyai Pdt. Lukas Eko Sukoco Rekso Budoyo MTh," jelas Ketua Umum LP3BJ dan Ormas Raket Prasaja KRAT Sutrimo RB SE MM., disambut tepuk tangan meriah dari segenap peserta seminar.

Dalam Seminar kali ini juga diselingi tampilan kesenian khas Purworejo "Ndolalak" serta Kesenian Kentrung, sumbangan dari Kelurahan Boro. Anggota Kentrung itu hampir semua tidak beragama Kristen. Kegiatan HUT 115 th GKJ Purworejo lainnya adalah Kenduren Syukur bersama masyarakat, Bersih Sungai Kedung Putri bersama Pecinta Alam Purworejo, Senam Sehat 115, Peresmian Padepokan Mitra Kinasih, Festival Mars GKJ, Lomba Ngidung Remaja, dll.

Sumber:

Humas Panitia HUT 115 th GKJ Purworejo/Yotok


Gambar Terkait :

Share this :

Berita "Berita Gereja" Lainnya