UNIK MENARIK: KHOTBAH NATAL MELALUI WAYANG ORANG

Lakon: "Wahyu Manunggaling  Kawula  Gusti"

ADA YANG UNIK  DAN MENARIK dalam kebaktian Malam Natal di GKJ Purworejo (24/12). Kebaktian digelar dengan Iringan Orkes Campur sari dan Karawitan oleh Remaja SLTP GKJ Purworejo, dan khotbah yang disampaikan dalam pagelaran seni Wayang Orang dengan lakon "Wahyu: Manunggaling Kawula Gusti" yang dimainkan oleh Tim Liturgi Kreatif GKJ Purworejo. Ide cerita oleh Pdt. Lukas Eko Sukoco, MTh., Garapan Musik oleh: Ki Singgih Winarso; dengan Dalang oleh Ki Harsono, S.Kar. dengan Sinden: Nyi Erni.

NATAL &  REVOLUSI MENTAL

Ide cerita dilandasi oleh pesan natal bahwa yang utama dari sebuah perayaan natal adalah hakikatnya, bukan pernak-pernik asesorisnya.  Inti Natal adalah Solidaritas Allah kepada manusia agar umat manusia memahami jalan kebenaran dan melihat keteladanan Yesus Kristus yang penuh kesederhanaan, cinta kasih kepada sesama serta mengajak manusia untuk kembali ke jalan Tuhan dan diselamatkan.

"Jadi, natal adalah revolusi mental agar manusia kembali memiliki harkat martabat kemanusiaannya, dengan cara meneladan karya pelayanan Yesus," ungkap Pdt. Lukas Eko Sukoco.

Adegan diawali dengan, kegelisahan Sang Dewi Kunthi. Ia sedang galau memikirkan keberadaan Pandawa yang selalu dimusuhi oleh Korawa. Mereka selalu memfitnah, dan merancang aneka kejahatan dengan penuh kebencian. Keadaan menjadi semakin membahayakan manakala Ibu Kunthi memperoleh informasi dari telik sandhi bahwa Korawa telah memperoleh tambahan kekuatan melalui kehadiran raksasa kembar Kalanjaya dan Kalantaka. Kedua raksasa sakti ini terkenal sangat kejam. Keadaan inilah yang menggelisahkan Sang dewi. Ia berdoa tiada henti. Kebingungannya semakin bertambah manakala ada wangsit bahwa pandawa pastti akan selamat-sejahtera bila menerima wejangan Wahyu Manunggaling Kawula Gusti.

Ki Lurah Semar, sekilas membeberkan bahwa inti Wahyu manunggaling kawula Gusti Kesatuan Manusia dengan Tuhannya, bukan secara fisik-lahiriah; melainkan secara teologis imani. Manusia yang sampai pada tataran ini, dia akan memaknai agamanya tak berhenti pada tataran Syariat dan Tarekat. Namun terus ke arah Hakikat dan Makrifat. Dengan demikian, manusia yang  sampai pada tataran mampu menghayati manunggaling kawula Gusti, pasti memiliki iman yang nyata dan hidupnya selalu dalam perlindungan Allah.

Pandawa segera menuju ke Wukir Rah tawu, untuk menerima wejangan selengkapnya dari Eyang Maha Resi Abyasa. Dewi Kunthi bersyukur dan merestui pandawa untuk menerima ajaran Manunggaling Kawula Gusti ke Wukir Rah Tawu.

Sayang sekali, Perjalan menuju ke padepokan Maha Resi Abyasa penuh dengan cobaan dan rintangan. Adalah sosok Arjuna bersama Punakawan yang dihadang oleh para Raksasa sakti. Mereka tak mudah ditundukkan. Namun dengan iman dan keyakinan akan penyertaan Allah akhirnya segala rintangan bisa disingkirkan. Peperangan Arjuna melawan para raksasa membuat suasana tegang bagi jemaat.... namun situasi segera berubah menjadi kocak,  manakala Gareng,   Petruk dan Bagong ikut terjun melawan raksasa dengan gaya konyol dan lucu.

Tak terduga kemudian segera datang Dewi Kunthi dan Semar yang menyusul lalu bersama-sama menuju Padepokan Wukir Rah Tawu.  Dalam perjalanan itulah, Kiai Semar kembali mengingatkan bahwa memahami ilmu, apalagi agama, tak boleh berhenti pada kulit luar, harus bebles hingga makna terdalam. 

"Lihatlah, mereka yang merayakan Natal ini, mereka menghayati Natal tak sekedar tradisi dengan segala pernak-perniknya. Orang-orang Kristen sadar bahwa keselamatan hanya bisa didapat dalam jalan pertobatan di dalam Yesus Kristus. Mereka pun mengalami "manunggaling kawula Gusti" karena di dalam hati orang percaya ada Roh Kudus yang selalu menyertai mereka" ungkap Kiai Semar, yang diperankan oleh Pdt. Lukas E. Sukoco.

NATAL &  SOLIDARITAS SOSIAL

Natal 2014  ini sengaja dilakukan tanpa perayaan, kecuali kebaktian di Gereja. Perayaan-perayaan Natal berdasarkan tema Nasional "BERTEMU TUHAN, DALAM KELUARGA" justru dilakukan dengan kegiatan-kegiatan internal keluarga, serta berbagai kegiatan sosial yang dilandasi oleh sukacita Natal, seperti: Aksi Sosial untuk Tukang becak, Bantuan untuk Korban Bencana Alam, Kunjungan kasih ke Penjara dan Panti Jompo, Kunjungan kasih ke RS Panti Waluyo, Pengobatan Gratis di Pep Kenteng, serta aneka kegiatan di kelompok.

Sementara itu, Sukengtyasno, S.Pd. selaku Ketua panitia Natal dan Tahun Baru GKJ Purworejo menegaskan bahwa Natal dan Tahun Baru kali ini memang dilakukan lebih sederhana lagi, tanpa perayaan dan pesta. "Kami belajar untuk menghayati hakikat Natal yang terdalam, sehingga tidak jatuh pada hiruk pikuk dan pesta-pesta Natal yang tak jarang justru membuat kita jauh dari hakikat natal itu sendiri", tambahnya.

Di sela-sela Natal, komunitas GKJ Purworejo juga serentak  secara khusus menggelar DOA UNTUK BANGSA. Doa untuk Indonesia agar diberi kekuatan dan ketabahan di tengah aneka kesulitan dan bencana. Juga mendoakan pemerintah agar diberi kemampuan dan keberanian untuk melakukan tugas pelayanan demi kemajuan bangsa dan negara.  Doa dipimpin oleh Pdt. Lintang Anggraeni, S.Si.  dengan penuh khidmat.

Sumber:

Panitia MPANT 2014/Yotok.


Gambar Terkait :

Share this :

Berita "Berita Gereja" Lainnya