Tata Gereja Tata Laksana

Tata Gereja   Tata Laksana

M U K A D I M A H

Gereja adalah suatu kehidupan bersama religius yang berpusat pada penyelamatan Allah dalam Tuhan Yesus Kristus. Kehidupan bersama itu dibentuk oleh orang-orang yang atas pertolongan Roh Kudus menerima dengan percaya terhadap penyelamatan Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pengertian demikian menunjukkan bahwa Gereja memiliki segi ilahi dan segi manusiawi. Segi ilahi Gereja adalah sebagai buah penyelamatan Allah, maka Pemilik dan Penguasa Gereja adalah Allah. Segi manusiawi Gereja adalah sebagai kehidupan bersama religius, yang oleh pertolongan Roh Kudus  diciptakan dan diselenggarakan secara lembagawi oleh manusia.

Sebagai suatu kehidupan bersama religius yang lembagawi, Gereja Kristen Jawa (GKJ) membutuhkan kepemimpinan. Kekhasan kepemimpinan GKJ didasarkan pada segi ilahi dan segi manusiawi Gereja. Dari segi ilahi Gereja, GKJ adalah buah penyelamatan Allah, yang hidupnya dipimpin oleh Allah melalui bekerjanya Roh Kudus dengan Alkitab sebagai alat-Nya. Dari segi manusiawi, GKJ adalah suatu kehidupan bersama religius yang dipimpin oleh manusia yang atas kehendak Allah dalam kebijaksanaan-Nya dipanggil secara khusus untuk melaksanakan tugas kepemimpinan. Oleh karena itu, apa yang diputuskan dan atau yang dilakukan oleh manusia dalam memimpin Gereja, harus dapat dipertanggungjawabkan kepada Allah.

Untuk menentukan bahwa suatu keputusan dan atau tindakan manusia dalam memimpin GKJ dapat dipertanggungjawabkan kepada Allah, dipakai tiga tolok ukur yang berjenjang. Tolok ukur tertinggi adalah Alkitab yang secara mutlak menentukan kebenaran tolok ukur yang lain. Di bawah Alkitab adalah Pokok-pokok Ajaran GKJ yang dibuat berdasarkan Alkitab untuk menjadi pegangan bagi GKJ di dalam kehidupan dan pelaksanaan tugasnya. Yang terakhir adalah Tata Gereja dan Tata Laksana GKJ yang dibuat berdasarkan Alkitab sesuai dengan yang dirumuskan di dalam Pokok-pokok Ajaran Gereja GKJ.

Menyadari pentingnya Tata Gereja dan Tata Laksana GKJ sebagai salah satu tolok ukur untuk menentukan bahwa suatu keputusan dan atau  tindakan manusia dalam memimpin Gereja dapat dipertanggungjawabkan kepada Allah, maka disusunlah Tata Gereja dan Tata Laksana GKJ yaitu peraturan untuk menata kehidupan GKJ yang meliputi Pengorganisasian, Tugas Panggilan, dan Hubungan Kerja-sama yang seharusnya dilakukan oleh GKJ.

Adapun sistem yang dipakai untuk mengatur kehidupan Gereja  adalah sistem Presbiterial yang memiliki dua ciri pokok yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain yaitu:

1.      Setiap GKJ adalah Gereja Allah yang mandiri yaitu Gereja yang memiliki kewenangan dan mampu mengatur diri sendiri, mengembangkan diri sendiri, dan membiayai diri sendiri yang dipimpin oleh Majelis Gereja yang terdiri atas Penatua  (Presbyteros), Pendeta dan Diaken.

2.      Setiap GKJ wajib berjalan bersama (syn-hodos = sinode) dan mengikatkan diri dengan Gereja-gereja Kristen Jawa lain yang diwujudkan dalam:

1)      Persidangan baik Persidangan Klasis maupun Persidangan Sinode untuk membicarakan persoalan-persoalan yang menjadi kebutuhan bersama atau membantu menyelesaikan persoalan setiap  GKJ atau setiap Klasis yang tidak dapat mengatasinya sendiri.

2)      Visitasi yaitu perkunjungan gerejawi baik oleh Visitator Klasis maupun Visitator Sinode untuk saling mengingatkan dan menguatkan agar gereja, klasis, dan sinode senantiasa melaksanakan tanggung jawabnya, baik dalam pemberitaan penyelamatan Allah, pemeliharaan keselamatan, penataan organisasi, maupun keuangan dan harta bendanya.

Dalam mewujudkan kemandiriannya setiap GKJ wajib mengembangkan  kebersamaan dengan GKJ lain baik secara klasikal maupun sinodal. Sebaliknya, dalam  kebersamaan  klasikal dan sinodal wajib mengembangkan kemandirian setiap GKJ.

TATA GEREJA GEREJA KRISTEN JAWA

BAB I KETENTUAN UMUM - Pasal 1 PENJELASAN ISTILAH

BAB II PENGORGANISASIAN - Bagian Pertama: GEREJA - Pasal 2 GEREJA KRISTEN JAWA - Pasal 3 STATUS, NAMA, DAN KEDUDUKAN HUKUM - Pasal 4 BENTUK ORGANISASI GEREJA - Pasal 5 PENDEWASAAN GEREJA - Pasal 6 WARGA GEREJA - Pasal 7 KEPEMIMPINAN GEREJA - Pasal 8 ALAT-ALAT KELENGKAPAN GEREJA - Pasal 9 SIDANG MAJELIS GEREJA - Pasal 10 NAIK BANDING - Pasal 11 BADAN-BADAN PEMBANTU MAJELIS GEREJA - Pasal 12 ADMINISTRASI GEREJA - Pasal 13 KEKAYAAN GEREJA - Pasal 14 PERUBAHAN STATUS GEREJA - Bagian Kedua: KLASIS - Pasal 15 KLASIS GEREJA-GEREJA KRISTEN JAWA - Pasal 16 BERDIRINYA KLASIS - Pasal 17 NAMA DAN KEDUDUKAN KLASIS - Pasal 18 SIDANG  KLASIS - Pasal 19 VISITASI KLASIS - Pasal 20 ALAT-ALAT KELENGKAPAN KLASIS - Pasal 21 BADAN PELAKSANA KLASIS - Pasal 22 BADAN PENGAWAS KLASIS - Pasal 23 ADMINISTRASI KLASIS - Pasal 24 KEKAYAAN KLASIS - Bagian Ketiga: SINODE - Pasal 25 SINODE GEREJA-GEREJA KRISTEN JAWA - Pasal 26 TEMPAT KEDUDUKAN SINODE - Pasal 27 SIDANG  SINODE - Pasal 28 VISITASI SINODE - Pasal 29 ALAT-ALAT KELENGKAPAN SINODE - Pasal 30 BADAN PELAKSANA SINODE - Pasal 31 BADAN PENGAWAS SINODE - Pasal 32 ADMINISTRASI SINODE - Pasal 33 KEKAYAAN SINODE

BAB III TUGAS PANGGILAN GEREJA - Bagian Pertama: PEMBERITAAN PENYELAMATAN ALLAH - Pasal 34 HAKIKAT  PEMBERITAAN PENYELAMATAN ALLAH - Pasal 35 TUJUAN PEMBERITAAN PENYELAMATAN ALLAH - Pasal 36 BENTUK-BENTUK PEMBERITAAN PENYELAMATAN ALLAH - Pasal 37 PENANGGUNG JAWAB PEMBERITAAN PENYELAMATAN ALLAH - Bagian Kedua: PEMELIHARAAN KESELAMATAN - Pasal 38 TUGAS PEMELIHARAAN KESELAMATAN - Pasal 39 HAKIKAT  PEMELIHARAAN  KESELAMATAN - Pasal 40 TUJUAN PEMELIHARAAN KESELAMATAN - Pasal 41 BENTUK-BENTUK PELAYANAN PEMELIHARAAN KESELAMATAN

BAB IV HUBUNGAN DAN KERJASAMA - Pasal 42 HUBUNGAN DAN KERJASAMA

BAB V VPENUTUP - Pasal 43 TATA LAKSANA - Pasal 44 PERUBAHAN TATA GEREJA - Pasal 45 PEMBERLAKUAN TATA GEREJA 

TATA LAKSANA GEREJA-GEREJA KRISTEN JAWA

BAB I PENGORGANISASIAN - Bagian Pertama: GEREJA - Pasal 1 LOGO, MARS, DAN HYMNE - Pasal 2 STATUS, NAMA, DAN KEDUDUKAN HUKUM - Pasal 3 PENDEWASAAN GEREJA - Pasal 4 WARGA GEREJA - Pasal 5 MAJELIS GEREJA - Pasal 6 PENATUA DAN DIAKEN - Pasal 7 PENDETA - Pasal 8 PEMANGGILAN PENDETA YANG BELUM BERJABATAN PENDETA - Pasal 9 PEMANGGILAN PENDETA TERHADAP PENDETA GKJ LAIN - Pasal 10 PEMANGGILAN PENDETA TERHADAP PENDETA GEREJA LAIN - Pasal 11 PENDETA KONSULEN - Pasal 12 PENDETA PELAYANAN KHUSUS - Pasal 13 FASILITAS PELAYANAN PENDETA - Pasal 14 EMERITASI PENDETA - Pasal 15 PENANGGALAN JABATAN PENDETA - Pasal 16 SIDANG MAJELIS GEREJA - Pasal 17 SIDANG MAJELIS GEREJA TERBUKA - Pasal 18 BADAN-BADAN PEMBANTU MAJELIS GEREJA - Pasal 19 ADMINISTRASI GEREJA - Pasal 20 KEKAYAAN GEREJA - Pasal 21 PERUBAHAN STATUS GEREJA - Bagian Kedua: KLASIS - Pasal 22 BERDIRINYA KLASIS - Pasal 23 SIDANG KLASIS - Pasal 24 VISITASI KLASIS - Pasal 25 BADAN PELAKSANA KLASIS (BAPELKLAS) - Pasal 26 BADAN PENGAWAS KLASIS (BAWASKLAS) - Pasal 27 ADMINISTRASI KLASIS - Pasal 28 KEKAYAAN KLASIS - Bagian Ketiga: SINODE - Pasal 29 SIDANG SINODE - Pasal 30 NAIK BANDING - Pasal 31 VISITASI SINODE - Pasal 32 BADAN PELAKSANA SINODE (BAPELSIN) - Pasal 33 BADAN PENGAWAS SINODE (BAWASIN) - Pasal 34 ADMINISTRASI SINODE - Pasal 35 KEKAYAAN SINODE

BAB II TUGAS PANGGILAN GEREJA - Bagian Pertama: PEMBERITAAN PENYELAMATAN ALLAH - Pasal 36 PELAKSANA PEMBERITAAN PENYELAMATAN ALLAH - Pasal 37 WUJUD TANGGUNG JAWAB GEREJA DAN YAYASAN DALAM PEMBERITAAN PENYELAMATAN ALLAH - Pasal 38 PELAKSANAAN PEMBERITAAN PENYELAMATAN ALLAH - Pasal 39 PELAKSANAAN BENTUK-BENTUK PEMBERITAAN PENYELAMATAN ALLAH - Pasal 40 SIKAP TERHADAP BUDAYA ATAU ADAT ISTIADAT DALAM PEMBERITAAN PENYELAMATAN ALLAH - Bagian Kedua: PEMELIHARAAN KESELAMATAN - Pasal 41 KEBAKTIAN - Pasal 42 SAKRAMEN - Pasal 43 SAKRAMEN BAPTIS - Pasal 44 SAKRAMEN BAPTIS DEWASA - Pasal 45 SAKRAMEN BAPTIS ANAK - Pasal 46 SAKRAMEN PERJAMUAN - Pasal 47 PENGAKUAN PERCAYA (SIDI) - Pasal 48 KATEKISASI - Pasal 49 PENEGUHAN PERNIKAHAN DAN PEMBERKATAN PERKAWINAN GEREJAWI - Pasal 50 PERCERAIAN - Pasal 51 PERNIKAHAN JANDA/DUDA CERAI - Pasal 52 PERKUNJUNGAN - Pasal 53 PEMBINAAN WARGA GEREJA (PWG) - Pasal 54 PELAYANAN SOSIAL EKONOMI - Pasal 55 PAMERDI - Pasal 56 PELAYANAN PENERIMAAN PERTOBATAN

BAB III HUBUNGAN DAN KERJASAMA - Pasal 57 HUBUNGAN DAN KERJASAMA GKJ DENGAN  GEREJA LAIN - Pasal 58 HUBUNGAN DAN KERJASAMA GKJ DENGAN LEMBAGA KRISTEN - Pasal 59 HUBUNGAN DAN KERJASAMA GKJ DENGAN  LEMBAGA KEMASYARAKATAN - Pasal 60 HUBUNGAN DAN KERJASAMA GKJ DENGAN  AGAMA LAIN - Pasal 61 HUBUNGAN DAN KERJASAMA GKJ DENGAN PEMERINTAH

BAB IV PENUTUP - Pasal 61 KETENTUAN PENUTUP

LAMPIRAN TATA GEREJA

Lampiran 1 Gambar dan makna Logo GKJ  - Lampiran 2 Mars GKJ - Lampiran 3 Hymne GKJ - Lampiran 4 Keputusan Menteri Agama No. 19 Tahun 1966 - Lampiran 5 Staatblad Van Ned. Indie 1927 No. 156 dan 157