Bahan Pekan Keluarga 2011 - Bahan Dasar

Pengantar

Keluarga bertumbuh jika di dalamnya cinta kasih hidup. Pernyataan itu tidak asing dalam pendengaran kita. Persoalannya adalah bagaimana menumbuhkan cinta kasih agar keluarga bertumbuh. Berbagai problematika dalam keluarga sering menjadi penghambat kehidupan cinta kasih. Kasih mula-mula (young love) yang pada awalnya menjadi jalan masuk ke dalam hidup berkeluarga,  kehilangan dayanya saat keluarga memasuki kehidupan sehari-hari dengan berbagai rutinitasnya.  Oleh karena itu, merayakan hidup berkeluarga adalah hal yang diperlukan agar kasih mula-mula kembali menjadi daya bagi terbentuknya keluarga yang bahagia. Salah satu cara merayakan hidup bersama sebagai keluarga telah dilakukan oleh gereja-gereja di lingkungan GKJ-GKI SW Jateng dengan menyelenggarakan Bulan Keluarga. Dengan berbagai kegiatan di bulan keluarga ini diharapkan keluarga-keluarga Kristen mampu tumbuh dalam cinta kasih. Dalam kasih itulah identitasnya sebagai keluarga terisi dengan nilai-nilai kekristenan yang berlajut pada panggilannya sebagai keluarga yang diberkati untuk menjadi berkat. 

Bahan Bulan Keluarga ini adalah hasil dari karya para penulis yang terdiri dari para pendeta dan calon pendeta di lingkungan GKJ Klasis Wonogiri, Boyolali dan GKI Klasis Solo serta para Pelaksana Pembinaan dan Pengaderan LPPS GKJ-GKI SW Jateng  setelah menggumulkan berbagai problematika hidup rumah tangga pada tanggal 4 April 2010 di GKJ Wonogiri Utara. Dalam diskusi penyusunan buku ini, para penyusun menemukan betapa peliknya problematika rumah tangga yang bisa menjadi penghambat jalannya bahtera rumah tangga. Kenyataan-kenyataan dalam hidup rumah tangga membuat lelah, sehingga sering terdengar orang berkata: "Pusing nich mikirin keluarga". Pusing memikirkan keluarga bisa jadi karena memikirkan keluarga dengan serius dan membuat orang menjadi pusing.  Itu masih bagus dibandingkan dengan atau tidak mau berpikir sama sekali buat keluarga karena merasa pesimis, tidak memiliki harapan lagi dalam keluarga. Syukurlah jika bisa pusing "mikirin"  keluarga, sebab dengan memikirkan keluarga sebenarnya masih memiliki keinginan untuk tetap berada di dalam keluarga, membuat keluarga tetap ada atau eksis. Dengan meminjam istilah yang diucapkan Descartes yang berkata: Cogito Ergo Sum yang artinya:"Saya Berpikir, maka Saya Ada" kita diarahkan untuk terus merefleksikan kehidupan keluarga. Seperti apa keluarga Kristen itu dan  seperti apa nilai-nilai yang menghidupinya? 

Identitas diri sebagai keluarga tidak dapat dilepaskan dari hidup keluarga. Identitas menunjukkan jati diri. Dengan jati diri itu keluarga memiliki keyakinan untuk mempertahankan keberadaannya di tengah perjalanan hidup mengarungi "samudra luas" kehidupan. Beranjak dari pemikiran-pemikiran ini, kami memutuskan untuk memakai tema" Menghidupi Identitas Keluarga"untuk menghayati kembali kehidupan keluarga di Bulan Keluarga 2011.

Identitas Keluarga Kristen

Seturut rencana Allah, keluarga telah ditetapkan sebagai ‘persekutuan mesra  kehidupan dan cintakasih', maka keluarga mengemban misi untuk makin mencapai jatidirinya; yakni: suatu persekutuan kehidupan dan cintakasih, melalui usaha - seperti segala sesuatu yang diciptakan dan ditebus - akan mencapai pemenuhannya dalam Kerajaan Allah. Sambil merefleksikan itu hingga pada urat-akarnya, kita harus mengatakan, bahwa hakekat dan peranan keluarga pada intinya dikonkretkan oleh cinta kasih (http://santomikael.com/). Sebagai persekutuan kehidupan yang diikat oleh cinta kasih, maka identitas yang melekat dalam dirinya adalah identitas Trinitarian:  Bapa, Putra dan Roh Kudus. Ide keluarga Trinitarian (Bapa, Putra dan Roh Kudus) dimaksud untuk mengajak keluarga bertumbuh dalam citra Keluarga Ilahi. Artinya: sifat-sifat, pembawaan yang mendasar dalam keluarga Kristen hendaknya selaras dengan sifat Ilahi (Maurince Eminyan, SJ, 2001). Keselarasan dengan sifat Ilahi terjadi karena selain secara pribadi manusia diciptakan Tuhan seturut dan serupa dengan gambar-Nya, demikian juga dengan penciptaan keluarga. Keluarga diciptakan oleh Tuhan sebagai lembaga yang dipanggil serupa dengan Allah (Kejadian 1:27-28).

Identitas Keluarga Kristen bersumber dari penghayatannya akan Allah Tritunggal. Dari dasar trinitarian dalam keluarga ini, kita menemukan cinta kasih yang hidup dalam keluarga. Dari  Bapa, cinta kasih kreatif dipelajari dengan melihat anak-anak sebagai anugerah Allah; orang mempunyai jalan menuju Bapa pada saat-saat yang sulit dan dari Bapalah orang belajar bagaimana mengingini keluarganya. Dari Putera, pasangan suami-istri belajar akan nilai (makna) persatuan mereka yang intim dan mendalam. Dalam Kristus Sang Pengudus, mereka menemukan buah hasil perkawinan. Dalam Putra, cinta kasih manusiawi  direfleksikan, diubah, dikuduskan dan diperkaya. Dalam Roh Kudus keluarga menemukan rahasia yang mempersatukan keluarga dengan cinta kasih yang menyala-nyala dalam hati mereka, menyingkapkan rencana Allah, mengajar berdoa dan membawa dalam doa. Roh Kudus dalah sumber sukacita dan kebahagiaan, memberikan kekuatan dan kebebasan serta  memampukan keluarga terlibat dalam pelayanan (Maurince Eminyan, SJ, 2001). Roh Kudus juga memberikan spirit untuk keluarga hidup dalam pengampunan, penerimaan, kerendahan hati, kesetiaan , percaya dan ucapan syukur.  Itulah nilai-nilai dalam keluarga Kristen, keluarga yang didasari pada gagasan Allah Tritunggal.

Kaburnya Identitas Keluarga

                Ndang balia Sri.. ndang balia... nyanyian campursari yang pernah populer ini menceritakan seorang istri minggat dari rumah karena persoalan dengan suaminya. Karena persoalan itu, Sri (nama seorang istri) minggat. Janji sehidup semati tinggal janji, tidak ditepati. Semua pihak (suami-istri) terluka dan saling melukai dalam persoalan yang terjadi dalam keluarga. Nyanyian Sri Kapan Kowe Bali memang hanya nyanyian, tetapi nyanyian sering menjadi penunjuk realitas  sosial. Keluarga Kristen juga tidak kalis dari situasi seperti dalam nyanyian Sri itu. Purik, minggat, menghindar dari masalah dengan cara meninggalkan keluarga sering dipilih menjadi "solusi" oleh beberapa orang dalam keluarga. Saat purik dan minggat menjadi pilihan, konflik tidak akan terselesaikan. Sebaliknya konflik menjadi makin parah.

Di dalam keluarga, terdapat banyak pemicu konflik seperti masalah ekonomi, perselingkuhan (PIL, WIL), kesalah pahaman (komunikasi), spiritualitas, perbedaan agama dan sebagainya. Dalam konflik keluarga, semua pihak yang terlibat memiliki andil melukai dan dilukai, yang pasti semua terluka. Luka-luka yang tidak tersembuhkan berdampak buruk pada saat ini atau masa yang akan datang. Tidak jarang dari berbagai konflik dan saling melukai itu terjadi perceraian. Data dari sebuah kabupaten di Jawa Tengah menunjukkan bahwa penyebab tertinggi perceraian adalah masalah ekonomi dan perselingkuhan. Masalah ekonomi terbesar pada tata kelola ekonomi rumah tangga. Tata kelola ekonomi keluarga terkait dengan gaya hidup. Dan saat ini, gaya hidup yang dihidupi oleh banyak keluarga adalah gaya hidup konsumtif di mana kebutuhan sering dikalahkan oleh keinginan. Munculnya perselingkuhan juga tidak lepas dari gaya hidup keluarga saat ini. kecenderungan mengabaikan prinsip-prinsip keluarga yang setia terjadi karena maraknya tawaran-tawaran yang menggiurkan, sekalipun harus mengorbankan cinta kasih dan kesetiaan bagi keluarga. Faktor lain munculnya perselingkuhan adalah komunikasi yang saat ini terbuka bagi semua orang. Akses internet dan jejaring sosial dimanfaatkan oleh orang secara negatif. Sebuah release dari salah satu penyedia layanan komunikasi menyebutkan peningkatan perceraian akibat jejaring sosial meningkat pada tahun-tahun belakangan ini. Korban penyalah gunaan jejaring sosial bukan hanya bagi suami-istri yang memanfaatkan jejaring sosial itu secara salah. Beberapa pemuda-pemudi menjadi korban penyalahgunaan jejaring ini. Seorang pemudi di sebuah jemaat hamil setelah di perkosa seorang pria yang dikenalnya via facebook.              

Kisah-kisah yang berisi persoalan keluarga sangat banyak. Karena berbagai persoalan itu tidak sedikit keluarga kehilangan orientasi awal pembangunan keluarga. Jati diri sebagai keluarga yang  serupa-segambar dengan Allah menjadi kabur, bahkan jauh, tidak menampakkan sama sekali keluarga yang serupa  dengan Tri-tunggal Maha Kudus, Bapa, Putra dan Roh Kudus.

Menghidupi Identitas Keluarga

                Keluarga yang  berhasil bukan keluarga yang tidak memiliki persoalan di dalam rumah tangga. Keberhasilan keluarga terwujud jika keluarga mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Menyelesaikan masalah berarti bersedia memasuki masalah yang dialami dengan kejujuran, kesetiaan, kerendahan hati,  mendengarkan dan berkomitmen untuk memperbaharui kehidupan keluarga dalam cinta kasih. Dalam hal ini, gereja diajak untuk menjadikan keluarga sebagai sebuah komunitas keselamatan.  Komunitas keselamatan berarti Kristus hadir di dalam kehidupan keluarga dan melanjutkan misi penyelamatannya, keluarga sebagai gereja rumah tangga sebab di dalam rumah tangga orang tua menjadi pewarta iman kepada anak-anaknya melalui perkataan dan perbuatan/keteladanan. Dalam hal ini juga, keluarga menjadi pewarta injil kerajaan Allah, sebagai pemberitaan karya dan kabar baik bagi sekitarnya melalui praktek kehidupan keluarga. Secara praktis suami adalah segalanya bagi istri dan istri adalah segalanya bagi suami. Saling berbagi dalam suka maupun duka, menghargai satu sama lain, adalah beberapa upaya untuk membentuk satu keluarga kristiani yang diberkati Tuhan.

Dalam rangka inilah, penghayatan hidup berkeluarga tahun 2011 ini menjadi "retreat" atau refleksi bersama keluarga-keluarga di lingkungan GKJ-GKI SW Jawa Tengah agar keluarga selalu menyegarkan keberadaannya di tengah masyarakat dengan identitas (jati diri) yang jelas.Kejelasan jati diri keluarga adalah bila cinta kasih Kristus hidup di dalam keluarga serta hidup mencerminkan cinta kasih itu bagi kemuliaan Allah dan sesama.  Salah satu tugas gereja adalah mendampingi keluarga agar sadar akan identitasnya sebagai paguyuban cinta kasih yang dipersatukan melalui ikatan yang dikuduskan Tuhan. Karena itu jika LPP Sinode GKJ-GKI SW Jateng menyajikan tema:"Menghidupi Identitas Keluarga" ini, maka melalui bahan ini pula kami berharap keluarga-keluarga di lingkungan GKJ-GKI Jateng dapat bertumbuh bersama dalam kasih Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus, sumber berkat bagi keluarga. Agar bahan-bahan ini dapat dipakai secara maksimal, kiranya pengguna bahan ini dapat mengadaptasikannya sesuai konteks jemaat. Akhirnya kami mengucapkan selamat merayakan bulan keluarga 2011. 


Share this :

Berita "Bahan Pembinaan Rutin" Lainnya