Eksistensi Parade Gending Liturgi 2018

Eksistensi Parade Gending Liturgi 2018

Parade Gending Liturgi kembali digelar pada Selasa 11/9/2018 di Balai Desa Canden Bantul Yogyakarta mulai pukul 10.00 – sampai selesai. Tahun ini lebih menitikberatkan pada gending liturgi setelah even sebelumnya selang seling menggunakan nama Parade Gending Rohani. Parade kali ini lebih spesifik pada aransemen gamelan lagu-lagu liturgi yang biasanya digunakan untuk ibadah.

Seperti sambutan dari Pdt Korvinus Wahyu N, STh. MPd.K selaku Bapelklas Klasis Bidang Kespel “Kegiatan ini juga merupakan tindaklanjut dari Sidang Klasis XXXIII di GKJ Bambu Tegalrejo yang memang menunjuk GKJ Canden tahun ini sebagai tuan rumah.”

Parade ini diikuti oleh seluruh Gereja Kristen Jawa (GKJ) Klasis Yogyakarta Selatan antara lain : GKJ Brayat Kinasih, GKJ Kotagede, GKJ Mergangsan, GKJ Gondokusuman, GKJ Madukismo, GKJ Canden, GKJ Bantul, GKJ Sumberagung, GKJ Patalan, GKJ Sidomulyo, GKJ Bambu Tegalrejo, GKJ Suryodiningratan, GKJ Wonocatur, GKJ Gunturgeni dan GKJ Pundong. Parade kali ini mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah Tingkat II Bantul, Dinas Kebudayaan Propinsi DIY, Bapelkas Bidang Kespel dan Kokoma, Jemaat GKJ Klasis Selatan, dan GKJ Canden sebagai tuan rumah.

Dalam pembukaan Parade Gending Liturgi dibuka oleh Bupati Bantul Drs. Suharsono. Pembukaan secara simbolis ditandai dengan menabuh kendang sebagai salah satu instrumen gamelan Jawa. Spontan disambut dengan kemeriahan tepuk tangan oleh para jemaat seluruh GKJ yang akan tampil siang itu. Drs. Suharsono sangat mengapresiasi Parade Gending Liturgi GKJ Klasis Selatan Yogyakarta  tahun ini yang senantiasa masih menghidupan tradisi dan kebudayaan. Pak Suharsono berpesan agar dalam situasi seperti sekarang ini jangan pernah khawatir ketika hendak beribadah. “Aspek spiritual cukup penting dalam membangun mentalitas masyarakat supaya kita siap menghadapi tantangan ke depan,” katanya.

“Kita tentunya terus berharap gereja mantap ketika melihat arah kebudayaan dan perkembangan zaman, sehingga gamelan di setiap gereja kristen Jawa bisa berkembang  bahkan bisa diterima oleh generasi muda,” paparnya.

Ditambahkan oleh Yulius, MPd selaku Ketua Panitia Parade Gending Liturgi, setiap gereja hendaknya bisa memberikan warna lain dari aransemen yang dibawakan sehingga nyanyian liturgi bisa digarap dengan berbagai garapan yang bervariasi. Parade Gending Liturgi tahun ini mengambil tema “Yo Nggrejani, Yo Njawani”. Diharapkan selain menampilkan gending-gending liturgi peserta juga turut melesatrikan kebudayaan Jawa melalui busana yang dikenakan setiap penampil.

Secara khusus saya mewancari Drs. Gandung Djatmiko, MPd yang merupakan salah satu penggagas mulanya di adakan Parade Gending Liturgi. Selain seorang praktisi dan pengasuh gamelan di beberapa GKJ di Yogyakarta, beliau juga seorang Dosen Jurusan Tari Institut Seni Indonesia Yogyakarta untuk mata kuliah iringan tari. Pak Gandung bercerita awalnya kerinduan menggagas acara semacam ini karena melihat saudara muslim yang begitu tercipta kerukunan ketika mereka mengadakan pengajian. Dalam konteks budaya, membangunan kerukunan dalam sebuah kelompok di kristiani itu susah. Siapa tahu melalui gamelan, kerukunan itu bisa tercipta antar jemaat dan antar gereja.

Kegelisahan tentang diadakannya Parade Gending ini, saat Pak Gandung mengasuh kelompok gamelan di GKJ Gondokusuman. Mulai dari gamelan yang dimiliki saat itu hanya terbuat dari besi sampai dengan suatu saat berganti dengan gamelan perunggu. Ditambah lagi dengan yang mulanya hanya ada 1 kelompok gamelan kemudian berkembang menjadi 3 kelompok. Hal ini merupakan sesuatu yang membanggakan bagi Pak Gandung selaku pelatih gamelan.

Dalam prosesnya parade gending ini juga dirumuskan pelan bersama penggagas yang lainya. Saat itu mulanya diadakan di GKJ Gondokusuman kemudian GKJ Patalan, disambung GKJ Bantul, lalu GKJ Sumberagung, dilanjutkan GKJ Brayat Kinasih dan tahun ini di GKJ Canden. Nyaris setiap tahun masih bergulir dan pesertanya selalu mengalami peningkatan. Yang tadinya hanya diikuti oleh 6 grup, kemudian bertambah menjadi 8 grup, lalu sempat stagnan, lalu 12 grup dan tahun ini diikuiti oleh 15 grup atau dari 15 gereja. “Dari sini bisa dilihat bahwa animo jemaat terhadap semakin mengalami peningkatan,” imbuh Pak Gandung.

Perumusan Parade Gending mulanya menggunakan kata Rohani untuk memberikan medium kreasi jemaat yang memiliki kreativitas mengaransemen lagu-lagu rohani dengan gamelan. Kemudian penyelenggaran tahun berikutnya menggunakan nama Liturgi, agar jemaat dan gereja juga memiliki kreativitas bagaiman jika lagu-lagu khusus liturgi ibadah bisa diaransemen dengan gamelan. Artinya perumusan ini dibuat berdasar pada pengalaman yang selama ini sudah berjalan di masing-masing GKJ. Dan hasilnya cukup mencengangkan karena setiap tahun animo jemaat semakin bertambah.

GKJ sebagai lembaga gereja mungkin perlu memberikan dukungan lebih terhadap perkembangan seni gamelan ini khususnya di Klasis Selatan. “Karena ada juga persoalan di beberapa gereja saat jemaatnya mulai memiliki minat dan kreativitas terhadap seni gamelan, namun secara birokrasi gereja belum memberikan dukungan secara optimal. Maka animo inilah yang sebenarnya perlu perhatian khusus,” paparnya.

Secara konteks kebudayaan dan visi kedepan, Pak Gandung menyatakan bahwa ranah kita itu gereja kristen Jawa. Maka dalam prakteknya kekayaan budaya Jawa yang dimiliki tidak sekedar ibadah berbahasa Jawa saja. “Gereja Kristen Jawa, Jawanya apa? Padahal lebih dari pada itu, kita masih memiliki kekayaan lain seperti adat berbusana Jawa, juga memiliki upacara adat Jawa dan musik gamelan Jawa. Inilah yang saya soroti ketika kita bicara konteks budaya Jawa. Dalam kesenian gamelan, rupanya mampu mewakili elemen itu semua. Karena berhubungan dengan pakaian adat Jawa, ibadah berbahasa Jawa dan ini bisa jadi media untuk mengembangkan kebudayaan Jawa. Coba bisa dibayangkan seandainya pada perayaan Natal misalnya ibadahnya menggunakan bahasa Jawa, musik liturgi menggunakan gamelan jawa, dan para pelaku gamelannya atau jemaat menggunakan busana adat Jawa? Bukankah itu semakin menambha khasanah kekayaan dan identitas Jawa kita,” tambahnya.

Harapan Pak Gandung untuk kedepanya melalui Parade Gending Litrugi “kita berusaha dengan benar agar mendapatkan hasil yang baik, belajar dengan benar pasti nanti hasilnya baik. Sudah ada emosi dari kelompok jemaat di beberapa GKJ untuk memiliki gamelan. Beberapa gereja juga sudah menghendaki ingin memiliki gamelan Jawa selain bisa menjadi pendukung interior gereja. Dan hal inipun semakin menambah karakter identitas budaya Jawa semakin kuat,” pungkasnya.

 

*Elyandra Widharta, performer dan jurnalis  (tulisan ini juga dimuat di Tabloid Mitra Indonesia edisi bulanan/125/Oktober 2018)

 

 


Gambar Terkait :

Share this :

Berita "Berita Gereja" Lainnya