Kenakalan remaja, bentuk dari kegagalan orang tua dalam mendidik anak

Kenakalan remaja, bentuk dari kegagalan orang tua dalam mendidik anak

( Oleh : Elys Sudarwati, SH )

 

Anak adalah harta yang tak ternilai di bandingkan dengan kemewahan duniawi. Pengaruh keluarga amat besar dalam pembentukan pondasi kepribadian anak. Keluarga yang gagal membentuk kepribadian anak biasanya adalah keluarga yang penuh dengan konflik atau tidak bahagia. Tugas berat para orang tua adalah meyakinkan fungsi keluarga mereka benar-benar aman, nyaman bagi anak-anak mereka. Rumah adalah surga bagi anak, dimana mereka dapat menjadi cerdas, baik serta beriman.

 

Masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian masyarakat secara khusus sejak terbentuknya peradilan untuk anak-anak nakal (juvenile court) pada 1899 di Illinois, Amerika Serikat. Kenakalan remaja pada akhir-akhir ini sangat meningkat dratis dan banyak macamnya. Kenakalan remaja menjadi hal yang perlu di waspadai dan lebih diperhatikan karena seiring berkembangnya seorang anak, sudah sewajarnya seorang remaja melakukan sebuah kenakalan. Selama kenakalan itu masih pada tingkat yang wajar. Banyak faktor yang menyebabkan kenakalan remaja yaitu faktor internal ( dari diri remaja ) dan faktor external ( yaitu baik dari pendidikan keluarga maupun pada lingkungan di luar ). Oleh karena itu peran orang tua dalam mendidik seorang anak apalagi remaja sangat diperlukan penanaman nilai, dan norma yang diberikan sejak dini dapat mempengaruhi sikap, perbuatan mental seorang anak untuk dapat memilah mana hal yang perlu ditiru, dan mana hal yang tidak patut ditiru, pada intinya seorang anak dapat melihat mana yang baik dan mana yang tidak baik. Apabila peran orang tua tidak maksimal sejak anak masih kecil, pada saat tumbuh menjadi seorang remajapun tidak menutup kemungkinan seorang remaja berbuat hal yang melanggar aturan. Seperti banyak contoh yang terjadi, seorang remaja kedapatan sedang merokok, meminum-minuman keras, sampai sex bebas dilakukan tanpa rasa bersalah. Hal itu karena tidak adanya pengawasan orang tua, atau kurangnya perhatian dari orang tua.

Disamping keluarga dan pendidikan formal, di sini harus ada pendidikan karakter bagi remaja, pendidikan karakter / pendidikan budi pekerti yaitu pendidikan yang melibatkan aspek pengetahuan, perasaan dan tindakan. Dengan pendidikan karakter yang di terapkan secara sistimatis dan berkelanjutan maka seseorang anak akan menjadi cerdas dalam mengelola emosinya. Karena kecerdasan emosi adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak dalam menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademi

Orang tua adalah orang yang bertangung jawab sepenuhnya terhadap pendidikan atas anaknya. Berhasil/tidaknya seorang anak akan terlihat / ditentukan peran orang tua yang mendidikan dan membesarkan anak dari kecil sampai dewasa. Figur orang tua dalam mendidik anak dapat di ibaratkan orang yang menulis di kertas kosong. Orang tua dapat dikatakan berhasil dalam mendidik anak yaitu mampu membentuk pribadi anak lebih baik untuk kehidupannya di masa depan, sehingga ketika sampai pada kesuksesan yang di raihnya, maka anak akan menjadi pribadi yang baik. Terlepas dari semua itu unsur agama yang di tamankan sejak dini oleh orang tua di rumah sangat mempengaruhi karakter anak dalam menyikapi setiap masalah yang di hadapi oleh anak khususnya anak yang menginjak remaja .

Oleh karena itu jadilah orang tua yang baik dan selalu mengikuti perkembangan zaman serta pintar, pintar dalam hal ini tidak harus yang berpendidikan, akan tetapi pintar dalam melihat situasi dan kondisi di saat anak kita menginjak remaja, serta berprilaku yang baik, karena didikan bukan hanya teori akan tetapi juga perbuatan. Pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari mulut seorang anak sebaiknya dijawab dengan jawaban yang jujur dan dapat memuaskan hati anak. Pendidikan moral dan kejujuran bagi seorang anak berawal dari kelurga, melalui orang tua. Hal ini yang dapat membentuk karakter anak di masa depan.Karena anak akan melihat dan meniru orang tuanya dalam berprilaku. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua, amin.


Share this :

Berita "Berita Lembaga" Lainnya