Bahan Pemahaman Alkitab HUT ke-86 Sinode GKJ

Bahan Pemahaman Alkitab HUT ke-86 Sinode GKJ

Menjadi Pemimpin yang Melayani

Matius 25:31-46


 

klik disini untuk mengunduh 


 

Sebelumnya, laki-laki itu adalah seorang kepala jurumasak (chef) dengan karier yang cemerlang di Taj Hotel, sebuah hotel berbintang lima di kota Bangalore, India. Kecemerlangannya terbukti dari jamak penghargaan yang berhasil ia raih di jagat seni memasak. Kecemerlangan itu pula yang membuatnya digadang-gadang menjadi kepala jurumasak di cabang Taj Hotel di kota Zurich, Swiss.

Namun sebuah peristiwa di tahun 2002 mengubah sama sekali jalan hidup laki-laki kelahiran tahun 1981 tersebut.Ketika itu, ia tengah berziarah ke sebuah kuil di kampung halamannya, di kota Madurai. Di sana, di bawah sebuah jembatan yang kebetulan dilewatinya, ia menyaksikan sebuah pemandangan yang begitu mengguncang batinnya.

"Saya menyaksikan seorang pria renta sedang memakan kotoran manusia karena begitu kelaparan," tuturnya dalam sebuah wawancara dengan awak media CNN.

"Hal itu begitu menyakitkan bagi saya. Saya sungguh-sungguh tercekat untuk beberapa saat, sebelum akhirnya bergegas memberikan makanan kepadanya. Seketika itu juga, saya memutuskan bahwa inilah yang akan saya lakukan sepanjang sisa hidup saya," imbuhnya.

Selanjutnya, ia berhenti dari kariernya yang begitu cemerlang dan menjanjikan di Taj Hotel. Berbekal tabungannya, ia mulai membaktikan hidupnya untuk memasak dan memberi makan para gelandangan di kota Madurai. Tidak hanya itu, tak jarang ia pun memandikan serta memotong rambut mereka.

Kiprahnya rupanya menarik simpati sejumlah pihak. Maka, pada tahun 2003, dengan dukungan sejumlah pihak tersebut, ia mendirikan Akshaya Trust, sebuah organisasi nir laba yang melayani kaum miskin di kota Madurai dengan menyediakan makanan, pengobatan, serta tempat bernaung secara cuma-cuma bagi mereka.

Nama laki-laki itu ialah Narayanan Krishnan. Ia adalah salah satu dari sepuluh CNN Heroes 2010 (Pahlawan-pahlawan CNN tahun 2010).

http://www.thextraordinary.org/media/k2/galleries/283/naranayankrishnan10.jpg

Kisah Narayanan Krishnan ini tidak hanya indah dan mengagumkan. Kisah ini juga sangat penting untuk dicamkan serta direnungkan, karena sedikitnya dua alasan.

Pertama, karena situasi dan kondisi di Indonesia sejatinya tidak jauh berbeda dengan situasi dan kondisi di India. Jika kita bersedia membuka mata-dan, terutama, nurani!-kita lebar-lebar, maka kita pun akan dengan mudah menjumpai wajah kemiskinan yang luar biasa (overwhelming poverty) di sekitar kita.

Boleh jadi, tetangga kita, warga gereja kita, bahkan mungkin anggota keluarga kita sendiri mengalami nasib yang tidak jauh berbeda dengan laki-laki tua yang disaksikan oleh Narayanan Krishnan di bawah jembatan kota Madurai. Mungkin mereka tidak sampai, secara harfiah, harus memakan kotoran manusia. Namun, bisa jadi mereka senantiasa harus berjuang mati-matian sekadar untuk bisa makan, membayar biaya pendidikan anak-anaknya, atau memiliki sebidang atap untuk bernaung.

Bukan hanya luar biasa, kemiskinan tersebut juga terasa semakin mengiris karena kesenjangan sosial dan ekononomi yang begitu mencolok. Mengenai kesenjangan ini, Revrisond Baswir (2016), seorang ekonom dari Universitas Gadjah Mada, misalnya, mencatat:

Menurut fakta yang sebenarnya, sebagaimana diungkapkan Bank Dunia, satu persen rumah tangga terkaya (di Indonesia) ternyata kini telah menguasai lebih dari separuh atau 55,3 persen kekayaan nasional, sedangkan 10 persen rumah tangga terkaya kini telah menguasai sekitar 77 persen kekayaan nasional.

Kedua, baik sebagai gereja, keluarga, maupun pribadi, pelayanan-pelayanan yang kita utamakan acap kali tidak terlalu mengindahkan situasi dan kondisi yang memrihatinkan tersebut-apalagi menjawabnya. Pelayanan-pelayanan yang kita kembangkan kerap kali bukan hanya tidak cukup mengindahkan kemiskinan yang merajalela di sekitar kita, tetapi juga cenderung membiarkan jurang kesenjangan di antara si kaya dan si miskin semakin melebar.

Dalam hal ini, kiranya, gejala atau tandanya cukup jelas. Ketika mendengar atau mengucapkan kata "pelayanan", misalnya, bukankah yang segera terlintas di benak dan pikiran kita adalah aktivitas-aktivitas seperti membawakan renungan atau khotbah, menyanyi baik sebagai pemandu pujian jemaat atau anggota paduan suara, bermain alat musik untuk mengiringi ibadah-ibadah atau perayaan-perayaan, maupun mengikuti beraneka rapat dan persidangan gerejawi? Jarang sekali kita membayangkan bahwa perjuangan seperti yang ditempuh oleh Narayanan Krishnan adalah bentuk "pelayanan", bahkan panggilan hidup Kristiani, yang perlu diutamakan serta dijalankan oleh setiap pengikut Kristus.

Padahal, dalam pemaparan Yesus Sang Kristus sendiri mengenai gambaran penghakiman terakhir dalam Injil Matius 25:31-467, justru bentuk-bentuk pelayanan seperti yang ditunjukkan oleh Narayanan Krishnan itulah yang membuat Anak Manusia yang bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya bersabda:

Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku (Mat. 25:34-36).

Lebih lanjut, Yesus Sang Kristus juga menegaskan, "Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari sudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku" (Mat. 25:40). Sebaliknya, Ia pun menandaskan, "Sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku (Mat. 25:45).

Bahkan, dengan sangat lugas dan keras, Yesus Sang Kristus sendiri menyatakan bahwa mereka yang tidak melayani atau melakukan apa pun bagi saudari-saudara-Nya yang paling hina "akan masuk ke tempat siksaan yang kekal"(Mat. 25: 46), yakni "api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya" (Mat. 25:41).

Namun, pada kenyataannya, pemaparan Yesus Sang Kristus yang begitu gamblang dan tajam ini sering kita anggap sepi belaka. Pada kenyataannya, bentuk-bentuk pelayanan seperti yang dilakukan oleh Narayanan Krishnan, alih-alih kita hayati sebagai suatu keniscayaan atau keharusan, justru kerap kali kita nomorsekiankan atau, bahkan, kita anggap berlebihan.

Alhasil, baik sebagai gereja, keluarga, maupun pribadi, kita pun acap kali terlalu menyibukkan diri dengan rupa-rupa pelayanan yang sedikit sekali-atau, bahkan, sama sekali!-tidak mengindahkan serta menyentuh mereka yang dinyatakan Yesus Sang Kristus sebagai saudari dan saudara-Nya yang paling hina.

Oleh sebab itu, adalah sangat tepat bahwa salah satu isu yang disoroti serta dipergumulkan dalam rangka menyambut dan merayakan Hari Ulang Tahun ke-86 Sinode Gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ) adalah "kepemimpinan yang melayani". Hanya dengan menumbuhkembangkan bentuk kepemimpinan yang melayanilah segenap anasir GKJ-baik pendeta, anggota majelis gereja, maupun warga jemaat-bisa melakukan segala sesuatu yang seharusnya dilakukan kepada mereka yang dinyatakan Yesus Sang Kristus sebagai saudari dan saudara-Nya yang paling hina.

Namun, seperti apakah bentuk kepemimpinan yang melayani tersebut? Kualitas-kualitas atau karakteristik-karakteristik apa sajakah yang mencirikan bentuk kepemimpinan yang melayani itu-yang mengkhaskannya dari bentuk-bentuk kepemimpinan yang lain?

Dalam karya pentingnya, The Servant as Leader, Robert K. Greenleaf menegaskan bahwa kepemimpinan yang melayani (servant leadership):

. . . berawal dari kerinduan kodrati di mana seseorang ingin melayani-pertama-tama ingin melayani, bukan dilayani. Kemudian, pilihan-pilihan serta tindakan-tindakan yang dibuatnya secara sadar membawanya kepada kepemimpinan . . . Sang pelayan, pertama-tama, berupaya memastikan bahwa kebutuhan-kebutuhan yang menjadi prioritas utama dari orang-orang di sekitarnya terlayani dan terpenuhi . . . Para pemimpin yang melayani akan mendadar dirinya sendiri dengan bertanya: Apakah orang-orang yang mereka layani bertumbuh secara manusiawi? Apakah orang-orang yang mereka layani menjadi semakin sehat, bijak, merdeka, mandiri, dan, bahkan, terdorong untuk juga melayani sesamanya? Serta, apakah dampaknya bagi orang-orang yang paling lemah di masyarakatnya-apakah mereka akan diberdayakan, atau justru semakin dimiskinkan? (1970: 15).

Dengan kata lain, kepemimpinan yang melayani adalah "suatu bentuk atau model kepemimpinan . . . yang menempatkan pelayanan kepada orang lain sebagai prioritas pertama" (Spears 1996: 33). Dan, kepemimpinan yang melayani ini memiliki setidaknya empat karakteristik utama, yakni (Smith 2005: 4-5):

  1. Pelayanan kepada orang lain. Kepemimpinan yang melayani bukanlah unjuk kuasa pun kewibawaan demi kepentingan diri sendiri. Kepemimpinan yang melayani didorong oleh kerinduan yang mendasar untuk menolong dan memberdayakan orang lain.

  2. Pendekatan yang utuh (holistic) kepada pelayanan. Kepemimpinan yang melayani senantiasa berupaya melayani dan memberdayakan orang-orang di sekitarnya secara utuh. Pemimpin yang melayani tidak sekadar menyibukkan diri, misalnya, dengan pelayanan-pelayanan yang bersifat rohani saja, tetapi juga secara serius mengembangkan pelayanan-pelayanan untuk memenuhi kebutuhan jasmani atau material orang-orang yang dilayaninya.

  3. Penumbuhkembangan kesadaran berkomunitas. Kepemimpinan yang melayani berupaya memugar kesadaran berkomunitas di tengah masyarakat yang semakin individualistis. Di dalam komunitas, masing-masing pribadi menjalankan peran kepemimpinan mereka dengan saling melayani satu sama lain.

  4. Pemerataan daya dalam pengambilan keputusan. Kepemimpinan yang melayani tidak memusatkan daya dan kuasa pada pribadi-pribadi atau kelompok-kelompok tertentu. Sebaliknya, kepemimpinan yang melayani justru menyemaikan suatu kondisi di mana masing-masing anggota komunitas diberdayakan serta dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan.

Lebih lanjut, secara khusus, para pemimpin yang melayani akan lebih memerhatikan dan, dengan demikian, mengutamakan pelayanan kepada mereka yang lemah dan hina dalam komunitas atau masyarakatnya. Dalam hal ini, bukan berarti para pemimpin yang melayani kemudian mengabaikan mereka yang kuat dan terhormat. Sebaliknya, para pemimpin yang melayani akan menginspirasi serta menggerakkan mereka yang kuat dan terhormat itu untuk juga ambil bagian dalam pelayanan kepada saudari dan saudaranya yang lemah dan hina.

Lantas, bagaimana kita bisa menumbuhkembangkan bentuk kepemimpinan yang melayani ini? Merujuk kepada buah permenungan Aloysius Pieris,  untuk menumbuhkembangkannya kita perlu "menjadi miskin secara injili dan, secara serentak, bergabung dengan mereka yang menderita secara sosial dalam perjuangan mereka demi meraih kebebasan" (2013: 89).

"Menjadi miskin secara injili" (becoming evangelically poor) di sini berarti menjauhkan diri dari segala bentuk ketamakan-ketamakan akan kekayaan, popularitas, kenyamanan, dan lain sebagainya (Pieris 2013:88). Dengan menjauhkan diri dari ketamakan, seperti halnya yang ditunjukkan oleh Narayanan Krishnan, masing-masing kita bisa melayani serta memberdayakan mereka yang menderita secara sosial di sekitar kita.

Dalam pidatonya, sesaat setelah terpilih menjadi pucuk pimpinan Gereja Katolik pada 13 Maret 2013, Paus Fransiskus menukas tandas, "Betapa saya rindu gereja rela menjadi miskin dan, dengan demikian, bisa hadir bagi mereka yang miskin!" Apa yang diutarakan oleh Sri Paus bukan hanya selaras dengan apa yang direnungkan oleh Pieris. Lebih dari itu, apa yang diutarakan oleh Sri Paus mengumandangkan kembali apa yang disabdakan dengan lugas dan tajam oleh Yesus Sang Kristus sendiri dalam Injil Matius 25:31-46.

Dalam merayakan dan memaknai Hari Ulang Tahun ke-86-nya, GKJ perlu sungguh-sungguh mencamkan hal ini. Sebagai bagian dari GKJ, setiap kita perlu menyadari panggilan Kristiani kita untuk menjadi pemimpin-pemimpin yang melayani, dengan menjadi miskin secara injili dan berjuang bagi dan bersama mereka yang menderita secara sosial di sekitar kita. Jika seseorang seperti Narayanan Krishnan bisa melakukannya, maka kita pun bisa. Permasalahannya adalah mau atau tidak mau, rela atau tidak rela, bersedia atau tidak bersedia.

Pertanyaan-pertanyaan untuk didiskusikan bersama:

  1. Di antara atau di sekitar kita tentu ada orang-orang yang dinyatakan Yesus Sang Kristus sebagai saudari dan saudara-Nya yang paling hina. Siapakah mereka? Apa saja yang menjadi kebutuhan dan pergumulan hidupnya?

  2. Hal-hal konkret apa saja yang sudah kita lakukan-baik sebagai gereja, keluarga, maupun pribadi-untuk melayani mereka? Di masa mendatang, bentuk-bentuk pelayanan konkret apa sajakah yang bisa dan perlu kita kembangkan untuk memberdayakan mereka?

  3. Kepemimpinan yang melayani seyogianya ditanamkan dan disemaikan sejak dini. Hal-hal konkret apa sajakah yang bisa dan perlu kita lakukan untuk menumbuhkembangkan kepemimpinan yang melayani di generasi muda kita?

Catatan: Hasil diskusi ini sebaiknya dicatat dan didokumentasikan dengan baik. Selanjutnya, hasil diskusi ini sebaiknya dicamkan dan dijadikan bahan pertimbangan bagi majelis gereja beserta segenap komisi, panitia, dan tim yang membantunya dalam mengembangkan pelayanan gerejawinya. Bahkan, hasil diskusi bisa dan perlu juga dicamkan serta dijadikan bahan pertimbangan dalam perencanaan pelayanan di aras klasikal maupun sinodal.

 

Daftar Pustaka

Baswir, Revrisond. 2016. "Kesenjangan Ekonomi." Kedaulatan Rakyat. 5 April 2016: 7.

Greenleaf, Robert K. 1970. The Servant as Leader. Newton Center, MA: Robert K. Greenleaf Center.

Pieris, Aloysius. 1980. "Towards an Asian Theology of Liberation: Some Religio-Cultural Guidelines." Asia's Struggle for Full Humanity: Towards a Relevant Theology. Ed. Virginia Fabella. Maryknoll, NY: Orbis Books.

__________. 2013. The Genesis of an Asian Theology of Liberation. Gonawala-Kelaniya: Tulana Research Centre for Encounter and Dialogue.

Smith, Carol. 2005. Servant Leadership: The Leadership Theory of Robert K. Greenleaf. www.carolsmith.us/downloads/640greenleaf.pdf.

Spears, Larry. 1996. "Reflections on Robert K. Greenleaf and Servant-Leadership." Leadership and Organization Development Journal, Vol. 17, No. 7: 33-35.


Share this :

Berita "Bahan Pembinaan Lainnya" Lainnya