Bigrafi Tokoh GKJ Seri 2

MENGENANG PENDETA JOSAPHAT DARMOHATMODJO

Josaphat dilahirkan pada tanggal 2 mei 1899 di desa Jambeyan, Sidorejo, Purworejo, Jawa Tengah, putra ketiga pasangan suami istri Sahat Salmon Singoredjo dan Priskilah Wagiyem. Setelah tamat dari Sekolah Dasar Schakel atau Standaard di Temon-Kulon Progo, Josaphat meneruskan sekolah ke Keucheniusschool (Sekolah Pendidikan calon Guru Keuchenius) yang diselenggarakan di Purworejo oleh Zending, yang pada tahun 1904 dipindahkan ke Yogyakarta, dan lulus pada tahun 1916, dan memulai pengabdiannya yang pertama sebagai guru pada Zending Volsschool (Sekolah Rakyat Zending) di Palihan-Temon, Kulon Progo. Pada tahun 1920 Josaphat menjadi Guru di Christelijke HJS di Purworejo.

Josaphat menikah dengan Elinah Iskak Karso pada tanggal 22 September 1925, dan dikaruniai dengan 11 orang putra-putri.  Pada tahun 1930 atas penunjukan Asisten-Residen Purworejo dan Bupati Purworejo, Josaphat Darmohatmodjo diangkat menjadi anggota Provinciale Raaad van Midden Java yang membidangi masalah sosial dan kemasyarakatan.

Dalam pemilihan calon Pendeta oleh jemaat Purworejo yang diadakan pada tahun 1932, terpilihlah Josaphat Darmohatmodjo. Pihak keluarga besar, sepenuhnya mendukung kesediaan Bapak Josaphat Darmohatmodjo menerima panggilan menjadi Pendeta Jemaat Purworejo, sekaligus bersedia membantu kebutuhan hidup keluarganya. Setelah melalui masa penggemblengan di Kursus Pendididkan Theologia pada DR. F.L. Bakker di Yogyakarta, majelis Gereja Kristen Djawa Tengah bagian Selatan (GKDTS) di Purworejo mengajukan permohonan kepada Klasis Purworejo untuk menyelenggarakan Sidang Klasis guna pelaksanaan ujian peremptoir pada tangggal 3 Mei 1933. Setelah Sidang Klasis mengesahkan kelulusan hasil ujian calon Pendeta yang diuji, Sidang Klasis menyerahkan kepada Majelis GKTDS Purworejo untuk ditindaklanjuti dengan penahbisan Pendeta.

Kamis, 25 Mei 1933, bertepatan dengan peringatan Hari kenaikan Tuhan Yesus ke sorga, ditetapkan sebagai hari penahbisan pendeta pertama GKDTS Purworejo dipimpin oleh Ds. A. F. kechenius. Langkah pertama yang dilakukan oleh Pendeta J. Darmohatmodjo setelah ditetapkan sebagai pendeta jemaat GKTDS Purworejo ialah mengatur dan menata pekerjaan pelayanan gerejawi di GKDTS Purworejo. Dalam kegiatan berorganisasi di tingkat Klasis Purworejo tahun 1934, Pdt. J. Darmohatmodjo dipilih menjadi sekretaris sidang klasis, demikian pula pada kegiatan di tingkat Sinode, pada Sidang Sinode III Gereja-gereja Kristen Djawa Tengah Bagian Selatan, yang mengambil tempat di Surakarta tanggal 23-25 Juli 1934 terpilih untuk duduk dalam kedeputatan Sinode. Di bidang pendidikan, Pdt. J. Darmohatmodjo bersama dengan beberapa tokoh gereja Purworejo, mengusahakan berdirinya sekolah Kristen swasta, jenjang pendidikan dasar dengan tambahan bahasa Belanda dan Sekolah Guru Normal Kristen dengan bahasa Belanda. Badan/ Yayasan pendiri sekolah tersebut bernama “Ngesti Wijoto”.

Pada tahun 1935 nama Pdt. J. Darmohatmodjjo di kalangan gereja-gereja melejit berkat gagasan dan prakarsanya untuk menyelenggarakan “Zending Lampoeng”. Dengan dukungan penuh Majelis GKDTS Purworejo, disampaikan usul kepada Klasis Purworejo, agar GKDTS memikirkan pemberian bantuan pemeliharaan rohani warga kolonisasi yang beragama Kristen, dan menerimanya sebagai “tugas pengutusan Injil”. Klasis Purworejo dalam sidangnya bulan April 1935 menerima usul ini dan meneruskannya kepada Sidang Sinode IV GKDTS tahun 1935 di Magelang. Karena menyangkut konsekuensi finansial yang berat, maka diangkatlah Tim Peneliti untuk melakukan kunjungan pengenalan dan penelitian daerah kolonisasi di Sumatera. Hasil laporan Tim Peneliti disambut gembira dalam Sidang Sinode V GKDTS tanggal 20-22 Juli 1936 di Purwokerto, dan lebih melihat zending di Lampung sebagai tugas gereja. Selanjutnya dalam Sidang Sinode VI GKDTS tanggal 4-7 Juli 1938 dan dalam Persidangan khusus yang berkenaan dengan Zending Lampung tanggal 31 Januari 1939, dengan memperhatikan begitu luasnya lahan serta besarnya biaya penanganan pekerjaan Zending Lampung oleh GKDTS, Gereja Gereformeerd di Negeri Belanda (GKN) bersedia memberikan bantuan sejauh GKDTS tidak berkeberatan. Sehubungan dengan penugasan Pdt. J. Darmohatmodjo menjadi Pendeta Utusan Gereformeerd Belanda di Surabaya untuk Gereja Gereformeerd Belanda di Makasar, GKDTS Purworejo selaku Gereja Pengutus meneruskan penanganan Zending Lampung, dengan sesekali mengadakan kontak dengan Pdt. J. Darmohatmodjo di Makasar.

Pada tanggal 13 Januari 1941, Majelis GKDTS Gondokoesoeman mengirimkan surat kepada Pdt. J. Darmohatmodjo di GKDTS Purworejo perihal penawaran menjadi Pendeta di GKDTS Gondokusuman. Setelah membicarakan dengan mendalam dalam rapat majelis GKDTS Purworejo, maka pada tanggal 6 Maret 1941 memberikan jawaban atas terpilihnya beliau menjadi Pendeta GKDTS Gondokusuman. Dan pada tanggal 1 Juni 1941 Pdt. J. Darmohatmodjo telah menjadi Pendeta GKDTS Gondokusuman, peneguhannya dilaksanakan pada tanggal 10 Agustus 1941. Kegiatan sebagai Pendeta diawali dengan pembekalan diri dengan membaca buku. Persiapan kotbah dilakukan sejak hari Senin untuk melayani kotbah di hari Minggu berikutnya. Perkunjungan warga diutamakan kepada warga yang sudah berusia lanjut dan sakit-sakitan, setiap perkunjungan dicatat dalam buku hariannya, atas prakarsanya sendiri beliau menyusun ulang daftar ulang warga jemaat dilengkapi dengan data pribadinya melalui buku induk. Perkunjungan juga dilakukan kepada rekan sepelayanan di Yogyakarta.

Menghadapi tahun-tahun terakhir pemerintahan Hindia-Belanda tahun 1941, Pdt. J. Darmohatmodjo menyiapkan dan menggerakkan gereja-gereja beraktivitas menuju tanggung jawab kemandirian gereja. Maret 1942, pada masa pendudukan oleh bala tentara Jepang, Pdt. J. Darmohatmodjo diserahi beberapa buku-buku dan arsip dalam bahasa Belanda yang diantaranya tembusan surat menyurat pendeta missioner dengan Gereja Pengutus di Negeri Belanda dan sebaliknya. Meski adakalanya pelayanan gerejawi di Yogyakarta tidak berjalan baik oleh karena terhambat oleh situasi dan kondisi yang makin berat, maka sejak Juli 1944 Pdt. J. Darmohatmodjo harus menyetujui keinginan penguasa Jepang untuk memakai gedung gereja Sawokembar di Klitren sebagai gudang. Dan baru pada tanggal 2 September 1945, kebaktian jemaat Gondokusuman sudah bisa menempati kembali gereja Sawokembar.

Hal yang menjadi keprihatinannya selama pendudukan Jepang ialah berhentinya kegiatan pemberitaan Injil. Segera setelah penguasa Jepang menyerah kepada sekutu dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, perjamuan kudus dapat dilakukan empat kali setahun. Memperhatikan perkembangan warga jemaat yang setiap tahun bertambah, Pdt. J. Darmohatmodjo bersama majelis mempersiapkan kelompok-kelompok jemaat untuk menjadi pepanthan, diantaranya Wirobrajan, Karangwaru atau Jatimulyo, dan Samirono, yang selanjutnya dipersiapkan menjadi jemaat dewasa. Kegiatan diakonia GKDT Gondokusuman juga behasil mendirikan sebuah Badan Sosial Kristen pada tahun 1946, dan pada tahun 1950 mendirikan Perawatan Reksa Putra.

Dalam beberapa persidangan sinode GKDT, Pdt. J. Darmohatmodjo juga ditugasi Deputat Kidung dan Mazmur, Deputat Hubungan antar Gereja, selain jabatan sebagai Pembina Rawatan Rohani Kristen Protestan di Pangkalan Angkatan Udara Maguwo.

Tanggal 3 November 1964, Pdt. J. Darmohatmodjo dalam usianya yang ke 65 tahun, setelah melayani selama 31 tahun, mengajukan surat permohonan emiritasi kepada majelis GKDT Gondokusuman, dan pada bulan Mei 1965 beliau berstatus emeritus. Pdt. J. Darmohatmodjo meninggal pada tanggal 8 Mei 1984, selama 19 tahun menjalani masa emiritasi beliau tidak banyak menjalani kegiatan di luar rumah, beliau dimakamkan di makam Kristen RS Bethesda Mrican, Yogyakarta.

 

Sumber : Biografi Tokoh GKJ Seri 2

Mengenang Pdt. Josaphat Darmohatmodjo, Penggagas Zending Lampoeng

Oleh Edi Trimodoroempoko,

Diterbitkan oleh TPK dan Lembaga Study dan Penelitian GKJ, tahun 2010


Share this :

Berita "Resensi Buku" Lainnya