PENJEMAATAN PROGRAM BERTEOLOGI LOKAL

26 September 2011

Petugas: Dyan Sunu, Setiyadi, Ki Atma, Agung Waskita Adi

Peserta: Utusan dari Klasis Blora-Bojonegara, Klasis Purwodadi (GKJ Lasem, GKJ Rembang, GKJ Blora, GKJ Njapah, GKJ Randu Blatung, GKJ Tuban, GKJ Pulo Kedung Tuban, GKJ Singgahan, GKJ Cepu, GKJ Purwodadi, GKJ Wirosari, GKJ Kradenan, GKJ Sulur, GKJ Sodo, GKJ Ngaringan, GKJ Gubug, GKJ Kaliceret).

Resume:

Percakapan dimulai dengan dipandu oleh Ki Atma yang menyampaikan bahwa kepentingan berteologi adalah kepentingan bagi semua pihak, karena berteologi adalah cara kita memahami sang Pencipta. Sehingga Sinode GKJ bersama dengan Lembaga PERCIK Salatiga berusaha menggeluti sebuah program yang diberi nama Program Berteologi Lokal. Pilihan kata “lokal” ini dibedakan dengan istilah “kontekstual” dikarenakan bukan sebuah upaya pembungkusan Kekristenan dengan budaya Jawa atau budaya setempat, namun lebih kepada upaya untuk menggali, menghormati dan memberi tempat kepada pemikiran dan pemahaman iman Jemaat yang tersedia di sekitar mereka.

Dalam sessi berikutnya Pdt. Setiyadi menjelaskan tentang program yang sudah dijalankan misalnya usaha untuk mengumpulkan buku-buku pendamping kegiatan berteologi lokal yang kemudian dikumpulkan dalam terbitan Anotasi Bibliografi Teologi Lokal. Sedangkan upaya yang lain adalah dengan mendorong para Pendeta Muda untuk melakukan riset kecil tentang pemahaman dan pergumulan iman di sekitar Jemaat mereka, hasil dari riset ini kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku yaitu “Menyimak Tuturan Umat”. Dalam prosesnya kemudian dihadirkan Teolog-Teolog dari lingkungan Akademis untuk menanggapi hasil dari program ini.

Menarik bahwa dari proses penjemaatan ini bahwa respon dari Gereja-Gereja sangat antusias. Dalam kehidupan Jemaat, pergumulan tentang Keris, upacara paska Kematian dan ritual yang lainnya tetap hidup di tengah-tengah mereka. Sehingga dalam kesempatan sharing bersama, terlihatlah bahwa pengalaman iman Jemaat sangatlah beragam. Misalnya Pekabaran Sabda melalui wayang, perlakuan dan penghormatan kepada Keris sebagai warisan budaya dan masih banyak lagi. Namun juga ditemukan bahwa ada kegamangan Jemaat dalam berteologi oleh karena mereka sudah dicabut dari akar budayanya dan kesulitan untuk kembali menemukan akar budaya mereka. Hal ini tidak bisa dipungkiri oleh karena proses misi yang dikerjakan oleh Zending dan para Misionaris.

Sebagai penutup dinyatakan bahwa berteologi lokal adalah upaya mensharingkan pengalaman iman yang terjadi dalam lingkungan/lokal tertentu. Jadi bukan sesuatu yang berasal dari luar atau bahkan tidak hidup di suatu lokal Jemaat tertentu. Sehingga tentu diperlukan sebuah usaha yang arif supaya kegiatan ini memperkaya pemahaman iman Jemaat kepada sang Pencipta.

Sumber : Pdt. Dyan Sunu Prakoso, S.Si

jpg


Share this :

Berita "Berita Sinode" Lainnya